LIFESTYLE & RELATIONSHIP

Isu Soal Keperawanan (2): Kali ini Tentang Tanda-tandanya!

By Yemima Lintang Khastiti   -   22 Mei 2012

Apa tanda perempuan yang masih perawanan? Dahinya licin? Ujung hidungnya kemerahan? Matanya berseri-seri? Telinganya bersih dan kemerahan? Pinggangnya ramping dan perutnya rata? Kamu percaya itu semua?

Banyak dari kita sampai sekarang bingung dengan batasan keperawanan. Berbagai opini muncul, tapi lebih banyak yang nggak terbukti kebenarannya. Hal yang paling umum hanya satu, sudah atau belum robeknya selaput dara. Tapi, ternyata hal ini nggak bisa dijadikan patokan. Sudah tahu kan, kalau selaput dara tiap perempuan memiliki elastisitas yang beragam, karena itulah nggak semua selaput dara perempuan robek pada saat mereka berhubungan intim untuk pertama kalinya. Ada yang robek dan berdarah setelah berkali-kali berhubungan, ada pula yang sama sekali nggak memperlihatkan tanda-tanda sudah robek ataupun masih utuh. Jadi, memastikan keperawanan dengan patokan selaput dara sama sulitnya dengan memastikan laki-laki masih perjaka atau nggak. Senada dengan pendapat dr. Mahindra Vatsa, dokter kandungan dan konselor seks, yang mengatakan bahwa nggak ada cara pasti untuk mengetahui seorang perempuan masih perawan atau nggak.

"Keperawanan yang selalu dikaitkan dengan aktivitas seksual hanyalah masalah stigma, padahal keperawanan nggak melulu berkaitan dengan seks."

Apa sih definisi keperawanan itu sendiri? “Seorang perempuan dapat dikatakan masih perawan jika organ intimnya belum pernah dimasuki organ intim pria. Demikian pula laki-laki dapat dikatakan perjaka jika belum pernah memasukkan organ intimnya ke dalam organ intim wanita,” jelas Syarif Niskala, penulis buku Agar Seks Tidak Salah Jalan. Jadi, robeknya selaput dara yang bukan disebabkan oleh penetrasi belum tentu mengartikan bahwa keperawanan perempuan sudah terenggut. Psikolog klinis Lita Gading pun mengungkapkan keperawanan yang selalu dikaitkan dengan aktivitas seksual hanyalah masalah stigma, padahal keperawanan nggak melulu berkaitan dengan seks. Kecelakaan saat berolahraga bisa saja menyebabkan selaput dara robek.

Saras, editor, 24 tahun, mengungkapkan, “Keperawanan wajib buat aku. Aku tipe perempuan tradisional banget. Petting? Nggak banget deh. Buatku sama aja sudah nggak perawan!” Sementara Netty, mahasiswi, 26 tahun, berpendapat, “Keperawanan jelas hilang saat making love, tapi sejauh cuma saling sentuh sampai saling merangsang, nggak ada kaitannya dengan keperawanan. Itu bumbu hubungan, dan sangat wajar dilakukan tiap pasangan supaya nggak bosan.”

Keperawanan dalam pengertian tradisional, dan yang diterima sebagai batasan universal memang dikatakan hilang saat pertama kali vagina dipenetrasi oleh penis. Seiring kemajuan teknologi, muncul pertanyaan-pertanyaan terkait dengan batas keperawanan. Perempuan yang melakukan seks virtual (cybersex), apakah masih bisa disebut perawan? Lesbian yang nggak pernah berhubungan seksual dengan laki-laki, bisa dianggap perawan? Atau, apa perempuan yang sudah petting masih masuk kategori perawan?

What do you think?

Write Your Comment

Articles you might be interested in

You don't want to Miss