NEWS & ENTERTAINMENT

Rory Asyari: Tentang Pekerjaan, Popularitas dan Perempuan

By Stanley Dirgapradja   -   16 September 2013

Kami memang jarang menampilkan sosok laki-laki. Tapi saat kami melakukannya, tentu dia adalah laki-laki yang bukan hanya profesional di bidangnya, tapi juga seru diajak ngobrol, and definitely... an eye candy. Yang satu ini, pasti sering kamu lihat di televisi. Semua yang kamu harapkan dari seorang pembaca berita di televisi, he has it all. Meet our Bachelor of The Month, Rory Asyari. Foto : Windy Sucipto

Rory Asyari

The passionate news anchor

Kami berkesempatan bertemu Rory setelah ia menuntaskan pekerjaannya membawakan sebuah program variety terkenal, di sebuah stasiun televisi berita Nasional. Karena jadwalnya yang cukup padat, kami hanya bertemu sebentar dengan laki-laki asli Solo itu.

“Karena industri ini ada di Jakarta, mau tidak mau memang harus ke Jakarta. Kalau ada di Bali, mungkin saya ke Bali,” kelakarnya saat kami menunjukkan keterkejutan kami, bahwa ia baru tiga tahun menjadi penghuni Jakarta. Hanya tiga tahun dan sudah punya karier yang mantap di Ibukota, not bad, right?

“Saya tahu dari awal, bahwa saya ingin jadi News Anchor. Jadi mulai kuliah di Universitas Sebelas Maret di Solo, saya ambil komunikasi dan fokus di Jurnalistik, Pertelevisian, serta Public Relation. Semasa kuliah sempat siaran di radio dan jadi pembaca berita di televisi lokal. Siaran di radio juga membantu menghilangkan dialek Jawa yang medok... maklum orang daerah, haha,” cerita Rory membuka perbincangan kami siang itu. Posisinya saat ini, menurut Rory adalah hasil pemetaan dan persiapan yang panjang, dan ia menyadari bahwa memang ia harus memulai dari bawah sekali.

Sama seperti news anchor lainnya di stasiun televisi tersebut, Rory juga menjalani waktu yang tidak sebentar untuk menggali ilmu di lapangan. ”Selama satu setengah tahun penuh, saya ditempatkan di lapangan sebagai reporter. Kebetulan waktu itu ditempatkan di desk politik, yang sangat saya sukai. Sampai sekarang juga dalam seminggu pasti ada liputan ke lapangan, masih di bidang yang sama” lanjutnya. Itu, yang menurutnya yang menjadi ciri khas tempat ia bekerja sekarang.  

“Berada di lapangan benar-benar mengasah kemampuan kita, sehingga selama masih jadi reporter itu adalah waktu untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya. Saya rasa masih ada stasiun televisi, di mana pembaca beritanya hanya duduk manis, mendapat naskah dan hanya membaca,” paparnya lagi.

What do you think?

Write Your Comment