Glodok. Ketika mendengar nama tempat yang satu itu umumnya orang langsung mengaitkannya dengan barang-barang elektronik dan berbagai macam produk DVD. Tapi, sayangnya nggak banyak yang tahu kalau Glodok menyimpan sisi lain yang sangat menarik untuk dijelajahi. Foto: Windy Sucipto
Glodok, daerah yang identik dengan etnik Tionghoa merupakan salah satu daerah bersejarah di Jakarta. Wilayah ini menjadi salah satu destinasi wisata budaya saat perayaan hari besar Tionghoa karena pada saat itu Glodok dipenuhi dengan berbagai pertunjukkan kebudayaan tradisional Tionghoa. Selain terkenal dengan kebudayaan Tionghoa dan sejarahnya, salah satu harta karun tersembunyi di daerah Glodok yang nggak banyak diketahui orang adalah kekayaan wisata kuliner yang terselip di jalan-jalan kecilnya.
Janji bertemu untuk berbincang-bincang dengan seorang pendiri komunitas makan-makan dan jalan-jalan di Jakarta, Azanaya, tim FIMELA.com diajak berkelililng Glodok oleh Lisa Virgiano. Obrolan dengan Lisa pun berlangsung selama perjalanan dari satu tempat ke tempat lain. Tempat pertama yang menjadi persinggahan kami adalah sebuah rumah yang terkenal dengan produksi kacang hijaunya.
Berawal dari hobi makan dan traveling-nya, Lisa mendirikan sebuah komunitas Azanaya dengan kegiatan bulanan yaitu mencicipi berbagai masakan tradisional dari daerah-daerah di Indonesia. “Saya sebenarnya tukang jalan-jalan dan tukang makan. Dan saya melihat potensi di Jakarta, banyak sekali orang yang nggak tahu dan nggak bisa meraskan masakan rumahan. Awalnya juga saya cuma keliling dari satu tempat ke tempat lain bareng teman-teman. Tapi, ternyata banyak yang punya hobi sejenis dengan saya. Akhirnya pada bulan Mei 2009 tercetuslah Azanaya, Underground Secret Dining,” tutur Lisa dalam perjalanan menuju Rumah Kacang Hijau.
Sesampainya di sebuah rumah yang terkenal dengan Es Kacang Hijaunya, Lisa langsung memesankan kami Es Kacang Hijau dan sebuah makanan tradisional yang disebut Mi Pan. Mi Pan merupakan salah satu makanan tradisional khas Tionghoa yang terbuat dari tepung beras dan dimakan dengan menggunakan campuran gula jawa dan bawang putih. “Ini adalah tempat dengan kacang hijau terbaik yang pernah saya coba. Tempat ini sudah buka sejak tahun 1974. Dan makanan ini (Lisa menunjuk Mi Pan) belum tentu semua orang tahu dan pernah coba, sekalipun orang-orang dari etnis Tionghoa. Hal-hal seperti ini yang harus dilestarikan,” Lisa menjelaskan sambil menyantap segelas Es Kacang Hijau.
Get our free fimela newsletter and stay in touch with the latest new and updates from your email inbox!
Comments
Login or Register to write a comment on this article