Lifestyle & Relationship

Srihadi Soedarsono, Mencerdaskan Masyarakat lewat Karya Seni

By Yemima Lintang Khastiti   -   5 June 2012

Pelukis kelahiran Surakarta, 80 tahun yang lalu, ini masih begitu bersemangat ketika diajak berbincang tentang seni, sejarah, karya-karyanya, sampai pernikahannya dengan sang istri, Sitti Farida Srihadi, yang hampir memasuki tahun ke-50. (Foto: Windy Sucipto)

Srihadi Soedarsono

Ditemui tim FIMELA.com sehari sebelum pembukaan pameran tunggal sekaligus peluncuran bukunya yang bertajuk Srihadi dan Seni Rupa Indonesia di ART: 1 New Museum, Rabu (30/05) lalu, Srihadi mengungkapkan beberapa hal tentang pemikiran dan karyanya yang ikut mencatat sekaligus mewarnai sejarah Indonesia, khususnya dalam bidang seni rupa Indonesia. Ia adalah salah satu perupa senior Indonesia yang perkembangan karyanya sekaligus menunjukkan sejarah panjang perjalanannya di dunia seni, baik lokal maupun internasional.

"Seniman harus menggugah masyarakat untuk ikut berpikir tentang bangsa dan negaranya. Itulah yang Srihadi lakukan dengan karya-karyanya."

Melalui 130 karya yang dipamerkan, 10 lukisan karya terbarunya dan karya lain yang merupakan koleksi pribadi yang dibuat sejak awal kariernya, Srihadi menceritakan kembali perjalanannya sebagai pelukis di tengah-tengah kehidupan sosial-politik serta budaya Indonesia yang terus berkembang, yang jadi inspirasi baginya dalam berkarya. Berbagai realitas itu ia gambarkan, juga kritik, dalam bentuk lukisan, sketsa, drawing, maupun print.

Lukisan cat airnya tahun 1973 berjudul Air Mancar, misalnya, memperlihatkan wajah Ibukota yang saat itu tenggelam dalam arus globalisme dengan berbagai papan reklame produk Jepang yang semrawutan. “Itu intuisi seniman, bagaimana melihat ketidakwajaran,” papar Farida, yang juga seorang pelukis sekaligus dosen kehormatan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Tapi, lukisan ini membuat Ali Sadikin (alm.), Gubernur DKI Jakarta ketika itu, geram sampai mencoret lukisan Srihadi dengan kata-kata makian, padahal tak paham maksud Srihadi melukiskannya dan menganggap Jakarta tak seperti yang Srihadi gambarkan. Mengaku salah mengartikan lukisan Srihadi, Ali Sadikin pun meminta maaf.

Berkaca dari kasus itu, Srihadi tak merasa gagal dan justru kian bersemangat mencerdaskan masyarakat lewat karya seni. Seperti yang diungkapkan Farida, seniman harus menggugah masyarakat untuk ikut berpikir tentang bangsa dan negaranya. Itulah yang Srihadi lakukan dengan karya-karyanya.

What do you think?

Write Your Comment

Articles you might be interested in

You don't want to Miss

Reeyot Alemu, perempuan jurnalis asal Ethiopia ini dipenjarakan oleh negara dengan tuduhan teroris!
Gaya hidup, genetik, dan stres. Ternyata 'stres' adalah faktor utama penyebab munculnya penyakit kanker.
Pernahkah kamu terpikir bahwa suatu saat kamu harus merasakan kehilangan salah satu fungsi anggota tubuhmu?
Yuk, kenal lebih dekat dengan para perempuan cantik dari Gudily, online shop yang menjual pernak-pernik party dan DIY.