Sukses

Beauty

Terbukti! Tubuh Gemuk Jadi Ketakutan Terbesar untuk Perempuan

Next

jessica simpson

Let’s be honest, apa ketakutan terbesar yang jadi momok umum untuk perempuan? Ya, jawabannya adalah bentuk tubuh. Seringkali terdengar omongan bernada mengeluh yang meributkan soal paha lebih besar dari biasanya, perut menyembul sedikit setelah makan, atau lengan yang terlihat “tebal” ketika difoto. Dari pengamatan yang bermula dari ladies’ room talk, kami lalu membawanya ke polling pada awal bulan ini untuk mencari tahu, apakah kamu di luar sana berpikiran sama dengan kebanyakan perempuan yang takut gemuk.

Dan hasilnya, ya memang benar kalau kegemukan adalah ancaman nomor satu untuk kecantikan. Dari 500 responden yang turut berpartisipasi dalam polling kami, sekitar 300 orang menjawab kalau mereka menolak untuk gemuk. Alasan tertingginya adalah karena susah untuk membeli pakaian!

“Saya suka fashion dan ikut mencoba apa yang sedang tren. Saya pernah merasakan bagaimana mirisnya nggak bisa ikut memakai item yang sedang in karena tubuh saya gemuk dan ukuran untuk saya nggak ada. Makanya, hampir dua tahun belakangan ini saya diet ketat dan berolahraga keras untuk mendapatkan bentuk tubuh yang saya mau. Sejauh ini sudah memperlihatkan hasil dan mendapatkan pujian dari orang-orang. Terbukti kan kalau bertubuh kurus lebih diterima dan disukai oleh orang?”, cerita Indri, 31 tahun, karyawati bank swasta, tentang jatuh bangunnya memiliki dan menolak bentuk tubuhnya sendiri.

Tubuh gemuk juga ditolak oleh 105 perempuan responden kami karena membuat mereka tak cantik lagi. Konstruksi kecantikan yang digembar-gemborkan melalui propaganda bisnis kecantikan, masih saja mempengaruhi banyak Kaum Hawa untuk percaya kalau wajah tak tirus, perut tak ramping, dan kaki tak semampai berarti tak cantik. Tak percaya? Ini pengakuan Ratih, 29 tahun, account manager sebuah digital agency, tentang kenapa hampir setengah usia hidupnya dihabiskan untuk berdiet.

“Tubuh gemuk itu nggak ada bagusnya untuk saya. Saya pernah habiskan satu hari di dalam kamar untuk membongkar koleksi foto lama saya dan literally bergidik ketakutan ketika melihat gambar lama saya yang masih tembem dan ‘tebal’. Salah satu foto terburuk, lalu saya tempel di pintu kamar dengan maksud agar setiap kali saya keluar dari ruangan tersebut, saya akan selalu ingat apa tujuan utama saya, yaitu jangan pernah lagi bertubuh seperti itu,” akunya lugas.

Next

 

body

Tapi, benarkah semua perempuan di sekitar kita berpikiran sama seperti itu? Nyatanya tidak, karena 200 orang dari responden dengan bangga memilih opsi tak takut gemuk karena merasa mereka cantik apa adanya.

“Saya lahir dan hidup dengan tubuh gemuk. Pernah beberapa kali mencoba program penurunan berat badan, namun itu tak berlangsung lama. Prinsip saya, lebih baik gemuk tapi sehat dan bahagia, daripada harus dihantui dengan ketakutan tak berdasar seperti takut gemuk,” kata Lita, 35 tahun, guru taman kanak-kanak, tentang perjalanannya menerima tubuh aslinya.

Selain mereka yang percaya diri dengan kecantikan apa adanya, pemilih terbanyak di polling ini juga mengumpulkan suara di opsi kecantikan bukan ditentukan dari kriteria ideal orang lain. Perempuan lahir dengan macam-macam keunikan yang tak bisa disamaratakan begitu saja, maka itu berlaku juga untuk bentuk tubuh.

“Saya pernah dengan secara langsung dikatakan jelek dan disuruh untuk berdiet oleh seseorang karena dikatakan kalau gemuk itu tak cantik. Cukup kaget dengan perintah mendadak itu, saya dengan tegas mengatakan kalau saya punya hak untuk memperlakukan seperti apa tubuh ini, jadi tak ada siapa pun yang bisa mengatur bagaimana seharusnya saya berpenampilan. Saya merasa, untuk beberapa orang tubuh gemuk itu adalah sebuah gangguan dan mereka tak bisa menahan diri mereka untuk tak berkomentar negatif pada orang lain,” cerita Rahma, 35 tahun, staf administrasi, tentang pengalamannya menghadapi komentar dari lingkungan sekitar tentang tubuh gemuk.

Terlepas dari mereka yang memilih takut/tak takut gemuk, pembicaraan tubuh memang seharusnya menjadi urusan personal pemiliknya. Sigi Wimala, model dan aktris, mengakui bahwa ia pernah berada di suatu masa dimana ukuran tubuh adalah segalanya dan dikoreksi oleh orang lain tentang hal tersebut adalah sebuah “kejahatan”. Namun, ia akhirnya bisa berhenti menjadi pribadi yang sensitif dan jauh lebih bahagia setelah menerima tubuh apa adanya dengan berhenti membandingkan tubuh orang lain dengan miliknya. Pepatah “rumput tetangga lebih hijau”, nyatanya memang terjadi di semua aspek, termasuk bentuk tubuh. Sekarang, tinggal kamu, sang pemilik tubuh, yang menentukan jalan pikiranmu. Be happy or be (not) fat?

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading