Sukses

Beauty

7 Pelajaran Penting Soal Makeup dari Perjalanan Karier Bobbi Brown

Jakarta Akhir tahun 2016 lalu, dunia kecantikan dikejutkan dengan berita brand kosmetik Bobbi Brown ditinggalkan oleh pendirinya, Bobbi Brown. Dalam waktu 25 tahun, makeup artist ini telah menempatkan brand kosmetiknya sebagai salah satu brand premium dan paling laris yang dijual di lebih 70 negara. Mengikuti kabar hengkang ini, Bobbi Brown menulis sebuah surat di halaman Refinery29 yang berisi kenangan perjalanan membangun brand kosmetik ini, juga rencana yang akan dijalaninya selepas meninggalkan perusahaannya.

“Bulan Februari 1991, Bobbi Brown Essentials didirikan di atas meja kecil Bergdorf Goodman yang berada di lantai makeup ikonik kota New York. Aku dan suamiku Steven dengan dua partner bisnis kami Rosalind dan Ken Landis mendirikan perusahaan ini dengan satu tujuan:mengajarkan perempuan bahwa makeup bisa sangat simple.

Tapi sebenarnya bisnis ini sudah berjalan beberapa tahun sebelum akhirnya resmi didirikan. Saat baru menikah dan tengah mengandung, aku pindah ke New York dan memutuskan untuk istirahat sebagai makeup artist editorial. Saat itu aku punya ide menciptakan lipstik yang memiliki warna serupa bibir. Dan berkat pengalamanku sebagai makeup artist, aku tahu bahwa tidak ada warna lipstik yang bisa benar-benar sama dengan warna bibir. Kemudian aku mendesain koleksi 10 lipstik dengan shade dasar warna cokelat yang creamy, matte, tidak beraroma, dan dapat dikombinasikan serta diratakan sesuai dengan warna kulit masing-masing individu. Konsep sederhana sebenarnya, tapi jadi gerakan revolusioner pada saat itu.

Aku menjual koleksi lipstikku ini dari rumah dengan mengirimkan atau memberikannya langsung pada mereka yang sudah tahu produkku dari mulut ke mulut. Saat itu, lipstikku dikemas dalam amplop manila yang disertai dengan kertas bertuliskan komposisi bahan. Ketika beauty editor Glamour, Leslie Seymour, menulis soal lipstikku ini, di saat itulah banyak panggilan berdatangan. Setelah beberapa kali kesempatan menjual lipstik pada para pembeli kosmetik di Bergdorf Goodman, akhirnya untuk pertama kalinya kami menjual lipstik di counter pada Februari 1991. Empat tahun kemudian, kami menjual perusahaan kami pada Estee Lauder dan aku tetap bergabung sebagai Chief Creative Officer.

Ternyata makeup punya makna yang lebih. Lebih dari dua dekade, aku berkesempatan membagikan filosofi kecantikanku pada semua perempuan di dunia. “Jadilah dirimu sendiri” adalah mantraku, dan aku bangga karena mantra ini menggema di antara perempuan di semua umur. Sebagai seorang makeup artist, yang aku sadari adalah aku lebih bahagia dan percaya diri saat aku tidak membandingkan diriku dengan para model yang aku dandani, seperti Cindy, Naomi, Christie, Linda, dan Helena. Fisikku tidak seperti mereka dan seharusnya kita tidak merasa sedih dengan hal tersebut.

Aku lebih menyarankan untuk menjadi diri sendiri yang otentik dan terbaik. Aku memandu perempuan menciptakan kulit lembut dengan aplikasi foundation yang terlihat memudar di wajah (berkat formula yellow-tone ciptaanku). Dibanding fokus pada bentuk blush, aku lebih mendorong mereka untuk menonjolkan rona alami yang biasa kita lihat setelah lelah berlari. Dengan bentuk mata indah yang mereka miliki dari lahir, aku membantu mata mereka terlihat stand out. Dengan rendah hati aku katakan bahwa aku tidak sekadar mengajari perempuan soal makeup, tapi juga memulai sebuah gerakan soal kepercayaan diri dan penghargaan diri.

Beberapa tahun ini, rasanya mengagumkan melihat banyak munculnya beauty entrepreneur muda – sama seperti aku yang memulai karier di usia muda. Tapi aku juga agak kecewa melihat beberapa trend seperti contouring yang membuat perempuan muda jadi merasa butuh sesuatu yang membuat mereka berbeda dari mereka yang sebenarnya.

Aku berharap mereka sadar bahwa makeup lebih untuk menonjolkan kecantikan, bukan menutupi wajah. Dan kecantikan yang hakiki terletak pada kesehatan dan vitalitas kita. Maka dari itu, aku berencana jadi bagian revolusi baru kecantikan, sama seperti 30 tahun yang lalu.

Menulis surat ini, aku terharu: sedih meninggalkan perusahaan sekaligus antusias karena ada jalan untuk menyampaikan pesanku ini. Kesimpulannya, aku beruntung, bersyukur, dan lebih optimis dari sebelumnya terhadap apa yang akan aku jalani nanti.

Stay tuned….

Bobbi”

;
Loading