Sukses

Beauty

Tren Skin Fasting, Benarkah Berdampak Baik bagi Kulit?

Fimela.com, Jakarta Rutinitas harian kerap membuat seseorang lelah sesampainya di rumah. Tak jarang, hal tersebut kemudian berdampak pada timbulnya rasa malas untuk membersihkan wajah, bahkan untuk memulai rutinitas skincare. Pelembap, serum atau masker pun akhirnya terlewatkan karena badan yang tak mau bekerja sama. Alhasil, kulit wajah pun jadi kusam dan mudah timbul jerawat. Bicara soal merawat kulit, belakangan ini banyak orang mulai melakukan skin fasting, lho! Ada yang tahu atau bahkan tengah mencobanya?

Penjelasan Mengenai Skin-fasting

Skin fasting merupakan 'puasa' menggunakan beberapa produk skincare untuk mengistirahatkan kulit dari terpaan bahan kimia. Tren ini pertama kali diperkenalkan oleh sebuah perusahaan skincare Jepang, Mirai Clinical. Pada dasarnya, mereka percaya dengan tradisi terdahulu bahwa puasa dapat bekerja sebagai mekanisme penyembuhan tradisional. Dermatologis Jepang juga percaya bahwa kulit beregenerasi tiap bulannya dan membuktikan skin fasting bisa menjadi cara untuk mendetoksifikasi kulit.

Kulit Harus ‘Bernafas'

Dikutip dari Bustle, Mirai Clinical mengatakan bahwa mereka percaya kulit memiliki kemampuan untuk merawat dirinya sendiri selama kita memberi kesempatan. Maksudnya, setidaknya kamu perlu memberi kulit ‘istirahat’ dari beragam produk perawatan, agar kulit berkesempatan untuk bekerja sendiri memperbaiki permasalahan di dalamnya.

Secara ilmiah, kulit merupakan organ yang unik. Selain berfungsi sebagai lapisan sensorik dan pelindung bagi organ-organ lainnya, kulit juga dapat ‘bernafas’. Dalam arti, sel kulit dapat bertukar gas dari pembuluh darah di dalam tubuh. Itu sebabnya, beberapa orang percaya bahwa makeup terlalu tebal membuat kulit susah bernafas karena bisa saja menyebabkan pori-pori tersumbat.

2 dari 3 halaman

Kulit Bisa Lembap dengan Sendirinya

Kulit menghasilkan zat minyak atau biasa kamu kenal dengan istilah sebum. Sebum ini terdiri dari berbagai asam lemak yang mencegah kulit dehidrasi, sehingga pada dasarnya kulit memiliki sistem pelembap sendiri. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa produk perawatan kulit harus disusun menyerupai pola molekul sebum, sehingga pertukaran gas dalam sel kulit pun tidak terhambat. Bisa jadi, inilah yang menjadi alasan dasar terciptanya metode skin fasting, di mana seseorang berpuasa dari produk skincare untuk meminimalisir dampak buruk dari produk.

Waktu yang Tepat Mencoba Skin-fasting

Walaupun kamu skeptis terhadap metode puasa kulit ini, setidaknya beberapa orang pernah mencoba skin fasting dan mengatakan hasilnya cukup memuaskan. Jika kamu penasaran dan ingin membuktikannya sendiri, menurut Woman & Home, kamu dapat mencoba skin fasting ketika pergantian musim. Lakukan hal ini selama dua hingga tiga minggu. Kabar baiknya, melalui metode ini dapat melihat produk skincare mana yang kiranya tak berguna ketika kamu gunakan karena kulit dapat mengatasinya sendiri.

Sebagai saran, skin fasting tak akan bekerja dengan baik ketika kamu sedang menjalani perawatan jerawat atau eksim, karena kulit tentu memerlukan perawatan tambahan. Mirai Clinical juga memberi pedoman tambahan untuk skin fasting kamu, yakni dengan mencuci muka menggunakan air hangat, minum air putih, dan cobalah untuk pergi keluar tanpa bantuan produk skincare.

Melalui penjelasan diatas, kita belajar bahwa secara teknis dipastikan kalau sel kulit dapat bekerja sendiri, namun sel kulit yang sehat juga tergantung pada nutrisi yang kamu konsumsi. Itu sebabnya, makanan yang sehat pun mempengaruhi kerja kulit dari dalam, sedangkan skincare membantu perbaikan dari luar. Nah, dari penjelasan skin fasting ini apakah kamu tertarik mencobanya?

Baca juga: Skip Care vs 10 Steps Skin Care, Mana yang Jadi Pilihanmu?

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini

#GrowFearless with Fimela

Loading
Artikel Selanjutnya
Tips Saat Kulit Wajah Timbul Keriput untuk Pertama Kalinya
Artikel Selanjutnya
Masalah Kulit yang Biasanya Muncul Ketika Bangun Tidur dan Cara Mengatasinya