Sukses

Beauty

Mengenali Alergi Anestesi Sebelum Melakukan Prosedur Kesehatan

Fimela.com, Jakarta Beberapa hari lalu, masyarakat Indonesia cukup dikejutkan dengan penampilan wajah Jessica Iskandar yang tampak tak seperti biasanya. Perempuan yang lebih sering dipanggil Jedar tersebut mengunggah beberapa foto di akun Instagramnya yang menunjukkan kondisi wajahnya yang dipenuhi dengan bercak dan ruam kemerahan. Jedar menerangkan bahwa bercak tersebut muncul karena alergi anestesi yang ia alami saat akan melakukan prosedur kecantikan. Dapat terjadi pada siapa saja, sebenarnya alergi ini cukup langka, lho! Lantas apa sebenarnya alergi anestesi dan mengapa hal tersebut dapat terjadi?

Alergi anestesi dan penyebabnya

Tak berbeda jauh dengan alergi pada umumnya, alergi pada anestesi adalah sebuah reaksi di mana tubuh tidak mampu menerima dan menangkap kandungan dalam anestesi, sehingga menyebabkan respon tubuh yang berbeda. Alih-alih terbius, tubuh justru mengalami beberapa anomali yang lalu disebut sebagai alergi. Alergi ini termasuk langka di dunia dan tidak mudah ditemui. Bahkan, menurut data dari British Journal of Anesthesia, hanya ada 1 orang di antara 10.000 yang mengalami alergi akibat anestesi.

Penyebab alergi anestesi cukup beragam. Salah satunya adalah tubuh yang telah terpapar berbagai substansi sebelum proses pembiusan dilakukan. Hal ini dapat terjadi karena konsumsi obat, penggunaan produk topikal, hingga gaya hidup yang dipengaruhi faktor tertentu. Pemicu dari alergi ini timbul dari agen penghambat neuromuskuler (NMBA) dalam obat anestesi yang seharusnya bekerja mencegah pergerakan otot saat anestesi dilakukan.

Jenis-jenis dan gejala alergi anestesi

Reaksi alergi anestesi yang paling umum terjadi di permukaan kulit yang ditkamui dengan ruam kemerahan seperti kasus Jedar. Namun, selain itu ada beberapa reaksi alergi anestesi lainnya yang dapat terjadi. Mulai dari kesulitan bernapas, hingga yang paling parah dan dapat mengancam nyawa, yaitu anafilaksis.

Anafilaksis adalah salah satu jenis alergi anestesi yang paling berbahaya karena dapat menyebabkan kematian. Gejalanya pun bervariasi, seperti hilangnya kemampuan saluran pernapasan untuk menarik oksigen, ruam kemerahan, bibir bengkak, hingga muntah-muntah.Anafilaksis kerap terlihat seperti gejala alergi biasa, namun setelah 30 menit biasanya gejala akan makin berat. Jika kondisi ini terjadi, maka dibutuhkan penanganan tenaga medis profesional segera, karena kondisi anafilaksis dapat mematikan.

Selain anafilaksis, ada pula jenis alergi lainnya, yakni hipertermia ganas. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh garis keturunan. Reaksi alergi ini sendiri ditkamui dengan demam dan kontraksi otot yang dapat menyebabkan kegagalan organ jika tidak segera diatasi.

Cara mengatasi dan menghindari alergi anestesi

Alergi anestesi dapat ditangani dengan mengobati gejala dan efeknya. Misalnya, pada kasus anaflaksis maka penanganannya dapat dilakukan dengan prosedur injeksi epinefrin (adrenalin) yang perlu dilakukan oleh tenaga medis profesional.

Untuk menghindari alergi anestesi, cara yang paling efektif adalah dengan melakukan tindakan pencegahan untuk meminimalisir risiko terjadinya alergi anestesi. Misalnya dengan menginformasikan pada dokter atau ahli anestesi yang menangani kamu tentang riwayat kesetahan kamu. Informasi riwayat kesehatan ini meliputi konsumsi obat, menu diet, hingga riwayat alergi anestesi di keluargamu.

Informasi ini akan sangat membantu dokter, perawat, dan ahli anestesi dalam menentukan jenis anestesi yang cocok serta metodenya untuk kamu. Tak hanya itu, sebuah tes juga bisa dilakukan untuk mengetahui apakah tubuh kamu memiliki alergi pada anestesi sebelum melakukan prosedur kesehatan ataupun perawatan kecantikan di klinik tertentu.

Baca juga: Tips Memilih Tempat Perawatan Kecantikan yang Aman dan Terpercaya

#GrowFearLess with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
5 Rekomendasi Produk Skincare Berkandungan Blueberry
Artikel Selanjutnya
5 Rekomendasi Eyeshadow Bernuansa Pink untuk Tampilan Feminin