Sukses

Entertainment

“Lewat Djam Malam”, Upaya Restorasi Warisan Budaya

lewatdjam

Photo: New.rumahfilm.org & Actionmagz

Satu setengah tahun lebih melewati proses restorasi yang rumit dan membutuhkan biaya amat tinggi, film arahan sutradara nasional legendaris Usmar Ismail “Lewat Djam Malam” (After The Curfew) bisa kembali disaksikan oleh publik pecinta film tahun ini. Nggak hanya pecinta film tapi juga mereka yang menghargai sebuah maha karya yang sudah jadi warisan budaya sebuah bangsa.  Ya, pemutaran kembali film ini bukan hanya sebuah usaha untuk menikmati kembali karya seni, tapi melihat jejak rekam sejarah bangsa. Kenapa?

“Lewat Djam Malam” mengisahkan hidup seorang bekas pejuang yang kembali ke masyarakat dan berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi hidup yang asing baginya. Film yang menjadi film pertama dari Indonesia untuk diputar di festival film sekelas Cannes Film Festival (diputar bulai Mei lalu tanggal 17) ini harus melewati proses restorasi selama satu setengah tahun di Italia. Proses restorasi itu sendiri menjadi mungkin oleh inistiatif dari tiga badan pemerhati film nasional yaitu Konfiden, Kineforum dan Sinematek.  Tiga badan ini bekerjasama dengan Nasional Museum of Singapore dan membawa film yang hampir musnah oleh jamur itu ke L’Immagine Ritrovata di Bologna, Italia. Satu-satunya laboratorium film di dunia yang mengkhususkan diri pada usaha-usaha restorasi film.

Proyek restorasi film yang memang memiliki nama besar (karena sutradaranya sendiri adalah Bapak Perfilman Nasonal)  itu kemudian didanai oleh World Cinema Foundation  (WCF) yang ikut membiayai proses restorasi. Salah satu pendiri WCF adalah sutradara besar Martin Scorsese. Penulis buku Katalog Film Nasional, mantan wartawan dan juga penulis JB. Kristanto yang juga ambil bagian dalam proses restorasi ini mengatakan bahwa “Lewat Djam Malam” memiliki kualitas bercerita dan muatan historis luar biasa. Memperlihatkan sebuah periode di mana sebuah bangsa mengalami transisi menjadi sebuah bangsa yang merdeka.

Ini akan jadi sebuah kesempatan berharga bagi kita Fimelova. Melihat kembali sebuah film yang nggak hanya menjadi rekam jejak sejarah. Tapi juga menjadi momen untuk belajar. Bila saat ini sebuah film yang amat berharga bisa dikembalikan, bisa kita saksikan setelah hampir mati karena usia, maka film-film lain juga bisa kita berikan perlakuan yang sama sebelum mereka benar-benar musnah. Arsip-arsip film yang sudah cukup lama rentan pada perubahan cuaca. Ketidakpedulian kita akan menghilangkan film-film itu selamanya. Bila saat ini usaha restorasi “Lewat Djam Malam” disponsori sebagian besar oleh institusi asing, maka berikutnya harus dari kita sendiri. Catch this film starting next week in theaters near you. Sangat kami rekomendasikan.

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Film Dokumenter “Bara (The Flame)” Suarakan Isu Lingkungan di Kalimantan
Artikel Selanjutnya
Aktif Berakting, Dikta Pastikan Tak Tinggalkan Dunia Musik