Sukses

Entertainment

Tayangan Televisi Berikut Layak Segera Dihentikan Penayangannya

Next

Love in Paris

Jaringan-jaringan televisi di luar negeri berlomba-lomba menghadirkan tontonan yang berkualitas. Populer atau tidaknya sebuah program televisi tentu bisa dilihat dari konten yang bagus, dan pencapaian rating di jaringan. Beberapa pekan terakhir, jaringan televisi unggulan di Amerika mengumumkan beberapa program televisi yang masih bertahan, sekaligus mengumumkan tayangan-tayangan yang akhirnya diberhentikan di tengah jalan. Hal ini memperlihatkan bahwa penonton yang pintar mampu menyeleksi konten bagus seperti apa yang mereka ingin tonton.

Faktanya memang, penonton di Indonesia (mungkin) kurang cerdas. Kebanyakan tidak peduli tayangan seperti apa yang mereka tonton. Tayangan-tayangan televisi diserap tanpa saringan intelektual yang cukup. Membuat program televisi itu gampang-gampang susah. Tapi di Indonesia tampaknya membuat program televisi itu gampang. Dengan skenario seadanya, masukan talent berwajah oke, ada tim produksi cukup jadi modal awal untuk sebuah program televisi.

Sekian banyak program televisi, terjadi distorsi realita dan kultur yang membombardir kita sebagai penonton. Lembaga sensor yang ada di Tanah Air kurang menunjukkan peran mereka sebagai institusi yang menjadi pagar awal munculnya tayangan berkualitas untuk warga negara. Peran mereka untuk melakukan sensor film cukup jelas. Namun di level tayangan televisi, tugas mereka nampak belum dilaksanakan dengan baik. Karena beberapa tayangan yang ingin kami ulas di bawah ini, dengan alasan buruknya masing-masing, toh ternyata masih tayang. Tayangan televisi favorit, di Indonesia, belum tentu bermanfaat.

Lembaga Sensor Film (LSF) dalam hal ini Ketua LSF Bp Dr.Mukhlis PaEni bersama anggota LSF, kabarnya sudah kerap menyampaikan masukan kepada produser dan penulis skenario agar dapat membuat karya yang lebih positif. Namun pernyataan ini masih sebatas wacana nampaknya, karena belum ada tindakan cukup real mengawasi dan memberlakukan aturan ketat terhadap program televisi yang bisa saja memunculkan masalah.

Tapi membuang program televisi dari jaringan bukan hanya masalah konten, tapi juga pengemasan yang manis. Dan di jaringan televisi nasional, kita dengan mudah menemukan program-program yang nampak dibuat dengan ‘asal’ namun masih bisa menemukan jam tayang reguler.

Profesor bidang komunikasi University of Pennsylvania Kathleen Hall Jamieson memaparkan, kekuatan televisi ada di sisi dramatisasi dan sensasionalisasi isi pesan. Nggak heran, tayangan reality show mendapatkan tempat tersendiri beberapa tahun terakhir di industri pertelevisian.

Dede Mulkan, M. Si, dosen pengajar di Jurusan Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran memaparkan dalam sebuah tulisannya yang berjudul “Mengapa Tayangan Televisi Harus Kita Kritisi,” para penonton televisi mau tidak mau harus kritis terhadap tayangan televisi, bila tidak ingin kehilangan ‘generasi potensial’ di masa mendatang.Masih mengutip Dede, Jika tayangan televisi dibiarkan “semau-mau” para pengelolanya, akan kemana arah perkembangan generasi potensial kita di masa mendatang? Dede juga mengajak agar penonton bisa cerdas mencari tontonan televisi yang cerdas.

Next

Sedap Malam

Kami mulai dengan sinetron “Love in Paris.” Serial ini tayang di SCTV. Terlepas dari jajaran bintang tampan dan cantik, juga atmosfir Paris yang mereka tawarkan, serial satu ini sempat terbelit masalah. Beberapa waktu lalu, serial ini disorot media masa karena dengan tidak bijak menggunakan sebuah ruangan di rumah sakit. Seorang pasien gawat darurat meninggal karena ruang yang seharusnya dipakai untuk perawatan, malah dipakai untuk pengambilan gambar. Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) seharusnya sudah menghentikan produksi serial ini. Rumah produksi yang membuat ini juga harusnya sadar produksi mereka sudah bercitra buruk. Tapi sinetron yang dibintangi Rio Dewanto ini malah sudah memasuki musim tayang ke-2.

Selera humor orang Indonesia, atau Jakarta barangkali memang cukup unik. “Pesbukers” yang tayang di AN TV ini adalah salah satu program televisi yang sebenarnya adalah a show about nothing. Hanya wajah-wajah terkenal, sedikit hiburan berbentuk penampilan (penyanyi, biasanya) dari bintang tamu, sisanya humor kasar yang bukan slapstick. Slapstick menghibur, Pesbukers tidak. Bila pernah menonton program ini pasti tahu ada salah satu cast yang jadi objek humor kasar casts lainnya secara reguler.

Komunitas yang bernama Masyarakat Televisi Sehat Indonesia bulan lalu berkunjung ke KPI, melaporkan beberapa tayangan televisi dengan atribut keagamaan, yang menurut mereka justru isinya tidak mewakili atribut keagamaan itu sendiri. Salah satu judul tayangan yang dipermasalahkan adalah “Ustad Foto Copy” yang tayang di SCTV. Ada beberapa tokoh di tayangan ini yang gemar sekali sumpah serapah dalam bentuk paparan verbal yang mudah sekali ditiru penonton muda. Tokoh tersebut menjadi populer, dan karakter antagonis-nya pun semakin dieksplorasi dengan, lagi-lagi, kemampuan sumpah serapah yang tidak layak dipertontonkan.

Tayangan larut malam “Sedap Malam” di RCTI adalah sebuah variety show yang harusnya menjadi bincang-bincang yang seru. Tapi acara yang dulu sempat populer ini sekarang menampilkan host yang lemah, dan salah satu icon acara paling sensual yang pernah ada di televisi nasional. Di salah satu segmen, akan ada penari tradisional mengenakan kebaya ketat dan seringkali dengan belahan dada rendah mengenakan topeng yang berbicara dengan nada suara ‘mengundang.’ Acara yang dulu lumayan menghibur ini tahu apa yang harus mereka lakukan jika ingin tetap berkualitas.

Setelah tren tayangan dengan atribut keagamaan, tren lain yang belum hilang sejak awal 2000-an di televisi nasional, adalah tayangan bernuansa mistis. Jelas, orang Indonesia memang gemar dengan hal-hal berbau mistis. Kasus Eyang Subur adalah bukti terakhir dari hal tersebut. Tentu masih ingat dengan “Dunia Lain’’ beberapa tahun lalu yang sukses. Kegemaran orang Indonesia akan hal mistis ini secara tidak langsung sebenarnya membuat orang menjadi tetap haus akan informasi gaib, dan pada gilirannya mengembangkan imajinasi di luar nalar. Dua program di televisi yang kental berbau mistis antara lain “Dua Dunia” dan “Mister Tukul Jalan-Jalan,” keduanya di Trans 7. Untuk judul terakhir, dari judul saja penonton sudah berpikir bahwa itu tentang wisata, padahal bukan.

Tentu ada beberapa tayangan lain yang mungkin jadi perhatian masing-masing. Membuat ulasan mengenai program televisi yang membuat penonton resah memerlukan waktu yang panjang, pastinya. Seperti yang diungkapkan di atas, membuat program televisi itu gampang-gampang susah. Seringkali rumah produksi menggampangkan di bagian skenario yang tidak ingin membuat mereka terlalu berpikir jauh, demi sebuah tontonan berkualitas. Yang penting pengambilan gambar terus berjalan. Dengan cara itu, penonton televisi nasional yang tidak mampu menikmati tayangan di televisi berlangganan yang lebih berkualitas menjadi korbannya. Generasi yang akan datang dipertaruhkan.

What's On Fimela
Loading