Sukses

Fashion

Obsesi Deden Siswanto, Pendidikan Fashion yang Merata untuk Semua Orang

Jakarta Belajar fashion di Bandung, fashion designer Deden Siswanto memulai kariernya secara profesional sejak tahun 2000. Konsisten mengolah kain-kain tradisional, ia pun menjadi identik dengan koleksi-koleksi yang bernuansa multi kultural. Dari personal style-nya sendiri, yang gemar memakai sarong kemana-mana, ia menjadi perwujudan dari visinya untuk melestarikan kain-kain warisan.

Deden mengaku ia menemukan inspirasi ke mana saja kakinya melangkah. Apapun yang menarik baginya, benda, situasi, lokasi bisa mendatangkan inspirasi. Semua itu digabungkan, ia lalu mengamati trend yang sedang berlangsung. “Toleransi terhadap trend yang sedang berkembang itu penting,” menurut Deden. Ia kemudian menambahkan unsur budaya, adat istiadat lokal, tidak sebatas bahan, tapi juga filosofi dari daerah bahan tersebut berasal. Semuanya berujung pada sebuah koleksi.

Nggak banyak memang desainer yang memilih untuk mengolah kain tradisional, jadi sosok Deden termasuk jarang. “Anak muda sekarang memang kurang tertarik dengan kain tradisional. Tapi, melihat keadaan di mana nggak banyak yang mengolah kain-kain ini, saya tertarik. Apalagi di awal karier saya. Jadi, saya punya ide untuk menyelipkan kain-kain ini ke dalam rancangan saya,” jelas Deden.

“Mungkin dengan menyelipkan sedikit aksen-aksen tradisional ini pada sebuah koleksi yang modern, bisa menarik perhatian anak-anak muda ini,” tambah Deden.

The challenge is big. “Saat banyak yang mengolah kain tradisional, tiba-tiba semua orang menjadi terobsesi. Pesona batik sedikit pupus oleh kain-kain lain, seperti tenun dan songket,” tambah Deden. “Memberikan siluet yang lebih segar, cutting yang lebih dinamis, itu tantangan yang harus dilewati oleh semua desainer saat mengolah sesuatu dari kain-kain tradisional, termasuk batik,” jelas Deden.

Merasa dunia fashion sekarang menjadi terlalu eksklusif, dan para praktisi fashion sebagian menjadi bersikap pongah dengan posisi yang mereka raih, membawa Deden pada salah satu obsesinya saat ini. Obsesi yang membuatnya rajin berbagi ilmu ke wilayah-wilayah lain di Indonesia.

Menyiapkan perancang-perancang mode masa depan Indonesia yang berasal dari berbagai macam lingkungan sosial, itu obsesinya. “Saya ingin menyiapkan lembaga yang membantu mereka yang tertarik di bidang fashion. Bisa belajar dan maju bersama-sama. Dan pada akhirnya ada tempat, wadah untuk bertanya dan belajar di situ tanpa harus mengeluarkan biaya terlalu besar. Bakat bakat itu bisa belajar, tidak bingung lagi harus ke mana,” tutup Deden.

Fotografi: Windy Sucipto, Videografer: Satrya Damarjati, MUA: Shahira, Stylists: Genu, Jessica Esther