Sukses

Fashion

Yang Sukses & Yang Gagal di Fashion Week!

Dolce and Gabbana

Nilai estetis deretan koleksi yang diperlihatkan selama fashion week tentu berbeda di tiap mata yang memandangnya. Review satu media dan media lain tentang sebuah show bisa sangat beragam. Leandra Medine aka The Man Repeller memuji rancangan Hedi Slimane untuk Saint Laurent di Paris fashion week lalu. Itu hanya sebagian kecil, karena kebanyakan review justru menghujat koleksi tersebut. So, here they are, some of the high and lows – the highlights, during fashion week.

 

The High

Dolce and Gabbana

A truly beautiful collection, begitu lah koleksi Dolce and Gabbana. Permainan detail menawan dalam siluet feminin yang kuat. Inspirasi yang nampak berasal dari era Bizantium. Koleksi yang sepertinya hanya pantas dikenakan oleh kepribadian lembut dan kuat di saat bersamaan, princess of modern era. It was couture.

Balenciaga

Debut Alexander Wang untuk Balenciaga tidak dibarengi dengan gong menggelegar. Tapi tidak pula berekor caci. The shy peculiar boy of New York went across the pond, and started humble – menurut kami. It’s easy to see, Balenciaga di tangan Wang menemukan arah baru. The initial attempt masih terlihat bingung, ingin ke mana. Tapi penggemar Balenciaga masih bisa melihat karakter itu, meski Wang kemudian menyuntikan gaya street style nya yang kuat ke dalam koleksi itu. Came with strong anticipation, publik tentu menantikan koleksi Balenciaga berikutnya.

Celine

Sukses yang sama dirasakan oleh Phoebe Phillo di Celine. It’s the collection that made you fall in love the first time you see it. It was simple, yet so strong. Warna-warna natural yang gampang disukai muncul lewat siluet yang tidak pas badan tapi tetap chic and sleek. Rasanya sudah lama tidak melihat deep grey bertemu pastel pink yang manis. Very clean coat atau tops yang bertemu dengan rok selutut di mana bagian bawahnya mampu ‘menari’ seiring langkah kaki. Almost like reinventing Celine.

Valentino

Sang Maestro telah meninggalkan tahta, mewariskan nama besarnya pada dua desainer yang telah lama belajar padanya. The young brain keeps the maestro’s majestic touch dan menghadirkan Valentino yang nampak lebih segar. Maria Grazia Chiuri dan Pierpaolo Piccioli  nampak terinspirasi dengan keanggunan para putri abad 17 dan membawa mereka ke era modern. Pendekatan pada feminitas yang segar, teruntuk perempuan yang penuh karakter.

Dior

Raf Simons sudah terkenal di kalangan seniman, jadi nggak heran koleksi ready to wear nya untuk Dior juga sangat bernuansa seni. Menggunakan lukisan Andy Warhol secara berulang sebagai motif cetak atau detail bordir, koleksi siap pakai Dior bermain dengan siluet ladylike yang beragam - simple yet fun at the same time. The good thing probably is, Raf tidak nampak ambisius untuk membuat semua orang terkesan dengan visi kreatifnya. Yet, everyone is still impressed. Dior tidak kehilangan keanggunan meski menjadi lebih approachable. Meski keberadaan Raf belum lama di Dior, ia harus segera menggambarkan dengan jelas perempuan seperti apa yang ia ingin mengenakan Dior.

 

Some of The Lows

Saint Laurent

Hedi Slimane terlalu mencintai Californian Grunge, sampai-sampai hampir semua koleksi Saint Laurent di tangannya bernuansa seperti itu. Sorry to say, di mana elegance yang diwariskan label ini? Nampak Hedi terlalu mengagungkan visi kreatifnya sendiri dan tidak mengambil inspirasi, or at least paying tribute to the label's well known fluency to glamorize women. Ia malah tampil klise dengan semua rebel spirit yang membosankan, tacky, not mention sleazy. No glamor, no class. What the heck.

Sonia Rykiel

Another dissapointment was the debut of Geraldo de Conceicao untuk Sonia Rykiel. The collection was shown after dark, dengan show goers yang mungkin sangat berminat untuk melihat debut itu tapi harus dikecewakan dengan koleksi biasa saja. It was less than extraordinary, bahkan jatuh di level unflattering. Geraldo adalah pilihan dari business tycoon baru, Fung brothers, untuk memegang sisi desain dan sama dengan PPR yang ingin perkenalkan Balenciaga ke market lebih luas, ingin juga bawa label yang terkenal dengan knit wear ini ke market yang baru. Pendekatan yang dibawa Geraldo terlalu street wear untuk sebuah label yang sebenarnya dikategorikan ke high fashion.

Fashion needs radical approach, said some editors. Koleksi fall winter 2013 para desainer fokus menghadirkan koleksi yang cantik namun sebenarnya tidak ada yang begitu baru. In that case, the only rebel was Slimane.

Loading
Artikel Selanjutnya
Peralatan Makan dari Check'N' Dior Bikin Makan Malam Valentine Makin Romantis
Artikel Selanjutnya
Karya Seni Sepanjang Masa Sebagai Identitas Masa Kini dari Dior