Sukses

Fashion

Hedi Slimane, Fashion It Boy Yang Kini Dibenci

Hedi Slimane

Tidak mudah jadi seorang Hedi Slimane akhir-akhir ini. Ia banyak dihujat, bahkan sebagian fans YSL ingin membunuhnya, karena membuat koleksi yang tidak ramah mata. A designer, selalunya adalah pribadi yang visioner. Bagi pembela Hedi, langkah-langkah yang ia lakukan selama ini adalah demi menciptakan image yang segar bagi label yang sudah mendunia. But many said, it was a wrong move.

Lahir di Prancis, dari orang tua berdarah Italia dan Tunisia, Hedi (diucapkan dengan H yang luruh) di tahun 1968,  laki-laki yang gemar memotret hitam putih ini lebih duku akrab dengan fotografi ketimbang fashion. But apparently, he started to make his own clothes when he was 16.  Hedi mulai bekerja untuk fashion consultant Jean-Jacques Picart di tahun 1992, dan ditunjuk menjadi menswear director buat Yves Saint Laurent serampungnya ia di sana (1996).  Periode yang penting, karena di awal tahun 2000, Hedi kemudian perkenalkan skinny silhouette yang terkenal untuk YSL Black Tie collection. Skinny silhouette yang jadi mendunia, bahkan memaksa Karl Lagerfeld untuk menurunkan berat badan. Karena Karl kabarnya ingin membeli pakaian rancangan Hedi.

Setelah itu Hedi meninggalkan YSL untuk menangani men’s collection di Christian Dior. Untuk Dior, Hedi menolak tawaran creative director dari Jil Sander. Dengan kesibukan seperti itu, kesuksesan YSL dan Dior saat memilikinya, nggak heran di 2002 Hedi menerima International Designer of the year dari CFDA. Jadi menswear designer pertama pula yang menerima kehormatan itu.

Kecintaan Hedi pada musik dan fotografi membuatnya dekat dengan banyak musisi. David Bowie adalah salah satu penggemarnya. Ia bahkan membuat wardobe panggung bagi beberapa musisi yang jadi temannya. Seperti Mick Jagger, The Libertines, sampai The Kills. Selama berada di Dior, Hedi sempat menerbitkan beberapa buku fotografi yang menggabarkan scene musik di Eropa. It was a seven year straight success for Hedi while he was working for Dior.

Tahun 2007 Hedi memilih meninggalkan Dior, setelah Dior menawarkan agar Hedi membuat line sendiri menggunakan namanya. He chose to leave, karena nggak mau namanya digunakan. Di tahun 2011, banyak yang mengira Hedi akan kembali ke Dior setelah skandal John Galliano. Di awal 2012, sekali lagi Hedi diperkirakan akan kembali ke YSL setelah Stefano Pilati juga mundur. Siapa lagi yang bisa mengatakan “Saya pernah bekerja untuk YSL dan Dior?” dengan mudah dalam CV nya?

Salah satu quote Hedi yang terkenal adalah “Elegance is a progressive concept.” Jika begitu kasusnya, apakah dua koleksi Saint Laurent (setelah ia memutuskan membuang awalan dari akronim YSL yang terkenal itu), adalah bukti dari kualitas progresive yang ingin ia tunjukkan? Sangat progresive yang sudah mendarah daging dalam seorang Hedi dipengaruhi banyak hal. Saat ia tidak sedang merancang koleksi, Hedi banyak melanglang buana untuk menemukan musik-musik baru, band-band baru – sambil mengarahkan band-band tersebut untuk menemukan popularitas (you can find this in his personal blog as well). In this point, baru terlihat bagaimana proses kreatif Hedi dalam membuat koleksi terakhir yang dihujat itu.

Hedi is a man of many talents. Banyak yang juga mengatakan bahwa Hedi adalah model yang sempurna bagi semua pakaian yang ia desain. He has good looks and slender body. That model type. Seberapa jauh ia akan membawa nilai progressive di tubuh Saint Laurent? Ia telah melarang Cathy Horyn dari The New York Times memasuki show-nya dua kali, karena menulis review buruk. Pertengkaran keduanya masih akan berlangsung lama. Karena lagi-lagi Cathy menulis review yang menyudutkan Hedi.

Tentu susah melanjutkan sebuah fashion house yang begitu kuat seperti YSL. Yves Saint Laurent adalah seorang designer yang penuh bakat, salah satu yang terhebat di abad 20. Di saat beberapa fashion houses memiliki kekuatan di beberapa bagian saja, maka Yves Saint Laurent begitu versatile, bisa menguasai semuanya. Style and technique. Apakah saat ia mundur dari labelnya di tahun 2002 dan mengatakan bahwa “high fashion is finished” maka itu benar-benar akan jadi kenyataan? Siapa lagi yang bisa melanjutkan bakat dan nama agungnya? He was a virtuoso.

Then came the prince of darkness, who brought his progressiveness into the label. Kita tunggu saja.

;
Loading