Sukses

Fashion

WHO'S WHO : Heaven Tanudiredja, Berguru Pada Biyan & Dipuji Anna Wintour

Heaven Tanudiredja

Pantas rasanya memperkenalkan bakat satu ini pada Fimelova, khususnya pada yang menggemari desain-desain perhiasan sophisticated, edgy, muda, dan super stylish. Sepak terjangnya memang belum lama, namun secara perlahan dunia internasional melirik Heaven sebagai ‘seniman’ penghasil perhiasan dengan craftsmanship tinggi.  Itu terlihat dari 12 kreasi Heaven dalam menjemput musim semi, yang baru dipamerkan di Hôtel Salomon de Rothschild, di Paris bulan Maret lalu. Venue yang sama puitis dan mewah dengan kreasi-kreasi yang ia pamerkan. Dua belas kreasi yang mengambil nama dari jenis-jenis penyakit mental. Sisi gelap manusia yang justru sering jadi inspirasi untuk Heaven menciptakan deretan perhiasannya. “Saya senang menyelami sisi negatif manusia, dan menciptakan sebuah kreasi positif dari situ,” jelas Heaven di sebuah media asing.

Dalam usia relatif muda, 30 tahun, dan kini berdomisili di Antwerp, Belgia, desainer perhiasan kelahiran Bali ini sudah membuat Anna Wintour kagum dengan kreasi-kreasinya. Sosok lain yang juga mengaguminya adalah Dries Van Noten. Tahun 2006 hingga 2007 Heaven sempat bekerja untuk divisi women’s wear label tersebut. Dengan bantuan Dries Van Noten pulalah Heaven meluncurkan lini perhiasan atas namanya sendiri di tahun 2007. Tercatat Heaven juga sempat bekerjasama dengan John Galliano di tahun 2006. Di Indonesia sendiri, Heaven sempat menjadi asisten untuk Biyan saat ia berusia 16 tahun. “Pengalaman bersama Biyan memberikan saya pondasi yang sangat kuat, tak tergantikan,” ceritanya kemudian. Karena itulah, ia menyebut dirinya desainer. Heaven tidak menutup kemungkinan bahwa suatu hari ia akan kembali mendesain pakaian, seperti yang sudah pernah dilakukannya sebelum berfokus pada perhiasan.

Heaven Tanudiredja look book fall winter 11/12

Pindah ke Belgia untuk melanjutkan studi di Antwerp Royal Academy of Fine Arts, dan menjadi bagian tim kreatif Dries Van Noten adalah titik balik karir desainer satu ini. Meski begitu, Heaven mengaku masa tumbuh besarnya di Indonesia berpengaruh besar dalam garis besar rancangan perhiasannya. “Kebiasaan saya mengumpulkan batu-batu saat kecil membuat saya senang mengumpulkan batu-batu antik, dan akhirnya mendorong saya membuat perhiasan dengan bentuk yang tidak biasa,” tutur Heaven untuk Vogue.

Desainer yang gemar melakukan meditasi dua kali sehari sejak ia berusia 10 tahun ini berkisah bahwa perhiasannya selalu memproyeksikan masa depan yang ‘gelap.’ Setiap musim, Heaven bersama tim kecilnya paling tidak merilis 300 pieces yang secara dominan sangat arsitektural, eksotis, dan robotik. Robotik, tema yang sangat disukai Heaven.  Menikmati kreasi Heaven berarti harus bisa menikmati intricate details yang ia suguhkan. When we said details, we meant it. Roda-roda kecil, miniatur bangku, sampai miniatur tangan yang bersepuh emas, kuningan yang ternyata punya interpretasi emosionil. The result is as complicated as the idea behind it. “Dalam setiap perhiasan ada cerita, dan banyak emosi yang dapat disampaikan,” jabar Heaven di sebuah wawancara. Dunia Heaven Tanudiredja nampak seperti dunia hayal yang gelap, namun glamor di saat bersamaan. Penuh karakter kuat dengan fantasi robotik yang tak jelas kapan berakhirnya.

Heaven Tanudiredja spring summer 2013

Entah kapan Heaven akan kembali ke dunia desain pakaian, karena perhiasan-perhiasannya terus dikejar oleh banyak pembeli dan stockists penting internasional. Koleksi perhiasannya bisa ditemukan di Dover Street yang terkenal di London, Luisa Via Roma di Italia, atau 10 Corso Como di Milan. Dan tentu nggak hanya di situ. Kolaborasinya bersama desainer Belgia Bruno Pieters bulan Mei nanti hanya menjadi tanda, bahwa Heaven Tanudiredja akan jadi kekuatan tersendiri di dunia jewelry design internasional.

 

 

 

 

 

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Pandangan Baru akan Subjektivitas Menjadi Konsep dari Gucci di Milan Fashion Week
Artikel Selanjutnya
Gaun Bernuansa Biru Mendominasi Emmy Awards 2019