Sukses

Fashion

Punk, Kultur Kontroversial Yang Kini Jadi Inspirasi Couture

Punk inspired fashion during 2013 Met Gala

Berbicara mengenai semua bentuk kebudayaan yang terkait dengan punk, maka benua Amerika dan Inggris adalah tempat di mana subculture ini berkembang. Punk scene berkembang di New York di akhir 1960-an, sementara punk sebagai sebuah pergerakan budaya berkembang di Inggris era 1970-an. Punk di Amerika diawali oleh kelompok-kelompok musik seperti Ramones, Blondie, dan Pattie Smith. Pengaruh punk New York sampai ke Inggris dalam bentuk identitas musik dan fashion yang lekat dengan anak muda.

Punk fashion adalah interpretrasi punk attitude. Sebuah ekspresi yang jelas dari keinginan punk untuk ‘tidak menjadi sama.’ Dari dulu hingga sekarang, dalam semua era bergulirnya subculture punk clothing atau fashion menjadi bagian tidak terpisahkan. Punk fashion juga sama seperti ideologi punk itu sendiri. Agresif, dan susah untuk mengingkarinya. Meski sebagian kalangan menganggap bahwa punk fashion tidak memiliki sense of fashion sama sekali, bahkan awalnya mereka anti-fashion, justru attitude itu juga yang menjadi pernyataan yang lebih besar lagi.

Generasi-generasi awal punk menunjukkan pemberontakan mereka lewat pilihan fashion yang unik, tato, sampai aksesori yang stand out. Estetika punk fashion di awal kemunculan adalah everyday fashion yang dipersonalisasi sehingga jadi sangat individual. Pakaian robek yang disambung dengan safety pin, dilekatkan dengan selotape, jaket jeans yang dihias dengan coretan spidol atau semprotan cat, sampai bordiran-bordiran yang berisi pernyataan protes.  Di Amerika, punk fashion identik dengan second hand tee shirt, jeans, jaket kulit yang dikenakan grup musik Ramones yang ingin menjadi antitesis dari fashion era disco.

Role model utama untuk berdandan ala punk adalah grup musik The Sex Pistols (1975) yang membawa punk ke ranah mainstream. Namun, menghadirkan atribut-atribut primer punk dalam wardrobe masih sah bila tak mampu meniru  gaya the Sex Pistols.  Punk fashion tidak lepas dari jeans, sepatu doc mart, heavy boots, jaket dengan stud (juga stud di pilihan  wardobe lainnya), celana bermotif camo, safety pin, skinny jeans, celana robek, cipratan cat, coretan spidol di baju, sampai tali sepatu berwarna merah. Pengaruh punk fashion dari Inggris di era awal termasuk penggunaan bahan leather (kala itu identik dengan preferensi sex tertentu), fishnet, sampai pisau silet sebagai aksesori.

Vivienne Westwood yang hingga sekarang mampu menjaga identitas punk dalam garis desainnya juga mulai dikenal di era1970-an. Desainnya untuk toko milik Malcolm McLaren di King’s Road (termasuk mendesain kostum panggung untuk the Sex Pistols), London, memberi pengaruh besar ke arah punk fashion jaman itu. Pengaruh Westwood tidak berhenti di punk saja. Ia membantu lahirnya beberapa fashion designer baru di Inggris, sampai kiprahnya untuk theatrical release dari “Sex and the city.”

Interpretasi punk lewat fashion juga akhirnya mengikuti perkembangan jaman. Sehingga sama seperti semua fashion trend lainnya, estetika punk fashion melesap ke dalam modernisasi agar bisa terus aktual. Tapi intinya tetap sama, sense of rebellion dan kontroversi. Setelah puluhan tahun, pergerakan punk di era 1970-an mungkin tidak pernah menyadari bahwa apa yang mereka mulai akan menjadi bahan dari sebuah pameran seni berkelas tinggi 40 tahun kemudian.

Tentu saja pameran di Metropolitan Museum of Art yang akan berlangsung hingga Agustus nanti akan menghadirkan banyak koleksi desainer yang membawa pengaruh punk dalam rancangan mereka. Koleksi-koleksi Vivienne Westwood dari butik Seditionaries nya bersama Malcolm McLaren di London, koleksi haute couture Alexander McQueen, Helmut Lang, Jean Paul Gaultier, Rei Kawakubo sampai John Galliano.

Meski ideologi punk  berseberangan dengan fashion, desainer-desainer tidak pernah berhenti membahasakan estetika punk lewat rancangan mereka untuk mengekspresikan jiwa muda yang penuh hasrat memberontak. Tidak lagi berhenti pada warna hitam (salah satu kegagalan Met Gala tahun ini adalah para tamu yang hadir berpikir punk hanya identik dengan warna hitam), karena seperti Vivienne Westwood yang mampu bereksplorasi lewat sekian banyak warna untuk membahasakan tema yang sama : pemberontakkan.

Loading
Artikel Selanjutnya
Dapatkan Beasiswa S2 di Inggris Bidang Ekonomi atau Keuangan