Sukses

Fashion

Diana Vreeland, Perempuan Revolusioner Pengubah Fashion!

Next

Diana Vreeland

“Diana Vreeland : The Eye Has to Travel” adalah film dokumenter tentang salah satu fashion editor terbesar dalam sejarah fashion publication, Diana Vreeland. Film dokumenter yang baru dirilis tahun 2012 lalu itu mengungkap sosok Mrs. Vreeland yang memiliki pengamatan tajam, selera tinggi, kesukaan akan presentasi serba dramatis, dan bak ahli nujum membaca tren yang akan muncul bahkan jauh sebelum orang lain. Sama seperti banyak persona yang terkenal dalam sejarah, Diana Vreeland juga memiliki kepribadian yang ‘besar.’  Diana dan keluarganya memang bagian dari high society saat itu dan bahkan sebelum bekerja untuk Vogue pun ia sudah pernah difoto untuk majalah tersebut.  Her beauty feature is unique, namun ia tidak pernah merasa cantik sampai ia menikah dengan Thomas Reed Vreeland. Tuhan memang adil, Diana diberkahi dengan mata yang tajam untuk menemukan keindahan. Karena dengan ‘mata’ itu pula, Diana mampu menjalani karir puluhan tahun sebagai editor, kurator, juga menjadi tastemaker untuk dua majalah fashion terbesar yang pernah ada, dan mengkolaborasikan fashion serta budaya dalam upaya memberi kehidupan di Metropolitan Museum of Art.

Karir fashion  yang panjang, ini berlaku untuk semua orang, dimulai dengan inherited personal style yang membuat seseorang stand out di keramaian. Personal style yang membuat Diana ditemukan oleh editor Harper’s Bazaar Carmel Snow.  Diana sedang menari di St. Regis, mengenakan gaun Chanel, bolero serta bunga mawar yang terselip di rambutnya.  Selama di Bazaar, Diana menulis untuk kolom Why Don’t You yang mengajak perempuan-perempuan saat itu mencoba hal-hal baru dalam hal fashion, juga gaya hidup. Kolom yang sangat terkenal dan cukup membelalakkan mata, karena untuk era itu isinya sangat provokatif. 

Selama di Bazaar pula lah, Diana mulai menjalin hubungan pertemanan dengan banyak fashion designer. Bahkan membantu memperkenalkan beberapa di antaranya ke publik. Sebut saja Manolo Blahnik, Oscar de la Renta, dan Diane Von Furstenberg – di antaranya. Tanggap akan hal-hal baru, juga desainer-desainer baru, dan tidak sungkan memperkenalkan desainer-desainer baru itu ke pembaca (termasuk membagikan pemikiran-pemikirannya yang maju), secara tidak langsung membuat Diana menjadi sosok yang berpengaruh bagi pemberdayaan perempuan era itu. Termasuk dalam urusan fashion. Fashion tidak lagi berkesan tua, tapi menjadi lebih segar dan direngkuh semua perempuan.

Di tahun-tahunnya bersama Bazaar, Diana menghadirkan cover dan fashion spread yang mungkin sekarang sudah sangat bernuansa retro, but still brilliantly relevant for the fashion industry today. Diana juga menjadi orang yang pertama menampilkan foto keluarga mendiang Presiden Kennedy di Bazaar, saat semua orang nampaknya tidak terpikirkan sama sekali. Well of course, pemotretan keluarga legendaris itu pun mungkin terjadi karena Diana adalah sahabat dan stylist Jackie Kennedy untuk beberapa acara kenegaraan. Berteman dengan kalangan penting, seperti yang dilakukan Diana, bisa membuka jalan agar ide segar kita bisa mencapai banyak orang.

Next

 

Diana Vreeland

Kepindahan Diana ke Vogue pada tahun 1962 memberi napas modern bagi Vogue. Melampaui kapasitasnya sebagai editor in chief dengan lafal fashion yang dalam, Diana mengajak pembaca Vogue saat itu untuk menjadi saksi revolusi budaya. Sosok seperti The Beatles, Rolling Stone, model terkenal Twiggy, sampai model yang hanya mengenakan bikini  ia abadikan untuk Vogue. Ibarat kata, bila ingin memantau perkembangan fashion dan budaya yang terbaru saat itu, baca Vogue. Lagi-lagi, keinginannya untuk mengungkapkan yang terdepan dan berselera tinggi ia lakukan di tempat kerjanya yang baru.

Tapi fashion spread dan foto-foto mewah itu pula yang membuat Diana dipecat dari Vogue. Bukti bahwa ide yang terlalu ‘besar’ tidak cocok untuk semua orang, bahkan untuk Vogue sekalipun.  Selama di Vogue, Diana terkenal selalu melakukan pemotretan di tempat-tempat eksotis, dipenuhi detail-detail mengagumkan yang seringkali membuat anak buahnya repot mempersiapkannya. But again, hasil pemotretan yang sulit itu hingga kini masih sangat berkelas dan relevan. Pemotretan-pemotretan yang menurut Diana memberikan perspektif baru, yang perlu dirangkul banyak orang. Tapi Vogue menganggap perspektif baru yang ingin dibagikan Diana bagi pembaca sudah menggunakan biaya kelewat banyak.  Ia dipecat dari Vogue dan sempat terpuruk karenanya.

Ia kemudian dikontrak oleh Metropolitan Museum of Art untuk menyuntikkan kreativitas, juga memberi kehidupan bagi museum yang dulu kurang dipedulikan itu. Di bawah pimpinannya, interior Met dicat ulang, parfum disemprotkan ke segala ruangan, dan mengajak teman-teman selebritinya hadir di malam pembukaan art exhibition yang ia adakan di Met. Begitulah awal tradisi Met Gala yang dinantikan setiap tahunnya. Langkah Diana tersebut menyadarkan banyak museum di dunia untuk mulai membuat fashion history archive. Kreativitas bisa disisipkan di manapun, seperti yang dilakukan Diana untuk citra museum yang membosankan. Sampai tahun kematiannya, Diana sudah mengadakan belasan pameran selama menjadi konsultan untuk Met.

Meninggal di usia 86 tahun, sebuah memorial khusus diadakan untuk sosok revolusioner itu di Met. Vogue pun mengadakan tribute khusus untuknya. Dunia fashion tentu kehilangan. Seperti yang disampaikan editor in chief Vogue Italia Franca Sozzani di bagian awal film dokumenter Diana, “Saat memikirkan sosok yang iconic di majalah, seorang editor, Diana Vreeland lah orangnya.” Kecintaan akan semua yang dramatic, mewah, selera yang tinggi, great style, dan pengamatan yang tajam akan yang terbaru  – melihat sosok Diana – adalah formula yang harus dijaga untuk menemukan sosok one of a kind editor.

Loading
Artikel Selanjutnya
Chanel Terpilih dalam GPHG, Ajang Oscar untuk Jam Tangan
Artikel Selanjutnya
Mengejutkan, Seorang Penonton Ikut Naik di Runway Chanel Paris Fashion Week