Sukses

Fashion

WHO'S WHO: Jenna Lyons, Tastemaker & Penerus Tahta Anna Wintour

Jenna Lyons

Wajar bila kita dan orang tua kita berbelanja di toko yang berbeda. Perbedaan umur tentu membuat selera dan kepantasan berpakaian membuat masing-masing orang mencari toko yang tepat untuk berbelanja. Tapi sejak beberapa tahun terakhir J. Crew menjadi sedikit brand yang membuat laki-laki dan perempuan di usia berapapun bisa berbelanja di tempat yang sama. Semua karena sosok Jenna Lyons, yang sejak tahun 2008 lalu memberikan perubahan signifikan bagi brand asal Amerika yang dengan style-nya yang klasik itu.

Jenna bergabung dengan J. Crew sejak tahun 1990 saat masih berusia 21 tahun, baru lulus dari Parsons School of Design. Jenna mengaku ia sangat beruntung bisa masuk ke industri fashion, karena dulu tak pernah terbayangkan olehnya masuk ke industri yang indetik dengan kesempurnaan fisik itu. Fashion, buat Jenna adalah pelarian baginya yang lahir menderita kelainan genetik yang dikenal dengan incontinentia pigmenti. Kelainan genetik yang membuatnya mudah mengalami luka dan cenderung memiliki warna kulit yang juga tidak awam. Kelainan genetik yang membuatnya juga harus mengenakan rangka pengkuat khusus bagi organ dental-nya sejak masih belia. Ia juga kaget menyadari bahwa ia menyenangi gambar dan desain, sehingga akhirnya memutuskan untuk mengejar karir di bidang fashion.

Tahun 2003, di mana CEO baru J. Crew, Millard Drexler bergabung dan memberikan kebebasan bagi Jenna untuk membuat apa yang baginya bagus untuk dipasarkan. Timing yang tepat. Karena brand yang sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1947 itu (sebelumnya dikenal dengan nama Popular Merchandise, lalu berubah menjadi J. Crew di tahun 1989) mengalami stagnasi dan jadi American fashion brand yang ‘membosankan’ dengan koleksi-koleksi yang didikte oleh pemikiran korporat.  Manajemen lama ternyata menjalankan label tersebut nampaknya dengan cara yang juga sama membosankannya.

Jenna diberi kebebasan untuk menciptakan style dan koleksi yang ia inginkan, bahkan memilih material yang ia inginkan sampai jauh ke China. Memahami style sebagai seseorang yang di masa lalu sering di-bully dan merasa tidak cantik, Jenna menggunakan perasaan emosionil itu untuk menciptakan koleksi J. Crew dengan falsafah gaya tertentu. Jenna ingin menciptakan koleksi yang bisa dipakai semua orang. Ini yang dikagumi oleh para penggemar desainnya.

Perubahan lain apa yang dilakukan Jenna setelah diberi wewenang khusus tadi? J. Crew mulai membuat koleksi khusus bersama desainer-desainer kenamaan, salah satunya adalah bersama Tabitha Simmons. J. Crew juga kemudian mengajak brand-brand kurang terkenal namun memiliki produk yang bagus untuk menjual koleksi mereka di store J. Crew di seantero Amerika. Jenna juga menerapkan personal style-nya yang cenderung androgynous ke koleksi-koleksi J. Crew sehingga menjadi lebih approachable dan relatable.

Dengan manajemen lama yang konvensional, katalog J. Crew sempat menjadi daftar produk yang kaku dengan konten editorial satu halaman yang tidak berkesan. Jenna juga melakukan perubahan di katalog tersebut. Ia menghadirkan lebih banyak konten editorial, bahkan membuat kolom khusus yang diberi nama Jenna’s picks yang terkenal di kalangan penggemar J.Crew (dan penggemar Jenna). Berkat Jenna pula lah, tahun ini J. Crew sudah menjalani tahun ke-empatnya di Fashion Week. Kehadiran J. Crew sebagai brand yang harganya cukup terjangkau memberikan pendekatan yang demokratis bagi New York Fashion Week yang selama ini susah diakses oleh publik itu. Nggak heran, J. Crew menemukan sosok penggemar dalam diri Michelle Obama sampai, bahkan, Anna Wintour.

Popularitas Jenna di kalangan fashion semakin besar. Selain ia sudah bergabung dengan CFDA dan menjadi salah satu penilai untuk Vogue Fashion fund (bersama Anna Wintour, Diane Von Furstenberg di antaranya), publik semakin ingin tahu kehidupan pribadi Jenna setelah ia bercerai dengan mantan suaminya yang seorang seniman dan memulai percintaan dengan seorang desainer perhiasan – yang juga perempuan. Tentu, fans setia Jenna tidak peduli dengan hidup pribadinya. Mereka lebih peduli dengan desainnya yang membuat J. Crew lebih relevan untuk semua kalangan itu. Beberapa blog bahkan membuat tribut tersendiri terhadap Jenna, juga J. Crew.  Dengan personal style yang khas, banyak yang memprediksi bahwa Jenna would be the next greatest in fashion, setelah Anna Wintour.

Loading