Sukses

Fashion

Duet Seniman Indonesia dan Louis Vuitton di Scarf Fashion Premium

Next

Eko Nugroho for Louis Vuitton

Sebenarnya ini bukan kerjasama pertama Eko Nugroho dengan Louis Vuitton. Eko sebelumnya sudah terlibat 2 proyek bersama fashion brand ini di tahun 2009 dan tahun 2012. Keduanya berskala internasional pula. Nampaknya setelah dua proyek itu, pihak Louis Vuitton semakin tertarik untuk mengajak Eko ke proyek mereka berikutnya. Menerapkan lukisannya pada produk fashion menurut Eko adalah yang pertama buatnya. And, it’s for the iconic giant square scarf courtesy of Louis Vuitton.

Susah memisahkan fashion dan art. Semua desainer bisa dipastikan menyukai art. Ada yang menyebut fashion adalah salah satu cabang dari art itu sendiri. Beberapa desainer yang sudah pensiun, meski labelnya sendiri terus berjalan tanpa mereka, juga terpantau cukup serius menekuni dunia seni. Seperti Helmut Lang yang menekuni seni instalasi, Kenzo Takada dengan seni lukis dan sudah pernah membuat pameran tunggal atas namanya, atau Issey Miyake yang selalu melabeli dirinya sendiri sebagai visual artist ketimbang fashion designer.

“Saya ditelpon dan diundang untuk meeting bersama pihak Louis Vuitton di Hong Kong setahun yang lalu,” cerita Eko tentang awal mula kerjasamanya untuk pembuatan scarf ini. Dari studionya di Yogyakarta, ia berdomisili di sana, Eko kemudian mengerjakan 6 lukisan yang kemudian ia tawarkan kepada pihak Louis Vuitton. Dari 6 lukisan itu, Louis Vuitton memilih 1 dan hasilnya seperti yang sudah bisa kita lihat.

“Inspirasi saya tentu tempat saya tinggal. Indonesia dari Timur ke Barat. Elemen-elemen dari kehidupan sehari-hari, hasil-hasil bumi, saya gabungkan dalam warna-warna cerah dan menjadi identitas baru. Ada beberapa isu-isu sosial juga yang saya sisipkan. Saya mereduksi siluet candi Borobudur dan gunungan dalam pewayangan Jawa menjadi motif-motif baru,” jelas Eko. Eko kemudian menyebutkan lukisannya, bukan desain – karena itu adalah lukisan yang diterapkan pada tekstil, adalah representasi Indonesia sebagai sebuah Republik tropis. Sama seperti pemberian warna kopi yang berulang-ulang di scarf itu, yang menurut Eko juga terinspirasi dari Indonesia sendiri, yang memang salah satu negara utama penghasil kopi di dunia.

Next

 

Eko Nugroho for Louis Vuitton

“Prosesnya cukup natural, sama seperti kreasi-kreasi saya yang lain. Sekitar enam bulan saya melukis. Dua berukuran 2 meteran. Empat lukisan berukuran sesuai dengan ukuran scarf-nya, 136cm,” jelas Eko lagi. Namun, ternyata Eko tidak langsung menyetujui saat ditawarkan proyek ini. Ia mengambil beberapa waktu untuk membuat keputusan. “Ini tantangan buat saya, maka saya terima. Saya ingin tahu apa yang ditawarkan tantangan ini.

Scarf yang dibuat Eko, bersama dua seniman internasional lainnya, hanya dibuat terbatas. Scarf dengan lukisan Eko sendiri hanya ada 500 buah di seluruh dunia. Nampak memang dibuat untuk kolektor yang memahami fashion, juga art sekaligus. Dan di Indonesia banyak orang seperti itu. Nggak heran, saat launching koleksi scarf ini di awal pekan, butik Louis Vuitton dipenuhi dengan gabungan orang-orang yang berkecimpung di dunia fashion dan art. Very vibrant crowd.

“Harusnya saya memang ke Italia untuk melihat langsung pengaplikasian lukisan saya di atas tekstil yang mereka gunakan, tapi bentrok dengan pameran tunggal saya waktu itu. Sekitar empat bulan lalu, sebelum scarf itu dirilis secara internasional, mereka mengirimi saya proof product-nya untuk meminta persetujuan saya,” papar seniman yang memiliki daftar residensi panjang di berbagai galeri seni terkenal dunia itu.

Dengan desain yang sangat pop juga kontemporer, scarf Louis Vuitton ini nampak akan diminati oleh mereka yang sama kontemporer-nya. Modern people with that up-beat attitude, dan punya awareness tinggi akan art. “Louis Vuitton benar-benar membebaskan saya dalam proses kreatif. Meski begitu, saya juga menyempatkan melihat archive scarf-scarf serupa sebagai referensi. Dengan nama-nama besar yang pernah bekerja dalam proyek ini, seperti Yayoi Kusama, saya senang saya bisa mewakili bangsa saya berbicara di dunia internasional,” papar Eko.

Loading
Artikel Selanjutnya
Chanel Terpilih dalam GPHG, Ajang Oscar untuk Jam Tangan
Artikel Selanjutnya
Kolaborasi Keenam, Onitsuka Tiger Beri Nuansa Segar pada Sepatu Tai Chi