Sukses

Fashion

Sumatra ke Paris, Inspirasi Glamor Priyo Oktaviano

Next

Priyo OktavianoIt takes great love to accomplish something great. Itu yang bisa kami simpulkan di pertemuan kami dengan desainer fashion terkemuka Indonesia, Priyo Oktaviano. Kami mampir di kantornya yang baru di kawasan Panglima Polim, Jakarta Selatan dan mencari tahu semua inspirasi yang terlintas di benaknya saat membuat koleksi �Galore.� Couture terbarunya yang melangkah penuh attitude di Jakarta Fashion Week beberapa waktu lalu.
 
The dresses were strong, dikenakan model-model terpilih yang semakin mengeluarkan ambience baju-baju indah itu. Didominasi warna hitam, emas, dan merah, dengan detail  mewah yang siapa sangka justru terinspirasi budaya lokal.

Next

 

Priyo Oktaviano�Saya baru usai melakukan bimbingan pada pengrajin-pengrajin kain di Bali selama tiga tahun. Benar-benar butuh penyegaran, akhirnya bertemu dengan tapis lampung yang mengagumkan ini,� cerita desainer yang salah satu micro skirt dari koleksi Couture-nya itu baru dikenakan Agnes Monica. Sampai dibawa ke Amerika Serikat malah. �Tapis Lampung ini benar-benar mewah, kesan tradisinya begitu kental, tapi sayang mengolahnya memang agak susah. Karena tebal, seperti karpet, kurang populer di antara kain-kain lainnya. Mau dijadiin pakaian juga orang pikir-pikir. Tapi ini jadi tantangan buat saya,� cerita Priyo dengan semangat.

Priyo mengaku mengolah kain tapis Lampung itu menjadi proyek pribadi, yang membuatnya sangat bersemangat. �Saya mencoba mencari jodoh untuk konsep yang sepadan dengan kain ini, akhirnya jatuh pada Versailles,� lanjutnya. Priyo memang sempat tinggal di kota yang berjarak hampir 20km dari kota Paris itu setahun, untuk sekolah bahasa. Berawal dari interior dan panel-panel di Palace of Versailles dengan nuansa keemasan itulah, ia memadankannya dengan tapis lampung yang sama-sama banyak menampilkan benang-benang emas.

Next

 

'Galore' model casts�Kesannya lux, mewah, menunjukkan heritage dan kekayaan kerajaan di Lampung. Cocok dengan Versailles. Relief gipsum di dinding Palace of Versailles jadi inspirasi untuk bordiran. Kertas dinding di Versailles juga menjadi bagian dari inspirasi koleksi ini. Hampir 85% koleksi ini terbuat dari tapis Lampung,� papar Priyo.

Semua orang boleh membuat koleksi dari kain-kain lokal, namun saat berhasil membuatnya dan membawanya ke tingkat lebih lanjut yang begitu rumit.

Next


Mood board, 'Galore' Priyo Oktaviano�Kain tapis dibuat dengan tehnik tenun dan tehnik sulam, dalam satu kain yang sama. Membuat pengolahan kain ini jadi lebih menarik dan menantang,� ujar Priyo yang mengaku cepat bosan dan menganggap proses kreatif ini adalah menjadikan sesuatu yang tidak mungkin jadi mungkin.

As sophisticated as it might sound, pengerjaan koleksi ini berlangsung kurang lebih 3 bulan, jelas Priyo, di tengah-tengah schedule-nya yang memuncak bulan Oktober lalu. Ia sudah memikirkan untuk mengolah tapis Lampung itu, bahkan sebelum diserahkan tema besar Dewi Fashion Knights sendiri. Turns out, karyanya sangat pas dengan tema �Tale of The Goddess.� �Pakem kain ini tidak saya ubah, semua masih asli. Saya hanya menerapkan desain saja. Semua pengerjaan dengan tangan,� lanjut Priyo.

Next

 

Priyo OktavianoHere�s how the details happened. Kain tapis dipotong, ditempel,  diberi aplikasi mutiara, gold, diberi aplikasi bordir, lempengan besi, relief bunga Ivy lambang kemakmuran dari Prancis. Motif matahari yang juga bisa ditemukan banyak di koleksi ini. Referensinya adalah Raja Louis XIV, yang sering diberi gelar Raja Matahari. Patchwork mengambil referensi relief Palace of Versailes.

Begitu aristokrat dengan nuansa mekanik? Ternyata koleksi ini juga dpt hembusan kegagahan dari kesukaan Priyo saat ini pada mainan model robot. �Karena itulah kesannya gagah, androginy dengan touch of power,� cerita Priyo kemudian. Ia menambahkan ia memiliki model robot setinggi 3 meter, di lantai dua kantor barunya itu. Terbuat dari styrofoam.

Masih ingat langkah awal model Drina, yang membuka koleksi itu? dia membawa pecutan, memakai kacamata hitam. Begitu dominatrix. Begitulah mood-nya, menurut Priyo. �Ada detail-detail sensual lain yang saya selipkan di runway, entah ada yang sadar atau tidak. Simbol kepribadian manusia yang selalu punya sisi-sisi tersembunyi.�

Next


Priyo OktavianoKami tuntaskan bincang-bincang siang itu dengan Priyo yang akhir pekan itu harus berangkat ke Kabupaten Sambas, di Kalimantan Barat. Ia berjalan ke studio tempat penyimpanan sebagian koleksi �Galore� lalu mengenakan salah satu jaket, untuk kemudian difoto oleh fotografer kami. Barangkali satu-satunya jaket laki-laki dari koleksi itu. �Ternyata banyak yang menanyakan, mengapa koleksi ini tidak ada untuk laki-laki,� celotehnya.

Sedikit info, perjalanan Priyo ke Sambas untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Membimbing pengrajin lokal, agar kain-kain setempat bisa makin diberdayakan dan semakin bernilai ekonomis. Tahun depan, Priyo akan menunjukkan olahan terbarunya dengan tenun Sambas. �Sepertinya akan menjadi eveningwear,� tutupnya.

 

Loading
Artikel Selanjutnya
Ribuan Koleksi Terbaru Meriahkan Jakarta Fashion Week 2020