Sukses

Fashion

Film Fashion Terpenting Tahun Ini yang Bisa Mengubah Pola Belanjamu

Jakarta Bila fashion identik dengan semua yang indah dan glamor dan keren, maka film dokumenter “The True Cost” yang sempat ditayangkan di Jakarta Fashion Week 2016 lalu menilik industri yang secara global menggerakan 3 Triliun Dollar Amerika setiap tahunnya itu ke sisi yang lain. Film ini akan membuatmu berpikir ulang tentang, mungkin, semua rengekan mengapa pakaian-pakaian keren yang kamu incar harganya begitu tinggi.

Insiden Rana Plaza di 2013 lalu, yang mengubur setidaknya 1129 orang adalah tamparan bagi industri ini. Lokasi naas itu adalah pabrik tempat beberapa brand fashion asal Amerika memproduksi pakaian-pakaian mereka, kabarnya dengan tenaga kerja yang amat sangat murah. Insiden di Rana Plaza semacam menjadi simbol betapa kejamnya industri fashion sebenarnya. Benarkah sekejam itu?

Beberapa brand retail memang memusatkan industri mereka di negara-negara seperti Bangladesh, Tiongkok karena di negara-negara seperti itu tenaga kerja bisa didapat dengan murah. Bahkan anak-anak kecil pun sudah ikut bekerja, demi membantu orang tua. Di Bangladesh, setidaknya ada 5000 perempuan yang bekerja di pabrik-pabrik garmen dengan gaji kurang dari Rp 30.000,- per harinya. Ditambah fakta bahwa mereka bekerja dikelilingi bahan-bahan kimia yang panas dan berbahaya. Dan mereka tidak punya pilihan lain, selain bekerja di perusahaan garmen yang menggaji mereka dengan murah.

Sedihnya, perusahaan-perusahaan garmen di negara-negara ini masih berani menurunkan gaji pegawai yang sudah sangat murah itu, ketimbang nggak mendapatkan order sama sekali. Tiap perusahaan bersaik untuk mendapatkan pekerjaan dari perusahaan retail dari negara-negara seperti Spanyol maupun Amerika. Tapi, masalah industri ini bukan hanya di situ.

Pakaian-pakaian dari industri fast retail, ternyata ada yang tidak bisa didaur-ulang dan menjadi sampah tekstil yang teronggok di muka bumi hingga 200 tahun. Fakta yang bisa kita lihat di Haiti. Haiti menjadi tempat tujuan pakaian-pakaian bekas dari negara-negara maju, dan berujung pada tersudutnya industri retail lokal. Selain menjadi sampah, juga mematikan industri fashion lokal. Masalah serius, bukan?

Begitu tingginya tuntutan industri fast retail, di mana kita sebagai konsumen semakin senang dengan semua pakaian berharga murah itu, ternyata juga berdampak pada tingginya permintaan akan kapas. Di mana negara-negara produsen kapas juga memaksa pertumbuhan kapas mereka. Tanah berubah menjadi seperti perusahaan. Dengan bahan kimia berbahaya, tanah dipaksa memproduksi kapas dalam kuantiti yang dibutuhkan.

Dan penggunaan bahan kimia berbahaya itu akhirnya mengancam kesehatan para petani kapas dan juga keluarga mereka. Penyakit-penyakit seperti kanker, cacat tubuh, gangguan kehamilan, hingga gangguan jiwa berpotensi terjadi akibat bahan-bahan kimia berbahaya itu. Bahkan Bangladesh mencatat kasus bunuh diri petani kapas yang tinggi. Karena mereka tak punya uang untuk berobat.

Dalam satu dekade, lewat film dokumenter “The True Cost” ini terungkap bahwa konsumerisme manusia meningkat ratusan kali lipat. Nilai-nilai materialistik membuat banyak dari kita menilai orang-orang di sekitar kita lewat apa yang mereka pakai. Sementara besar sekali ketimpangan antara nilai-nilai materialistik dan harga diri manusia itu sendiri. Lihat saja di YouTube, sekarang banyak video-video ulasan belanja produk fashion yang sebenarnya adalah bagian dari lingkaran setan industri ini.

Fashion designer Stella mcCartney yang menjadi salah satu narsum di film ini mengatakan, harusnya sekarang para desainer lebih peduli pada proses pembuatan koleksinya. Apakah ada yang dibahayakan, dicederai saat koleksi itu dibuat, apakah koleksi ini dibuat dengan mengorbankan banyak potensi alam? Bukan hanya masalah warna atau estetika saja yang menjadi fokus.

Satu dari 6 orang di dunia bekerja di bisnis garmen. Jadi cukup jelas dampak industri ini pada kehidupan manusia secara global. Bila industri fashion mampu menghasilkan banyak keuntungan bagi perusahaan-perusahaan yang berkecimpung di dalamnya, etikanya mereka juga harus mampu mendukung kesejahteraan para pekerja. Termasuk mendukung proses produksi yang lebih ramah pada alam. Penasaran dengan film keren ini? kamu sudah bisa menontonnya secara online.

Loading
Artikel Selanjutnya
Dukung Industri Fashion Lokal Indonesia, Ministry of Cool Pop-up Store Suguhkan Koleksi Spesial