Sukses

Fashion

23 Fashion District 2018 Hadirkan Trend Urban dengan Sentuhan Etnik Kain Tradisional

Fimela.com, Jakarta Acara fashion terbesar di Bandung, 23 Fashion District 2018 telah berlangsung tiga hari dari tanggal 4 – 9 September 2018 di Main Atrium 23 Paskal Shopping Center. Sebanyak 55 desainer, termasuk Danjyo Hiyoji, Bateeq, Lenny Agustin, Deden Siswanto, Wilsen Willim, Billy Tjong, dan Hannie Hananto, tampil memamerkan koleksi rancangan ready-to-wear yang tergabung dalam satu tema besar Singularity yang dikembangkan dari Indonesia Trend Forecasting 2019/2020.

Tema Singularity yang terkait dengan perubahan zaman dipecah menjadi 4 sub-tema, yaitu Exuberant (permainan warna dengan unsur urban dan futuristik), Neo Medieval (romantisme abad pertengahan yang ditampilkan dalam palet netral), Svarga (tabrak corak yang mencerminkan keseimbangan), dan Cortex (inovasi material dalam bentuk siluet dan tekstur yang fleksibel dan dinamis). Keberagaman gaya yang ditampilkan 55 desainer merupakan cerminan dari minat pasar saat ini, terbagi dalam gaya avant garde, urban, muslim, dan evening wear.

Mencirikan rancangan yang kuat pada unsur budaya, kain-kain tradisional seperti tenun dan batik masih jadi primadona. Tidak lagi terkesan old-school, karena di tangan para desainer, keindangan kain tradisional diolah menjadi modern dengan potongan-potongan tidak biasa. Seperti yang terlihat pada rancangan Deden Siswanto, Sofie, Bateeq, Dana Duryatna, Elly Virgowati, dan Ina Priyono yang menonjolkan potongan asimetris pada kain tenun dan motif batik. Tentang permainan warna, keceriaan warna pastel pada kain tenun diaplikasikan oleh Astri Lestari, sementara Lenny Agustin tetap dengan DNA rancangannya yang eclectic dengan menabrakkan warna-warna terang kain batik.

Rancangan busana muslim dan modest wear pun hadir dalam gaya yang lebih modern, namun dengan tidak meninggalkan esensi kenyamanannya. Potongan A-line dan H-line, yang diperkuat dengan kesan romantis dan feminin melalui bahan tulle, satin, organza, lengkap dengan detail bordir dan embellishment diperlihatkan oleh Saffana, Anggia Handmade, Kiki Mahendra, dan Rosie Rahmadi. Di sisi lain, modest wear menjelma dalam gaya urban yang sangat kental dengan nuansa street style, seperti yang diperlihatkan oleh Lisa Fitria dan Hannie Hananto. Juga hadir dalam tampilan edgy dan bold yang terlihat pada rancangan Alvy Oktrisni dan Irma Intan.

Gaya modern kontemporer jelas tidak pernah tertinggal dan akan selalu menjadi gaya klasik sepanjang masa. Danjyo Hiyoji, Wilsen Willim, dan Billy Tjong tentu setia dengan gaya rancangan ini. Ditambah dengan rancangan dari Teknik Kriya ITB dan Yufie Kertaatmaja yang kental dengan gaya urban dan utilitarian. Sementara untuk evening dress, Nafil Apim dan Oka Diputra memperlihatkan siluet feminin dan elegan.

 

Ada banyak gaya dan rancangan yang dipertunjukkan di 23 Fashion District. Sangat variatif dan inovatif. Diharapkan acara ini dapat menginspirasi dan memotivasi desainer maupun pengusaha fashion Kota Kembang pada khususnya untuk terus berkreasi sehingga Bandung tetap mengokohkan dirinya sebagai pusat fashion Indonesia. Dan tidak menutup kemungkinan menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat fashion global.

Artikel Selanjutnya
Bandung Kembali Gelar Fashion Show Akbar dengan Menampilkan Koleksi 55 Desainer Tanah Air