Sukses

Fashion

Memahami etos LifeWear yang jadi panduan kreatif produksi UNIQLO

Fimela.com, Jakarta Dalam kunjungan ke event UNIQLO, The Art and Science of LifeWear pekan lalu di Paris, beruntung sekali FIMELA berkesempatan mewawancarai John C. Jay, President of Global Creative Fast Reatiling Co. Ltd. Otak kreatif yang bergabung dengan UNIQLO sejak 2014 ini adalah salah satu orang paling dicari untuk urusan fashion marketing (ia pernah bekerja untuk Nike dan Bloomingdale), dan disebut sebagai salah satu manusia paling kreatif di dunia tahun 2011 oleh majalah Fast Company. 

Sebelum bergabung dengan UNIQLO, John sudah sempat berkolaborasi dengan merek retail asal Jepang itu dalam sejumlah proyek. Dan bisa ditebak, dengan performa menakjubkan, akhirnya UNIQLO ‘menarik’ John menjadi bagian dari mereka. Dan dari hasil wawancara FIMELA dengan John, sedikit banyak terungkap rahasia bagaimana akhirnya UNIQLO menjadi pilihan fashion yang esensial untuk banyak orang. Bahkan oleh para fashion editor, yang mungkin dari luaran tak terlihat sebagai penggemar UNIQLO.

Berbeda dengan merek fashion kebanyakan, UNIQLO justru menjual konsep LifeWear (yang juga lebih tepat disebut sebagai etos atau falsafah) pada apapun yang mereka buat. Mengutip John Jay, LifeWear adalah konsep yang dipercaya UNIQLO untuk membuat semuanya lebih simple, juga lebih baik. Simple made better. Membuat hidup kita lebih baik.

Pada pameran The Art and Science of LifeWear yang berlangsung di Paris, 26-29 September lalu, menurut John Jay adalah momen yang paling pas untuk mempelajari konsep LifeWear. Di mana fokus utama pameran pertama UNIQLO yang dapat disaksikan publik itu adalah teknologi yang diterapkan pada koleksi pakaian-pakaian rajut mereka.  Sudah menggunakan teknologi WHOLEGARMENT yang sangat canggih (ada mesin khusus untuk produksi macam ini), UNIQLO dapat membuat satu pakaian perempuan utuh dari, katakanlah, 1 gulung benang.

Produksi yang sangat ringkas macam ini, menurut John Jay, adalah masa depan retail. Masa depan gaya berpakaian minimalis. Minimalis tak lagi hanya soal gaya, tapi juga produksi. Dan dengan proses seperti ini, tahap-tahap sampai sampah-sampah yang tak perlu, dapat diminimalisir, bahkan harga pun dapat ditekan (salah satu faktor yang membuat UNIQLO unggul dengan harganya yang cukup terjangkau). Sehingga sangat mendukung visi kelangsungan (sustainabilty) yang juga terus dikejar oleh UNIQLO. Bila produksi macam ini terus dilakukan, tentu bisa dibayangkan peningkatan kualitas hidup yang dapat diraih pada jangka panjang.

“Kualitas hidup yang lebih baik, dengan semua yang lebih ringkas, adalah sesuatu yang dipercaya UNIQLO dan itu kami tawarkan buat pengguna setia selama ini. Motivasi emosional dari LifeWear seperti ini yang membuat banyak orang memilih UNIQLO, bahkan para fashion editor dengan gaya yang selalu terdepan. Pasti ada salah satu dari pakaian mereka yang buatan UNIQLO, entah itu kaos kaki, pakaian dalam, dan lain-lain,” papar John Jay. 

“UNIQLO adalah merek, LifeWear adalah cara kami menjalankan semuanya untuk menuju hidup yang lebih baik. Kelihatannya memang seperti jargon marketing saja, tapi jika dibarengi dengan tindakan yang nyata, dan niat yang baik – karena sejatinya itu lah maksud UNIQLO – kita dapat mengubah dunia dan membawa kebaikan pada sekitar kita. Bahkan bagi para pegawai, kita punya buku panduan yang menjelaskan apa itu LifeWear,” jelas John Jay lagi.

Dan falsafah ini terbukti sudah menyentuh jutaan konsumen secara personal. Sisi pemasaran yang menjadi fokus utama John Jay. UNIQLO mampu berkembang pesat di seluruh dunia, tak hanya Jepang, karena falsafah yang dipegang UNIQLO juga ternyata dipercaya oleh konsumen di banyak negara. “Kita membangun empati, dan kepercayaan. Kita tak ingin mengkhianati kepercayaan itu,” tutup John Jay.

Loading
Artikel Selanjutnya
Uniqlo Tutup Tahun dengan Program Spesial Arigato Indonesia
Artikel Selanjutnya
Deretan Desain Marimekko dalam Koleksi Fashion Terkini