Sukses

Fashion

Fimela Historia: Fakta Menarik Tentang Sneaker yang Perlu Kamu Tahu

Fimela.com, Jakarta Kini, Sneaker tidak hanya digunakan untuk berolahraga, melainkan sudah menjadi item fashion yang wajib dimiliki untuk setiap orang untuk menunjang penampilannya.

Sebenarnya sneakers sendiri telah ada sejak dahulu, dilansir dari sneakers.co.id, koleksi sneakers juga telah ada sebagai bagian dari subkultur perkotaan di Amerika Serikat sejak 1924.

Beberapa dekade terakhir, tren ini menyebar ke negara-negara Eropa seperti Republik Ceko. Sneakerhead adalah orang yang memiliki beberapa pasang sneakers sebagai bentuk koleksi dan mode.

Penyumbang pertumbuhan kolektor sneakers adalah popularitas seluruh dunia dari jajaran Air Jordan yang dirancang oleh Nike untuk bintang Basket Michael Jordan.

Sneakers paling awal tanggal kembali ke 1876 di Britania Raya, ketika New Liverpool Rubber Company membuat plimsolls, atau sandshoes, yang dirancang untuk olahraga kroket.

Kemudian tahun 1892 di Amerika Serikat oleh Humphrey O’Sullivan, berdasarkan teknologi Charles Goodyear. Perusahaan Karet Amerika Serikat didirikan pada tahun yang sama dan memproduksi sneakers dan bertumit di bawah berbagai nama merek, yang kemudian dikonsolidasikan pada tahun 1916 dengan nama, Keds.

Keds bisa dibilang merupakan salah satu brand sneakers tertua di dunia, dan brand sepatu pertama yang memproduksi sneakers secara massal. 

Pada tahun 1964, pendirian Nike oleh Phil Knight dan Bill Bowerman dari University of Oregon memperkenalkan banyak perbaikan kepada sepatu sneakers seperti sol karet wafel, atasan nilon, dan bantalan di bagian tengah dan tumit.

Selama tahun 1970-an, keahlian podiatris juga menjadi penting dalam desain sepatu atletik, untuk menerapkan fitur desain baru berdasarkan pada bagaimana kaki bereaksi terhadap tindakan tertentu, seperti berlari, melompat, atau gerakan sisi ke sisi. Sepatu atletik untuk wanita juga dirancang untuk perbedaan fisiologis spesifik mereka.

Sneakers sendiri berasal dari kata 'sneak' yang berarti mengendap-endap. Tidak seperti high heels atau boots, karena terbuat dari sol karet maka saat memakai sepatu ini, tidak akan terdengar langkah kaki ketika berjalan. Jadi karena sepatu ini tak menimbulkan suara, maka orang mengasosiasikan bahwa orang yang memakai sneakers bisa menyelinap atau mengendap-endap.

Tren sneakers semakin meningkat

Anugrah Aditya, Sneaker Enthusiast & Content Creator mengatakan untuk Amerika dan Eropa dari tahun 1990an tren sneakers tidak pernah surut. Sedangkan di Indonesia, tren sneakers semakin meningkat di tahun 2014-2015.

Di mana Adidas berkolaborasi dengan artis ternama Kanye West. Mereka pun membuat satu sepatu dengan siluet Yeezy. Kemudian sepatu ini pun mulai digandrungi oleh para fans Kanye West.

“Pada awalnya dan didongkrak sama desain yang cukup keren dan kebetulan di tahun tersebut hampir semua rumah fashion di Eropa, di dunia itu mengadopsi gaya sports look. Itu juga yang saya rasa bikin trend di dunia bergairah lagi terutama di Indonesia yang di mana orang Indonesia itu very high consumtive untuk bisa merepresentasikan dirinya sendiri terkadang melalui barang-barang high fashion dan disitulah di mana sneaker mulai masuk ke ranah fashion,” ujar pemilik akun Instagram @adityalogy kepada fimela.com

Sneakers dari masa ke masa

Aditya menjelaskan snekaers long last adalah Converse Chuck Taylor, itu satu sneaker yang tidak pernah mati, Vans Oldskul, dan Air Jordan1 karena salah satu kolaborasi yang paling berhasil antara satu brand sepatu dan satu atlit yang cukup ikonik adalah Nike Air Jordan1 di mana sampai sekarang itu bukan hanya pria pria, perempuan juga sudah banyak yang menggunakannya.

 “Kolaborasinya juga banyak banget seperti sama Vogue, kolaborasi sama Anna Wintour, jadi memang Jordan itu sekarang jadi all around casual shoes. Dan itu sih sebeneranya yang bisa di pin point sneaker-sneaker yang bisa tidak termakan zaman. Ada Converse Chuck Taylor, ada adidas Stan Smith, ada Vans Oldskul dan Nike Air Jordan1 kurang lebih itu,” papernya. 

Ada beberapa fakta menarik tentang sneakers, Aditya pun mengatakan salag satunya ialah dari brand Adidas,  salah satu company tertua di dunia di mana awalnya didirikan oleh dua bersaudara Adi Dassler dan Rudolf Dassler, jadilah Dassler bersaudara. Kemudian terjadi cek-cok dan akhirnya mereka pisah. Alhasil, Adi Dassler membentuk Adiidas dan Rudolf Dassler membentuk Puma. Jadi Puma dan Adidas itu adalah company yang awalnya satu, The Dassler Brothers Company, kemudian menjadi dua yang terpisah. 

Serta Chuck Taylor All Star, jadi Chuck Taylor adalah nama orang dan All Star adalah nama tim basket. Chuck Taylor adalah endorser pertama dalam sejarah sneaker di mana salah seorang atlit itu meng-endrose sepatu dimasukan ke dalam tim basketnya Converse dan dibuatkan sepatu. Maka diberi nama Converse Chuck Taylor All Star.

Menurut Jeffry Jouw, salah satu entrepreneur dan pecinta sneakers mengatakan, sneakers sendiri terkenal untuk bermain basket, kemudian barulah tren untuk lifestyle. 

Koleksi sepatu

Aditya sendiri mengaku sudah menyukai sneakers sudah sejak lama. Namun, pada tahun 2016 dirinya mulai meng-consider jika sepatu itu satu item yang ia suka.

"karena saya udah mulai sering nggak bisa tidur kepikiran banget kalo ada siluet satu bentuk sepatu yang disuka banget kalo gak ke beli rasanya jadi wah gimana banget, jadi kayaknya satu attachment sama sneakers ini dan mungkin sejak tahun 2015-2016," paparnya.

Menurutnya, sneakers salah satu wearable tech yang paling nyata dibanding yang lain. "Jika sekarang ada smartwatch, sekarang ada macem-macem deh wearable tech tapi orang pada lupa kalau wearable tech sesungguhnya itu adalah sneakers di mana suatu alas kaki dipikirkan sebegitu demikian rupa rumitnya sebagai penunjang kita berdiri, mencegah agar kita tidak cedera ketika ber-olahraga dengan berbagai macam fungsioniltasnya sehingga gue memandang sneakers itu sebagai teknologi," ucapnya.

Kini, ia pun sudah memiliki kurang lebih, 30 koleksi sneakers. Dan yang pertama kali ia beli ialah sneakers Converse Jack Purcell Cross Stitch tahun 2014.

"Paling jauh beli di London kali ya, biasanya disesuaikan saya traveling aja gak pernah terlalu nyari yang gimana-gimana banget. Kalo kebetulan lagi traveling ada rilis khusus yang diberitakan media maupun sosial media di tanggal kebetulan lagi traveling biasanya akan coba untuk membelinya. Jadi kalo paling jauh bisa dibilang London. Paling mahal berapa, paling mahal itu di US 720 dollar, Nike Hyperadapt 1.0, jadi Nike itu adalah self lacing Nike, yang kita kalo masukin kaki kita ke sepatu tersebut, sepatunya mengikat dengan sendirinya karena ada motor di dalamnya dan chargeable. Itu sepatu dengan teknologi pertama yang bisa seperti itu, namanya Nike Hyperadapt 1.0," tutupnya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Beragam Ide Perayaan Akhir Tahun yang Menyenangkan di Jakarta
Artikel Selanjutnya
Mengulik Pembuatan Tauco Pertama di Cianjur