Sukses

Fashion

Review: Novel The Castle in the Pyreness - Jostein Gaarder

Judul: The Castle in the Pyreness
Penulis: Jostein Gaarder
Penerjemah: Irwan Syahrir
Cetakan pertama, Maret 2018
Penerbit Mizan

Bagaimana keyakinanmu tentang hal-hal yang tak kau ketahui jawabannya?

Selama lima tahun, Steinn dan Solrun hidup bersama dengan bahagia. Namun, semua berubah ketika dalam perjalanan ke pegunungan, mereka menabrak seorang nenek. Sejak kejadian itu, mereka berpisah, dan jalan hidup mereka saling menyimpang. Tiga puluh tahun kemudian, Steinn dan Solrun bertemu di balkon sebuah hotel. Hotel tempat tujuan mereka berlibur tiga puluh tahun lalu, sebelum kejadian tabrak lari itu terjadi.

Apa yang sebenarnya terjadi tiga puluh tahun lalu? Benarkah mereka telah melakukan pembunuhan tak disengaja? Tetapi mengapa tak ada berita maupun tak ada yang melaporkan tentang tertabraknya seorang wanita tua?

The Castle in the Pyrenees, karya Jostein Gaarder yang mempertanyakan tentang jiwa dan nurani manusia, melalui hubungan dua anak manusia. Kisah yang mengeksplorasi posisi kesadaran manusia di semesta. Bisakah sains menjelaskan semuanya, ataukah ada daya tak terlihat yang memengaruhi kehidupan kita?

***

Apa itu kebetulan? Apa itu takdir? Apa itu hidup? Kalau kamu disuruh menjabarkan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan tersebut, kira-kira apa yang akan kamu katakan, ladies?

The Castle in the Pyrenees, karya Jostein Gaarder ini bisa memberi banyak pandangan baru untukmu. Masih dengan gaya khasnya, Gaarder menjadikan berbagai macam isu filsafat bisa lebih mudah dicerna dengan rangkaian cerita yang tak biasa. Kali ini di buku ini, kita akan disuguhi kisah Solrun dan Stein.

Novel The Castle in the Pyreness./Copyright Vemale

Saat berkuliah di usia 19 tahun, Solrun dan Stein bertemu untuk pertama kalinya. Keduanya adalah individu yang sebenarnya sangat berbeda satu sama lain. Namun, justru bisa saling melengkapi. Ada satu persamaan mereka, yaitu sama-sama suka melakukan perjalanan (traveling).

Sayangnya setelah tinggal bersama selama lima tahun, sebuah peristiwa membuat mereka harus berpisah. Keduanya lalu menjalani hidup masing-masing, sudah memiliki keluarga sendiri-sendiri. Namun, siapa sangka 30 tahun kemudian mereka kembali bertemu.

Solrun dan Stein kembali bertemu di hotel tempat mereka dulu pernah menginap. Soltun menganggap itu takdir tapi Stein memaknainya tak lebih dari sebuah kebetulan. Dari pertemuan kembali itu, mereka menjalin komunikasi.

The Castle in the Pyreness./Copyright Vemale

Komunikasi yang dijalin pun sangat unik. Mereka berkomunikasi via email dengan peraturan setiap email yang sudah dibaca harus langsung dihapus. Melalui rangkaian email itu pula, mereka mengobrolkan banyak hal.

Dalam kurun waktu 30 tahun, Solrun dan Stein tumbuh menjadi pribadi yang makin berbeda. Solrun adalah seorang spiritualis, sedangkan Stein adalah ilmuwan murni yang tak percaya Tuhan. Di situlah kemudian mereka jadi mendiskusikan banyak hal dengan sudut pandang masing-masing. Peristiwa yang terjadi 30 tahun lalu pun kembali dibicarakan oleh Solrun dan Stein.

Obrolan-obrolan tentang kehidupan, kebetulan, hingga kematian mereka bicarakan dengan pandangan masing-masing. Tidak saling memaksakan pendapat atau menyudutkan pandangan. Membaca novel ini membuat mata kita jadi lebih lebar bisa memaknai sesuatu dengan dua sudut pandang yang berbeda.

The Castle in the Pyreness tak hanya memberi kita suguhan cerita fiksi. Lebih dari itu, kita juga akan diajak untuk belajar berbagai hal menarik dan penting dalam kajian filsafat. Ada banyak informasi baru yang akan membuat kita tercengang dan ikut berpikir lebih dalam.






(vem/nda)
Loading
Artikel Selanjutnya
Review Trials Of Apollo #2: The Dark Prophecy - Rick Riordan
Artikel Selanjutnya
Review: Buku Pirates and Emperors - Noam Chomsky