Sukses

Fashion

Fashion ForWords, Wadah Bebas Berekspresi Lewat Pameran Busana dan Seni

Fimela.com, Jakarta Berbagai ajang fashion menjadi saksi perkembangan tren mode di tanah air dan global. Namun bagaiana jadinya ketika fashion berkolaborasi dengan seni yang menjunjung tinggi kebebasan, tanpa terbatas pada permintaan dan selera pasar. Hal ini yang dihadirkan Fashion ForWords.

Fashion ForWords, sebuah ajang fashion yang digagas oleh InterSastra, dengan dukungan Koalisi Seni Indonesia dan Kedutaan Besar Norwegia, resmi dibuka. Bagian dari Creative Freedom Festival 2018-2019, Fashion ForWords mengeksplorasi medium fashion untuk menyuarakan isu kebebasan berekspresi.

Awal tahun ini, RUU Permusikan ramai menimbulkan kontroversi karena pasal-pasal yang dinilai berpotensi membatasi kreativitas dan mengkriminalisasi pekerja musik hanya karena karyanya tidak disukai oleh penguasa. Selain itu, sejak 2015 kembali banyak terjadi pembredelan dan penyerangan terhadap acara budaya dan diskusi.

Semua ini merupakan ancaman terhadap kebebasan berekspresi warga negara. Ide untuk Fashion ForWords ini muncul setelah novelis Eliza Vitri Handayani mendapat kabar bahwa peluncuran novelnya From Now On Everything Will Be Different di Ubud Writers & Readers Festival 2015 telah dibatalkan karena adanya keberatan dari polisi.

Untuk menanggapi pembatalan tersebut, Eliza melakukan protes dengan fashion, yakni kaos yang disablon dengan kutipan-kutipan novelnya.

“Dari situ aku jadi ingin melakukan eksplorasi yang lebih luas lagi. Aku terpikir, kenapa dunia sastra dan fashion sangat terpisah, padahal pakaian dan pikiran sama-sama sering dibatasi dan diseragamkan di negara kita. Aku ingin bekerja bersama seniman-seniman yang punya perhatian serupa, aku ingin tahu belenggu apa saja yang mereka rasakan, dan bagaimana busana dapat menjadi medium pembebasan,” kata Eliza, yang juga pendiri InterSastra dan penggagas serta pengarah acara Fashion ForWords.

Fashion ForWords diawali dengan sebuah pentas fashion yang disutradarai oleh Heliana Sinaga, dan menampilkan karya-karya dari empat seniman: Ayudilamar, A. Andamari, Wangsit Firmantika, dan Kolektif As-Salam. Kurator untuk Fashion ForWords, Ika Vantiani, memilih seniman-seniman tersebut berdasarkan perspektif kemanusiaan pada karya kreatif mereka.

Ayudilamar, berkolaborasi dengan Federasi Buruh Lintas Pabrik (FBLP), yang memperjuangkan hak-hak dan kesetaraan bagi para buruh. Sehari-hari para buruh menjahit ratusan baju di pabrik, tapi tak pernah memiliki sendiri baju-baju itu, tidak diundang ke peluncuran koleksi fashion itu, dan tidak mendapat bagian keuntungan dari penjualan baju-baju itu.

 

Fashion ForWords

Untuk karyanya di Fashion ForWords, Ayudilamar membalik semua itu. Ia membuat pakaian untuk 8 orang buruh perwakilan FBLP, berdasarkan gambaran dari mereka dan wawancara tentang siapa mereka, apa kegelisahan dan kekuatan mereka. Para perwakilan buruh ini juga tampil sebagai model di pentas fesyen Fashion ForWords.

Sementara Andamari mempertunjukkan empat karya yang menanggapi intaian terhadap tubuh dan pakaian perempuan.

“Tubuh perempuan terus-menerus dilihat sebagai objek. Perempuan tidak merasa aman, tidak dapat bergerak bebas dan mengekspresikan diri,” kata Andamari.

Dalam karyanya Men.On.Pause, Wangsit Firmantika merekonstruksi pakaian laki-laki yang ditemukannya di toko-toko dan memadukannya dengan unsur-unsur lain, seperti tutu dan boneka. Karyanya mengajak kita merombak asumsi kita tentang laki-laki: ia tak mesti kasar, jorok, atau kekar. Ia boleh saja menangis, suka memasak, atau apa pun.

“Pakaian untuk laki-laki selalu terbatas dalam pilihan variasi, bentuk, dan warna. Hal ini membuat masyarakat kita cenderung mencemooh ketika melihat laki-laki berdandan di luar kebiasaan. Padahal, laki-laki punya banyak sekali ragam ekspresi,” tutup Wangsit.

Loading
Artikel Selanjutnya
Menonton Video Karya Seniman Prancis Laurent Montaron di Ubud
Artikel Selanjutnya
Adaptasi Gaya Manhattan dari Kain Peradaban Sumatera Utara Ala Edward Hutabarat