Sukses

Fashion

IFC Bagikan Semangat dan Dukungan untuk UKM Bertahan di Era New Normal

Fimela.com, Jakarta Selama pandemi virus corona, masyarakat dipaksa untuk tetap berada di rumah untuk mencegah penyebaran. Dampaknya terasa pada industri fashion yang semakin kurang pembeli. Dengan kata lain penjualan dan pendapatan menurun. Berangkat dari ketakutan yang dirasakan para Usaha Kecil Menengah (UKM) ini, desainer yang tergabung dalam Indonesia Fashion Chamber (IfC) memberikan inspirasi dan semangat kepada pelaku UKM lewat pengalaman mereka selama pandemi dan bersiap menuju era new normal.

Tidak hanya dampak negatif yang dirasakan para desainer, melainkan juga ada sisi positif yang didapatkan selama pandemi dan new normal ini. Berikut pengalaman menghadapi masa pandemi yang dibagikan 5 desainer IFC yang bisa dijadikan inspirasi dan memberikan dampak yang positif pada brand masing masing, dirangkum Fimela, Rabu (24/6/2020).

1. Rosie Rahmadi

Untuk menghadapi situasi sulit seperti pandemi ini, yang terpenting sebagai pengusaha mental kita harus kuat dahulu mulai dari keluarga, teman, hingga karyawan. Rosie menuturkan dirinya beruntung karena sebelum pandemi, di bulan Februari ada event MUFFEST, sehingga sudah banyak pesanan untuk lebaran.

Karena outlet ditutup, pengerjaan pesanan dilakukan dari rumah atau separuh kerja, sebagiannya lagi masuk di workshop, sementara Rosie sendiri dalam seminggu 2 hingga 3 kali terjun langsung dalam proses produksi.

"Saya yakin bahwa sebuah brand itu tidak boleh hilang dalam pikiran konsumen, sehingga dalam kondisi seperti ini saya tetap eksis di media sosial. Untuk masa pandemi saya memproduksi jaket yang akan menjadi ikon dalam brand saya Gadiza," kata Rosie

Dengan mencoba hal yang baru dan menyesuaikan permintaan pembeli di saat kondisi seperti ini, sudah lebih 300 pesanan diterima Rosie. Bahkan ada warna baru seperti hitam yang diminati masyarakat. Jaket yang bisa digunakan sebagai outer pelindung diri ini menjadi cara Rosie bertahan dan tetap eksis di masa pandemi dan siap untuk new normal.

2. Khairul Fajri

Aceh sudah langsung diberlakukan jam malam sejak adanya pandemi virus corona. Sehingga berdampak pada penjualan Khairul Fajri dengan brand Ija Kroeng yang hanya mengandalkan sistem offline. Biasanya wisatawan domestik dari Jakarta datang untuk membeli souvenir. Yang menjadi andalan brand ini adalah sarung yang lebih modern untuk pria muda  di event pemerintahan.

Karena sarung tidak ada penjualan, Khairul Fajri meliat peluang untuk membuat masker kain untuk pemenuhan kebutuhan masyarakat. Tantangannya untuk desainer daerah susah untuk mendapatkan bahan yang sama kayak di Jakarta atau kota besar lainnya.

Sehingga mengasah kreativitasnya untuk membuat masker kain dengan menciptakan pola baru yang sederhana dan cepat. Meski sederhana masker ini tetap dibuat fashionable. Hal ini menarik perhatian media yang datang ke workshop, baik dari daerah maupun luar kota, bahkan ada media dari Perancis sempat mampir untuk melihat.

Stragegi lainnya, brand ini melakukan pendekatan ke perusahaan dan pemerintahan dengan membuat masker menggunakan logo mereka. Sehingga brand ini mendapatkan pesanan hingga 700 masker. Berangkat dari sini, masyarakat juga tahu bahwa brand ini selain menjual masker juga ada sarung dan baju.

Sehingga di bulan Ramadan Ija Kroeng tetap merilis koleksi baru karena permintaan konsumen. Di era new normal, Ija Kroeng juga memanfaatkan peluang dengan membuat masker untuk pernikahan. Mulai dari pengantin hingga masker yang dibagikan sebagai souvenir dengan inisial kedua mempelai.

3. Phillip Iswardhono

Berbeda dengan Phillip Iswardhono yang melihat setiap musibah dari sisi positif. Tidak hanya mengenai omset ratusan juta, namun bisa melakukannya dengan skala kecil. Seperti produk kain lurik yang menjadi andalan Philip dengan pelanggan tersebar di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, dan Yogyakarta.

Minggu pertama hingga kedua pandemi brand tidak mengalami kegugupan karena masih ada pesanan dari sebelum pandemi. Setelah minggu kedua saat orderan berkurang, muncul ide baru untuk tetap jualan dengan terjun langsung dan membangun networkong dengan konsumen.

"Saya mulai membangun networking kembali, menghubungi clien-clien lewat whatsapp hanya menyapa, kalau dapat alamat dikirimkan masker sebagai hadiah. Sehingga mulai ada pesanan dan efek positif, kami bahkan menarik perhatian client-client yang udah lama tidak melakukan pembelian," kata Philip.

Dari jualan masker seharga Rp3.500 dari kain perca, sampai masker seharga Rp 1 juta rupiah dengan bahan kain tenun langka menjadi sisi positif di tengah pandemi. Bahkan Philip mendapatkan pesanan dari museum peranakan di Singapura sebanyak 1860 masker dengan motif-motif batik peranakan.

Menurutnya kesulitan untuk mengirim ke luar negeri jangan dihadapi dengan gugup, menyikapi secara hati-hati dan tidak putus asa. Kini, brand ini tidak mengurangi malah menambah penjahit baru dan membuat pengrajin kain-kain tenun khususnya lurik tetap beraktifitas.

 

4. Hannie Hananto

Langkah awal yang dilakukan Hannie Hananto adalah dengan tetap bersemangat meski dalam kondisi pandemi. Infrastruktur yang utama sudah harus dibenahi yaitu dengan merubah sistem, penjahit ada yang dikerjakan di Sumedang dan Jakarta sehingga tidak sampai melakukan PHK.

"Pada saat itu Brand saya Hannie Hananto dan Anemone by hannie Hananto berupa kartun-kartun dan polkadot, semuanya serba print. Ada event di makassar yang cancel di masa pandemi ini, karena sudah ada stock produksi dan persiapan yang matang akhirnya lewat media tiktok tetap dilakukan dan bisa teratasi. Tiktok itu mudah dan buat videonya bisa diedit, selain itu perlu adanya interaksi antara desainer dengan konsumen, agar brand tidak tenggelam, lewat tiktok ini bisa menyapa pelanggan," kata Hannie Hananto.

Kemudian saat masker mulai langka di pasaran, Hannie berpikir untuk membuat sendiri dengan motif andalannya. Kemudian dipasarkan melalui media sosial, sehingga mendapatkan hasil yang baik untuk permintaannya. Saya melakukan marketing jaman baru dan mengikuti perubahan zaman sehingga tetap bisa bertahan pada kondisi tersulit sekalipun.

 

5. Riri Rengganis

"Saya sadar bahwa bertahan atau tidaknya kita sebagai desainer tergantung dari masing-masing. Karena ada faktor yang mereka sudah punya atau tidak, seperti modal yang besar, loyal customer, dan lainnya.," kata Riri Rengganis.

Riri Rengganis selalu mengangkat bahan tekstil dari awal. Namun karena akhirnya daya beli yang berkurang selama pandemi bahkan April sudah benar-benar mulai stop produksi karena semua mall sudah tutup sementara brand ini dijual di pusat perbelanjaan tersebut.

Strategi pertama yang dilakukannya adalah dengan mengumpulkan data pelanggan, hanya untuk menyapa, namun masih sulit karena mengingat harga baju di atas 1 juta. Akhirnya Riri melakukan evaluasi produk, bikin menu baru di website, menjual kain-kain yang ada di kantor karena itu tititpan dari pengrajin, tapi foto tetap harus yang bagus.

Diminggu pertama mendapat antusias yang baik, terlebih belum banyak masker premium saat itu. Membuat masker dengan motif dari baju koleksi lama yang sudah dimiliki pelanggan responnya sangat bagus. Animo semakin besar bahkan sekarang menambah penjahit dan berbagi dengan temen-teman desainer yang lain.

Masker ini sebagai alat marketing untuk mendatangkan pelanggan baru. Tiga minggu jualan masker, sampai sekarang telah memproduksi 2000 masker dengan rentang harga Rp75.000-Rp125.000. Kini masker juga dikirim ke Singapura untuk perusahaan sebagai hadiah lebaran mereka.

#changemaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Pesona Anggun Tara Basro dengan Gaun Pengantin Putih Satin
Artikel Selanjutnya
Romantisme Sederhana tanpa Basa-Basi dalam Chanel Ready to Wear FW 2020/2021