KAPANLAGI NETWORK
MORE

Sebelum Ucapkan “I Do”, Cek Rekomendasi Gaun Pernikahan Ini Dulu

Selasa, 14 Februari 2017 19:45 Oleh: Stanley Dirgapradja

Dengan budget yang sesuai, setiap pasangan yang akan menikah bisa dapatkan wedding gown - juga pernikahan impian. Dan beberapa designer menyesuaikan karya mereka dengan kebutuhan pasar.

Menurut data yang dilansir Bride Story, nilai bisnis berbasi pernikahan terus meningkat setiap tahunnya. Setidaknya ada perputaran uang 7 Miliar Dollar Amerika Serikat pertahun, di Indonesia saja. Jumlah ini pasti didukung oleh karakter upacara pernikahan tanah air yang sebagian masih menjadi pertunjukkan status sosial. Bayangkan pernikahan yang dipersiapkan selama setahun, dan semua uang yang harus dikeluarkan calon pengantin selama waktu itu. Dari gedung, katering, dokumentasi, dan tentunya gaun pernikahan.

FIMELA mengunjungi Bride Story Fair akhir pekan lalu di Sheraton Gandaria, Jakarta Selatan dan melihat karya-karya gaun pernikahan beberapa desainer kenamaan Indonesia sekaligus mencari tahu pendapat mereka tentang industri pernikahan saat ini.

"Sebenernya beberapa designer memang sudah sering membuat gaun pernikahan, mengerjakan evening dress untuk klien dan pengantin memang sudah lama aku kerjakan, tetapi memang tidak di-branding sendiri koleksi pengantinnya, dan hal ini memang lumrah dilakukan oleh seorang designer terutama yang menerima customs design atau yang biasa membuat rancangan bergaya couture atau adibusana," cerita designer Mel Ahyar yang memiliki lini Mel Ahyar Bride yang masih bernaung di dalam couture house miliknya.

SVARNA BY IKAT INDONESIA

Salah satu pemain kuat di ranah wedding gown adalah fashion designer Didiet Maulana, yang beberapa waktu terakhir semakin dikenal luas lewat lini Svarna by IKAT Indonesia-nya. Gaun-gaun pernikahan yang kental dengan elemen tradisional namun mendapat upgrade dengan detail-detail yang refined. “Wedding market Indonesia punya demand yang tinggi, dan sudah pasti karena selalu ada orang yang menikah, bukan?” cerita Didiet yang memberikan private tour pada FIMELA tentang beberapa gaun pernikahan bergaya tradisional yang ia buat untuk kliennya – salah satunya Andien, yang gaun pernikahannya juga ikut dipamerkan.

Untuk salah satu klien, Didiet bahkan melakukan riset langsung ke Aceh untuk bisa menangkap aksen-aksen budaya yang akan ia aplikasikan di rancangannya. Entah itu tambahan permata, aplique, bagaimana menerapkan kain yang sesuai, sampai pola warna yang bisa saja disesuaikan dengan status sosial. You know, di beberapa daerah di Indonesia strata masih sangat dipertimbangkan untuk menikah. So, if you want to inject a strong heritage to your wedding gown, Didiet would do that for you.

SVARNA BY IKAT INDONESIA oleh DIDIET MAULANA

Ada pula Sapto Djojokartiko yang memahami bahwa selalu ada calon pengantin yang tak punya banyak waktu, sehingga ia menyiapkan 5 blueprint gaun dari lini bridalnya (bergaya elegan, modern juga mendetail) yang disesuaikan dengan ukuran tubuh calon pengantin. “Kultur Indonesia itu menyenangkan untuk industri pernikahan. Masih banyak yang senang untuk jor joran urusan spending. Jadi sebagai designer kita juga lebih leluasa berkreasi,” cerita Sapto yang juga menyempatkan diri untuk bertemu calon klien di Bride Story Fair akhir pekan lalu.

SAPTO DJOJOKARTIKO BRIDAL

For the artistic love in you and your couple, kami melihat kreasi Auguste Soesastro di label Kraton dengan kreasi gaun pernikahan minimalis, hampir terlihat futuristik. See it for yourself. Also for your consideration, lini Mel Ahyar Bridal yang menyajikan karya gaun pernikahan dengan pendekatan couture (so much details, tapi Mel juga nampak tak masalah bermain di ranah heritage).

"Bisnis pernikahan adalah salah satu bisnis yang setiap tahunnya nggak pernah pudar baik, mau krisis ekonomi ataupun tidak, wedding bisnis nggak pernah sepi, Termasuk di Indonesia, apalagi di Indonesia udah sangat membudaya bahwa pernikahan dilakukan dengan persiapan dan kapasitas yang besar," papar Mel Ahyar lagi.

Dengan bakat-bakat fashion di tanah air, tak heran bila kita akan melihat lebih beragam lagi gaun pernikahan di waktu ke depan. Sesuatu dengan pendekatan yang lebih artisanal, atau tidak seperti pakem gaun-gaun pernikahan konvensional. Tak melulu putih, tak melulu romantis, tapi tetap memanjakan mata, dan memberikan kenangan tak terlupakan sepanjang hayat.

MEL AHYAR BRIDAL

KRATON by AUGUSTE SOESASTRO

Komentar Anda
Keep going