Sukses

Fashion

Fashion Film, Menggeser Peran Fotografer Fashion?

Next

a scene from

Petualangan kami menikmati fashion film dimulai dengan persembahan butik high end The Papilion di kawasan Kemang, untuk memperkenalkan koleksi-koleksi terbaru mereka. Deretan label-label premium seperti Carven, Comme des Garcons, Junya Watanabe, Dries van Noten, Proenza Schouler, Stella McCartney, sampai Tsumori Chisato terlihat menjadi wardrobe yang dikenakan 2 pemeran utama film fashion pendek berjudul Easy as Pie.

“Kami ingin mencoba bercerita, dengan cara fashion. Karena fashion juga sebenarnya adalah story telling, sementara film adalah media story telling yang paling tepat,” cerita Kania Pasaman, retail brand executive untuk The Papilion. Ini menjadi pendekatan segar untuk memperkenalkan koleksi-koleksi retail terbaru, ketimbang mengundang sekian banyak orang ke butik – yang sudah terlalu awam.

Tidak main-main, fashion film dengan mood retro yang fun dan menampilkan banyak warna-warna cerah ini menggunakan jasa Yadi Sugandi sebagai Director of Photography. Yadi adalah mata brilian yang sudah bekerja untuk banyak film Nasional, di antarnya Laskar Pelangi.

Berikutnya, kami disuguhkan 7 fashion film sekaligus. Sebagai bagian dari Jakarta Fashion Week 2014, dengan tema “Dressing The Screen” beberapa desainer yang tergabung di gelombang pertama ini (tahun depan, British Council sebagai salah satu co-supporter inisiatif ini nampaknya akan mengajak lebih banyak desainer untuk mempresentasikan koleksi-koleksi mereka lewat fashion film) antara lain Viviona Ng, Albert Yanuar, Jeffry Tan, Toton Januar, dan Yosafat Dwi Kurniawan.

Next

 

Bagi Jakarta Fashion Week sendiri, ini adalah untuk pertama kalinya pemutaran fashion film menjadi salah satu agenda kegiatan mereka. So, next year  fashion week nggak melulu tentang presentasi trend fashion terbaru di runway tapi juga kita bisa mengharapkan untuk menikmati fashion film buatan desainer-desainer fashion terpilih.

Sebagian besar label dan desainer fashion yang terlibat kegiatan ini mengaku, ini adalah kali pertama mereka membuat karya atau presentasi seperti itu.  Proses yang dijalani dengan bimbingan 3 mentor terpilih seperti  Kathryn Ferguson, Marie Schuller, dan Carri Munden. Kathryn adalah salah satu kontributor untuk SHOW Studio di London.  Ia sudah pernah berkolaborasi dengan banyak nama terkenal, di antaranya Lady Gaga. Marie Schuller adalah pembuat film yang bekerja langsung untuk SHOW Studio. Terakhir, Carri Munden adalah desainer fashion yang karyanya sudah banyak dipakai selebriti seperti Kanye West dan Rihanna.

“Fashion film jadi platform yang bagus untuk mempresentasikan material-material rancangan saya dengan lebih jelas. Tekstur dan bahan juga bisa lebih divisualisasikan mendetail. Penggunaan teknologi di tingkat yang berbeda untuk memperkenalkan baju-baju saya,” jelas Yosafat, yang menggunakan konsep surealis di fashion filmnya.

Sementara itu, Albert Yanuar mengaku fashion film membantunya untuk menunjukkan secara jelas rancangan-rancangannya yang kebanyakan bertema transformasi. “Fashion film adalah paket lengkap audio dan imaji, sangat membantu untuk menyampaikan idealisme saya sebagai seorang desainer fashion,” ungkapnya di kesempatan yang sama.

Dengan belum banyaknya fashion film yang dibuat oleh para desainer-desainer fashion lokal, prospek kehadiran media yang tidak terlalu baru di lingkup fashion ini tentu menjadi sangat menarik.  Karya-karya lokal tentu masih jauh dari menghibur dan powerful.“Dressing the Screen” tahap awal ini, tentu masih butuh banyak peningkatan. Desainer-desainer yang terlibat masih harus memaksimalkan brain storming kreatif mereka. Persiapan yang begitu pendek, terbukti menjadi down side dari hasil akhir yang bisa saja kurang memuaskan.

What's On Fimela
Loading