Sukses

Health

Gejala COVID-19 yang Paling Banyak Ditemui Dokter saat Ini

Fimela.com, Jakarta Ada banyak hal yang berubah dalam satu tahun ini tentang pandemi COVID-19 yang melanda dunia, termasuk munculnya varian baru. Inilah mengapa, cara virus ini memengaruhi orang juga berubah.

Saat ini, ada beberapa gejala COVID-19 yang paling umum ditemui oleh dokter, seperti dilansir dari huffpost.com. Penasaran?

Gejala paling umum adalah batuk, demam, dan kehilangan indra perasa, dan penciuman

Sejak pandemi COVID-19 dimulai, gejala yang paling umum adalah batuk (kering), sesak napas, demam, dan hilangnya indra perasa dan penciuman secara tiba-tiba. Namun, ini bukan satu-satunya gejala yang sering terjadi, banyak orang juga melaporkan sakit kepala, hingga diare.

Gejala peringatan darurat COVID-19 juga hampir sama, termasuk kesulitan bernaps, nyeri pada dada terus menerus, dan masalah kesehatan mental yang baru.

 

Dengan adanya varian Delta, gejala COVID-19 mungkin lebih mirip flu biasa

Varian Delta beredar luas di seluruh dunia saat ini. Informasi yang didapatkan dari Inggris dan Eropa, serta Amerika Serikat mengatakan bahwa infeksi virus Delta tampaknya lebih cenderung menghasilkan gejala seperti flu biasa, seperti sakit tenggorokan, batuk ringan, dan hidung tersumbat.

Gejala COVID-19 yang dilihat sebelumnya justru lebih jarang terjadi, seperti sesak pernapasan dan demam. Para ahli belum memahami mengapa gejalanya bisa berbeda, namun pada saat yang sama, mereka sedang mengeksplorasi bagaimana setiap varian diklasifikasikan sebagai "of concern" dan "of interest" yang mungkin berbeda dalam hal kemampuan mereka menularkan atau membuat orang lebih atau kurang sakit.

 

Varian virus Corona yang baru bisa membuat orang lebih sakit

Walaupun beberapa orang yang terinfeksi varian Delta memiliki gejala seperti flu biasa, ada bukti yang menunjukkan bahwa gejala yang dialami orang lain mungkin terasa lebih berat. Data yang saat ini keluar dari Inggris dan Skotlandia menunjukkan bahwa tingkat keparahan penyakit bisa meningkat dan mungkin mengarah pada peningkatan risiko rawat inap. Orang yang belum atau tidak divaksin sangat rentan karena varian baru, khususnya varian Delta menular sangat cepat dan mungkin menyebabkan penyakit yang lebih parah.

 

Gejala cenderung ringat pada mereka yang telah divaksin lengkap

Gejala yang dialami oleh orang-orang yang telah divaksin cenderung ringan. CDC sekarang hanya melacak kasus terobosan yang mengakibatkan rawat inap atau kematian.

Tujuan vaksinasi memang tidak hanya mengurangi penularan, tapi juga secara drastis mengurangi rawat inap dan kematian. Kasus terobosan memang jarang terjadi, sehingga para ahli bersikeras bahwa mendapatkan vaksin adalah hal terbaik yang bisa dilakukan seseorang untuk menjaga diri mereka sendiri dan orang lain tetap aman.

#Elevate Women

Loading
Artikel Selanjutnya
Cegah Jutaan Warga dari Kemiskinan, Ini Kunci Sukses Indonesia Selama Pandemi
Artikel Selanjutnya
Anak Meninggal karena COVID-19, Penyesalan Ibu di Amerika Serikat yang Tidak Vaksin