KAPANLAGI NETWORK
MORE

Makna Hari Kartini, Sekedar Pakai Kebaya dan Batik?

Jumat, 21 April 2017 14:00 Oleh: Ratna Irina

"Tetapi di kala itu telah hidup didalam hati sanubari saya satu keinginan yang kian lama kian kuat, ialah keinginan akan bebas, merdeka, berdiri sendiri."

Hari Kartini, nggak cuma sekedar merayakan dengan memakai kebaya dan batik atau baju tradisional. Lewat surat-surat Kartini, yang meneriakkan emansipasi serta sangat jauh ke depan pandangannya, kita baca dan resapi, apa yang sebenarnya diperjuangkan Kartini, untuk perempuan Indonesia. Dan sebenarnya, betapa miripnya, hal-hal yang terjadi pada Kartini, dengan apa yang terjadi sekarang ini.

raden ajeng kartini

Alangkah besar bedanya bagi masyarakat Indonesia bila kaum perempuan dididik baik-baik. Dan untuk keperluan perempuan itu sendiri, berharaplah kami dengan harapan yang sangat supaya disediakan pelajaran dan pendidikan, karena inilah yang akan membawa behagia baginya. (Surat Kartini kepada Nyonya Van Kool, Agustus 1901)

Perempuan moderen pun kadang masih dipandang sebelah mata. Diberikan standar dobel yang berbeda karena jenis kelaminnya. Memang sih, untuk pendidikan dan pekerjaan bisa dibilang kita sudah sama dengan laki-laki. Tapi kita pun masih mengalami kan? Yang namanya perbedaan perlakuan, hanya karena kita perempuan?

 

Bagi saya hanya ada dua macam keningratan: keningratan pikiran dan keningratan budi. Tidak ada yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya daripada melihat orang, yang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal soleh, orang yang bergelar Graaf atau Baron? Tidak dapat mengerti oleh pikiranku yang picik ini. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899

 Kalau dulu Kartini menghadapi yang namanya perbedaan kelas karena keturunan, kalau sekarang yang kita hadapi mungkin lebih ke perbedaan kelas karena jenjang sosial. Yang kaya, merasa bisa seenaknya karena harta berlimpah yang dimilikinya. Atau karena merasa 'berpangkat' Ustad atau Ustadzah, pasti paling benar dan nggak mungkin berbuat salah.

 

Peduli apa aku dengan segala tata cara itu ... Segala peraturan, semua itu bikinan manusia, dan menyiksa diriku saja. Kau tidak dapat membayangkan bagaimana rumitnya etiket di dunia keningratan Jawa itu ... Tapi sekarang mulai dengan aku, antara kami (Kartini, Roekmini, dan Kardinah) tidak ada tata cara lagi. Perasaan kami sendiri yang akan menentukan sampai batas-batas mana cara liberal itu boleh dijalankan. (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

Di surat-surat Kartini kita bisa membaca pemikirannya tentang kondisi perempuan saat itu. Nyaris di sebagian besar suratnya, Kartini mengeluh dan mempertanyakan budaya di Jawa, yang jadi penghambat bagi kemajuan perempuan. Kartini ingin perempuan punya kebebasan yang sama dengan laki-laki, yaitu bisa menuntut ilmu dan belajar. Beberapa ide dan cita-cita Kartini: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf-vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan Solidariteit. Semuanya atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air). Keren, ya?

Sesungguhnya adat sopan-santun kami orang Jawa amatlah rumit. Adikku harus merangkak bila hendak lalu di hadapanku. Kalau adikku duduk di kursi, saat aku lalu, haruslah segera ia turun duduk di tanah, dengan menundukkan kepala, sampai aku tidak kelihatan lagi. Adik-adikku tidak boleh berkamu dan berengkau kepadaku. Mereka hanya boleh menegur aku dalam bahasa kromo inggil (bahasa Jawa tingkat tinggi). Tiap kalimat yang diucapkan haruslah diakhiri dengan sembah. Berdiri bulu kuduk bila kita berada dalam lingkungan keluarga bumiputera yang ningrat. Bercakap-cakap dengan orang yang lebih tinggi derajatnya, harus perlahan-lahan, sehingga orang yang di dekatnya sajalah yang dapat mendengar. Seorang gadis harus perlahan-lahan jalannya, langkahnya pendek-pendek, gerakannya lambat seperti siput, bila berjalan agak cepat, dicaci orang, disebut "kuda liar". (Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899)

 

Bolehlah, negeri Belanda merasa berbahagia, memiliki tenaga-tenaga ahli, yang amat bersungguh mencurahkan seluruh akal dan pikiran dalam bidang pendidikan dan pengajaran remaja-remaja Belanda. Dalam hal ini anak-anak Belanda lebih beruntung dari pada anak-anak Jawa, yang telah memiliki buku selain buku pelajaran sekolah. (Surat Kartini kepada Ny. Van Kol, 20 Agustus 1902)

Kartini juga sempat mengungkapkan rasa irinya kepada Estelle "Stella" Zeehandelaar, karena perempuan Eropa berbeda dengan perempuan Jawa. Karena adat yang ada, jadi tidak bisa bebas bersekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki tak dikenal, dan pasrah dimadu.

buku surat kartini

Sepanjang hemat kami, agama yang paling indah dan paling suci ialah Kasih Sayang. Dan untuk dapat hidup menurut perintah luhur ini, haruskah seorang mutlak menjadi Kristen? Orang Buddha, Brahma, Yahudi, Islam, bahkan orang kafir pun dapat hidup dengan kasih sayang yang murni. (Surat kepada Ny Abendanon dari Kartini, 14 Desember 1902)

Pandangan maju lainnya adalah tentang agama. Kartini bertanya kenapa kitab suci harus dibaca dan dihafalkan tapi tidak wajib dipahami? Dia mengungkapkan bahwa betapa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama, yang justru sering jadi alasan manusia untuk bertengkar, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini sangat heran, kenapa agama juga dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Sepertinya nggak cuma Kartini saja yang heran, kita pun masih terheran-heran sampai sekarang.

 

Aku mau meneruskan pendidikanku ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah kupilih. (Surat Kartini kepada Ny. Ovink Soer, 1900)

Kartini banyak menceritakan kendala perempuan Jawa untuk mendapatkan pendidikan karena aturan adat yang ada. Tapi Kartini cukup beruntung punya ayah yang tergolong maju karena mau menyekolahkan anak-anak perempuannya, walaupun hanya sampai umur 12 tahun. Sang ayah pun sempat mengizinkan Kartini untuk belajar jadi guru di Betawi. Walau sebelumnya tidak mengizinkan Kartini melanjutkan sekolah ke Belanda ataupun masuk sekolah kedokteran di Betawi.

 

Kami beriktiar supaya kami teguh sungguh, sehingga kami sanggup diri sendiri. Menolong diri sendiri. Menolong diri sendiri itu kerap kali lebih suka dari pada menolong orang lain. Dan siapa yang dapat menolong dirinya sendiri, akan dapat menolong orang lain dengan lebih sempurna pula. (Suratnya kepada Nyonya Abendanon, 12 Desember 1902)

Perjuangan Kartini, masih akan jadi perjuangan kita, para perempuan Indonesia. Secara sadar atau tidak, pernah membaca surat Kartini atau belum, sebenarnya apa yang kita lakukan dan harapkan masih tetap sama. Bangga jadi perempuan Indonesia. Bangga jadi Kartini Indonesia. Hari Kartini bukan sekedar pakai kebaya.

 

Komentar Anda
Keep going