KAPANLAGI NETWORK
MORE

Natural Leader, Politikus Perempuan Puti Guntur Soekarno Siap Pimpin Surabaya

Rabu, 14 Februari 2018 18:20 Oleh: Stanley Dirgapradja

Satu dari 97 politikus perempuan yang mengabdi di DPR, periode 2014-2019, adalah sosok Puti Guntur Soekarno. Terpanggil, Puti kembali ke kota kelahiran sang kakek untuk mengabdi.

Dari namanya mudah untuk menebak bahwa Puti Guntur Soekarno adalah keturunan dari salah satu pendiri Indonesia, Presiden pertama Soekarno. Menjadi anggota DPR, Puti mengagumi buah pikir sang kakek, sebagai negarawan, yang menurutnya begitu relevan hingga sekarang. Mungkin ini pula yang menjadi pijakan pengabdiannya. Perempuan berusia 46 tahun ini sedang disibukkan dengan proses pilkada di daerah Jawa Timur, dimana ia akan maju menjadi calon wakil Gubernur bersama Saifullah Yusuf (Gus Ipul).

Merupakan wakil Jawa Barat di DPR, keputusannya untuk bersaing menjadi wakil calon Gubernur Jawa Timur justru seperti kembali ke titik nol dan memenuhi takdir. Dimana dulu sang kakek, juga kelahiran Surabaya, dan para pejuang kemerdekaan merumuskan konsep NKRI di sana.

Sejak setahun terakhir, penampilannya di muka umum, terutama saat menyampaikan pidato, banyak dinilai serupa sang kakek. Kharisma dan usia yang cukup muda, prediksi kami akan jadi kekuatan Puti dalam menggandeng kaum muda dan perempuan dalam kampanyenya.

Tim Merdeka.com menjumpai politikus muda (dalam kariernya ia tergolong masih muda) penggemar film Bollywood ini di sebuah sesi photo shoot, dan sempat bertanya beberapa hal yang kemudian FIMELA rangkum di sini.

 

Selama ini Anda belajar politik dari siapa?

Sebenarnya karena memang saya tumbuh dari keluarga yang berlatar belakang poltik, dari mulai kecil kami memang sudah tidak asing lagi dengan pembicaraan yang berbau politik. Politik di sini, tidak melulu bicara soal kekuasaan dan lain sebagainya, tetapi pembicaraan yang mungkin seringan bagaimana mencintai tanah air. Budaya itu sudah menjadi bagian dari diskusi-dikusi politik kecil. Soal harga pangan yang naik dan sebagainya. Selain itu, saya juga banyak dididik Papa (Guntur Sukarnoputra) sebenarnya, dan ajaran Bung Karno secara bertahap memberikan masukan dan saya diminta membaca buku-buku tulisan bung Karno dari mulai yang tingkatnya humanis, Penyambung Lidah Rakyat, sampai ke buku-buku Di bawah Bendera Revolusi dan buku-buku Bung Karno lainnya. 

Dari situlah mungkin muncul ketertarikan saya, yang tidak tahu kenapa tiba-tiba ketika saya lulus SMA saya tertarik masuk ke FISIP UI jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Padahal, waktu SMA saya lebih suka interior design, saya mau masuk seni rupa waktu itu. Tapi kemudian, mungkin memang jalannya masuk ke FISIP UI. Ya, mungkin dari situ terbentuk, walaupun dulu saya tidak langsung berpolitik praktis, saya malah jadi ibu rumah tangga dulu. Kemudian, aktif di Yayasan Bung Karno dan Fatmawati juga. Berjalannya dengan waktu, akhirnya saya memutuskan saya harus ada pengabdian yang lebih lagi, akhirnya saya masuk politik. Masuk politik praktis, dalam artian saya masuk partai di PDI Perjuangan dan akhirnya saya masuk DPR RI dua periode di komisi X. Dan sepertinya sudah jadi takdir, ikut dalam kontestasi Pilkada Jatim ini dan ditugaskan oleh Ibu Ketua Umum sebagai cawagub. 

 

Sosok politisi idola Anda Bung Karno atau ada yang lain?

Tentunya Bung Karno sangat memengaruhi sekali pemikiran-pemikiran politik maupun kekaguman saya. Dari kecil, saya mengagumi ide dan gagasan beliau dan menjadi tokoh yang memang sangat memengaruhi perjalanan politik saya. Selain Papa berikutnya tante saya, Ibu Mega, karena bagaimanapun dia seorang perempuan yang konsisten mengarungi semua dinamika politik yang ada di Indonesia ini. 

 

Video pidato Anda sedang viral, belajar dari mana?

Saya sendiri juga tidak tahu, ya. Karena, kalau Bung Karno dulu ceritanya suka naik meja dan latihan pidato untuk mengusir kolonialisme dan sebagainya. Saya tidak pernah begitu, bahkan di depan kaca kamar mandi saja saya tidak pernah. Mungkin itu keluar dari hati, karena hal-hal seperti itu harus punya passion kan, bertemu dan berjumpa dengan masyarakat, semua harus dengan passion. Bekerja dan sebagainya, kalau tidak ada passion pasti capek dan malas. Begitu pun ketika kita berpidato. Tanpa saya sadari, mungkin itu karena keluar dari hati. Jadinya seperti itu. Jadi memang natural.

 

Anda belakangan sering ke Jepang, kesibukan apa saja yang dilakukan di sana?

Jadi begini, di Jepang itu saya punya beberapa kenalan, sahabat-sahabat saya. Mereka, beliau-beliau ini adalah profesor di Yushi Kan University di Tokyo dan mereka kemudian sangat tertarik dan ingin sekali melakukan penelitian tentang ide dan gagasan Bung Karno, utamanya tentang Pancasila. Akhirnya, melalui Japan Asian Reset Center dibuatlah satu kerja sama juga dengan Yushi Kan University sehingga terwujudlah Soekarno Riset Center. Kita membahas secara ilmiah apa yang sebenarnya telah Bung Karno lakukan, terkait ide dan gagasannya untuk menyatukan Indonesia ini. Mereka itu sangat kagum dengan Indonesia yang terdiri dari banyak pulau, suku dan etnis kok bisa disatukan dengan Pancasila. Itu yang ingin mereka gali dan mereka lihat, gagasan Bung Karno tentang Pancasila ini bisa menjadi alternatif bagi perdamaian dunia. 

 

Ini yang membuat, salah satunya, sibuk 3 bulan sekali, atau 6 bulan sekali untuk pergi ke Jepang. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk menjadi Profesor tamu - yang artinya saya mengajar di sana juga dan menjadi peneliti di Soekarno Riset Center. Insya Allah, sebelum ada kesibukan ini, tadinya kita sudah bikin agenda kegiatan untuk 3 tahun terakhir. Ada pidato kebudayaan dan seminar. Tadinya, mereka mau bikin kegiatan di Indonesia, di Jakarta atau di universitas-universitas yang menggunakan nama Bung Karno.

 

Tapi, ditunda juga untuk sementara ini?

Karena sudah masuk masa kampanye jadi akan ditunda dulu sampai kegiatan Pilkada ini selesai. 

 

Menurut pandangan Anda, pemimpin di era millennial itu yang seperti apa?

Sebenarnya bukan hanya kemudian dia harus bergaya seperti kaum millennial, tapi lebih kepada pemikiran seorang pemimpin, ide dan gagasannya bersifat inovatif dan bersaing dengan negara-negara lain di dunia. Karena sekarang, teknologi semua serba cepat. Jadi pemimpin itu ketika membuat sistem kerja dan membuat sistem kebijakan yang ada di negaranya - seperti di Indonesia, harus bisa menyesuaikan dengan semua perubahan yang ada di dunia, mengikuti zaman. Sistem, kebijakan, semua memang serba inovatif, kreatif untuk mengikuti teknologi. Tetapi, tidak juga lupa mengikuti kultur dan budaya yang sudah ada di Indonesia. Jadi, apa yang sudah baik di bumi Indonesia ini kemudian dibuat menjadi lebih baik dengan teknologi yang ada. 

 

Kalau Anda, sudah merasa jadi pemimpin millennial belum?

Kalau memimpin pasti belum, karena harus lewat proses ini (pilkada) dulu. Kalau ditanya apakah saya sudah menjadi pemimpin yang millennial, ya mudah-mudahan Insya Allah saya bisa mewakili generasi millennial ke depan kalau diberi kepercayaan. 

Image: merdeka.com

Komentar Anda
Keep going