Sukses

Lifestyle

Berita Hari Ini: Game, UNESCO, Google

Fimela.com, Jakarta Doktor Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia Arbianingsih menciptakan game edukasi "Arbicare" yang merupakan aplikasi permainan berbasis android guna mencegah diare serta meningkatkan perilaku sehat pada anak usia prasekolah.

"Latar belakang pemilihan topik penelitian ini karena diare merupakan penyebab kematian terbanyak kedua pada balita di negara berkembang," kata Arbianingsih usai pelaksanaan promosi doktornya di kampus UI Depok, Rabu.

"Arbicare" tersebut sekaligus dijadikan topik penelitian pada disertasinya untuk memperoleh gelar doktor di bidang keperawatan.

Berkat topik penelitiannya tersebut, Arbi berhasil lulus sidang promosi doktor dan meraih gelar doktornya.

Seperti yang dikutip dari Antaranews, game pencegahan diare "Arbicare" merupakan game berbasis android dengan genre role play game (RPG) yang terdiri atas tokoh utama berupa anak usia prasekolah, memuat aktivitas dan edukasi perilaku pencegahan diare berupa cuci tangan pakai sabun, praktik makan yang bersih dan gizi seimbang.

Ilustrasi simbol game. (via: bestbuy.com)

Organisasi internasional PPB bidang pendidikan, sains, dan kebudayaan (UNESCO) memuji peran dan dukungan pemerintah Indonesia dalam memaksimalkan peran sekolah untuk mengurangi dampak perubahan iklim (climate change), khususnya program Adiwiyata.

Hal itu terungkap dalam pertemuan "Training of Trainers on the Whole-Institution Approach to Climate Change" di kantor UNESCO Dakar, Senegal, demikian Kepala Fungsi Pensosbud KBRI Dakar - Senegal, Dimas Prihadi kepada Antara London, Senin.

Seperti yang dikutip dari Antaranews, pertemuan bertujuan untuk mencari cara bagaimana meningkatkan peran dan kontribusi sekolah dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Dalam kaitan ini, Indonesia termasuk negara unggulan bersama dengan Prancis dan Denmark.

UNESCO. (via: examveda.com)

Raksasa internet Google belum lama ini mengenalkan pembaruan layanan Google Earth Timelapse, sebuah layanan yang menyajikan gambar komprehensif mengenai perubahan permukaan bumi.

Google telah menambahkan pembaruan besar pada Timelapse, dengan menambahkan gambar permukaan bumi dari tahun ke tahun, termasuk data baru dalam jumlah petabyte, dan tampilan yang lebih tajam.

Dengan pembaruan itu, pengguna sekarang bisa melihat gambar permukaan bumi secara historis, bahkan dari tahun 1984 hingga 2016, menurut Manajer Program Google Earth Engine, Chris Herwig, pernyataannya di blog resmi Google.

Menggunakan teknik yang sama pada peningkatan Google Maps dan Google Earth pada Juni lalu, Timelapse baru mengenalkan tampilan yang lebih tajam dari permukaan planet Bumi, dengan warna yang sesungguhnya (true colors).

Pencitraan permukaan Antartika yang bisa ditampilkan Google Earth Timelapse secara historis dari 1984 hingga 2016. (via: Antaranews)

Loading