Sukses

Lifestyle

Tak Menyerah, Pasangan Tunanetra Ini Jualan Kerupuk

Fimela.com, Jakarta Ada banyak orang yang menyerah pada diri mereka sendiri karena tak sanggup lagi meneruskan kehidupannya. Padahal, masalahnya tak lebih berat dari masalah-masalah orang kebanyakan. Ada juga orang-orang yang ogah bekerja keras dan memilih untuk mengemis, mengharapkan rezeki yang jatuh dari tangan pejalan kaki. 

Untungnya, di antara mereka masih ada beberapa orang yang mau berusaha dan bekerja keras demi menyambung hidup. Seperti pasangan Taswid dan Rowati. Keduanya berjualan kerupuk di kawasan Jakarta Selatan setiap hari. Padahal, keduanya merupakan tunanetra. 

Dilansir dari situs Netz.ID, Taswid dan Rowati harus menggunakan tongkat saat menjajakan kerupuk dagangannya. Taswid, yang umurnya 47 tahun, selalu mengenakan kaca mata hitam. Keduanya kehilangan penglihatan sejak mereka masih kecil. Taswid tak bisa melihat sejak dia masih 6 tahun. Sementara Rowati, 5 tahun. 

Taswid dan Rowati | Sumber Foto: netz.id

"Kalau saya kehilangan penglihatan sejak umur 6 tahun. Kalau ibu saat masih 5 tahun. Awalnya ya sakit panas saja," tutur Taswid kepada tim Netz.ID. Namun, keadaan tak membuat mereka menyerah dan masih terus berusaha untuk hidup, mencari rezeki yang halal. 

Taswid pada umur 17 tahun belajar membaca dan menulis huruf braile. Dia juga mengikuti kursus memijat selama tiga bulan di Sekolah Luar Biasa Pamulang. Sementara Rowati belajar membaca Alquran di Madrasah. 

Awalnya, Taswid berjualan kerupuk sendirian. Dia berkeliling dengan berjalan kaki dari rumah ke rumah dari kawasan Tebet, hingga Casablanka. Sementara, istrinya memilih untuk menjaga dua orang anak mereka di rumah. Namun akhirnya, Rowati memutuskan untuk ikut berjualan kerupuk menemani sang suami. 

Pada awalnya, Rowati menangis karena tak kuat beralan jauh. Namun, Taswid menenangkannya dan membuatnya lebih kuat. "Saya ikut berjualan dengan bapak pertama kali itu sempet nangis, karena nggak kuat jalan jauh. Tapi bapak menenangkan saya agar tetap bersabar," ungkapnya. 

Meskipun sama-sama penyandang disabilitas, keduanya tak ingin bermalas-malasan di rumah atau mengemis. Mereka ingin bekerja dan mendapatkan rezeki yang halal. 

 

;
Loading