Sukses

Lifestyle

Jeon Tae Soo Wafat, Bukti Depresi Sungguh Mematikan?

Bintang.com, Jakarta Dunia hiburan Korea Selatan kembali kehilangan artis kebanggannya. Adalah Jeon Tae Soo, yang wafat pada 21 Januari 2018. Pihak Agensi, Haewadal Entertainment, mengungkapkan bahwa adik Ha Ji Won ini meninggal dunia setelah mendapatkan perawatan terkait depresi yang dia derita. Jeon Tae Soon menghembuskan napas terakhirnya di usia 33.

Meninggalnya Jeon Tae Soo karena depresi membuat orang bertanya-tanya, apakah depresi sebegitu mengerikan, hingga berujung pada kematian? Dilansir psychology today, Senin (22/1/2018), kondisi psikologis ini ternyata dapat berpengaruh besar terhadap fisik seseorang.

Melalui tulisannya tersebut, Psikolog forensik dan klinis dari Los Angeles, Stephen A. Diamond, mengungkapkan, seseorang yang mengalami depresi yang parah akan menunjukkan gejala seperti mual, muntah, nyeri berat, kelelahan, diare, insomnia, dan sebagainya.

Tidak diketahui secara pasti penyebab terjadinya depresi. Akan tetapi, secara umum, penggolongan penyebab terjadinya depresi dibagi menjadi dua bagian, yakni predisposisi genetik dan psikotik.

Berdasarkan psikotik genetis, depresi akut muncul dari depresi unipolar dan bipolar, sedangkan penyebab depresi dari predisposisi psikotik yaitu penyakit schizophrenia dan schizoaktif.

Kondisi psikologis yang memungkinkan terjadinya depresi yaitu merasa kehilangan, stress, trauma, tidak berarti, frustasi, kemarahan yang luar biasa, hingga penyalahgunaan barang terlarang. Sangat mungkin bagi mendiang Jeon Tae Soo mengalami salah satu kondisi psikologis tersebut sebelum akhirnya meninggal dunia.

Simak juga video menarik berikut ini:

Psikofarmakologi Mampu Redakan Depresi

Stephen mengungkapkan bahwa depresi dapat ditangani dengan melakukan pengobatan. Namun, pengobatan harus dilakukan dengan meninjau etiologi atau penyebab dari gangguan psikologis tersebut. Akan tetapi, ada cara lain yang dapat dilakukan guna melakukan pengobatan terhadap depresi itu.

Dokter menawarkan psikofarmakologi guna mengobati pasien yang mengalami depresi berat. Cara ini dipercaya ampuh redakan depresi. Psikofarmakologi dilakukan dengan memberikan antidepresan dan obat penstabil mood pada pasien. Meski demikian, pemberian obat-obatan ini pun harus disertai dengan psikoterapi. Hal ini akan memicu munculnya depresi yang lebih besar.

 

 

Reporter: Aretyo Jevon Perdana

Sumber: Liputan6.com

Loading
Artikel Selanjutnya
Pandemi COVID-19 jadi Saat Tepat Ajarkan Pola Hidup Bersih dan Sehat pada Anak
Artikel Selanjutnya
Jumlah Pendaftar Relawan COVID-19 Capai Angka 15.250 Orang