Sukses

Lifestyle

Sounds of Bintang, Terbentuknya Endah N Rhesa, Endah: Ini Anugerah Terbesar

Fimela.com, Jakarta Merupakan anugerah terbesar bisa melakukan suatu pekerjaan sekaligus hobi bersama sang suami. Ya, karena adanya Endah N Rhesa, pasangan duo suami istri, Rhesa Aditya dan Endah Widiastuti ini jadi sering bertemu dan meluangkan waktu bersama setiap saat.

Berawal karena tergabung dalam satu band, maka lahir lah duo musisi asyik, Endah N Rhesa dalam dunia musik Indie. Tidak memilah milih macam genre, maka itu yang membuat mereka berdua nyaman dan fleksibel terhadap hasil karya terbaiknya.

Selalu ingin terlihat unik dan berbeda dari yang lain, tidak jarang pasangan duo ini memilih untuk menyelaraskan outfit serta aksesorisnya di atas panggung. Tidak melulu sama memang, namun setiap apapun yang dipakai di atas panggung, tidak pernah keluar jalur dari kata unik dan menarik.

Dalam me-manage mood satu sama lain, ada cara manis untuk membuat suasana manggung menjadi hangat dan selalu asyik.

“Untuk manage mood, kami terbiasa berkomunikasi, jadi kalau lagi ada masalah apapun itu di atas panggung, biasanya nggak kebawa tuh,” ujar Endah saat melakukan sesi wawancara bersama Bintang.com, Rabu (21/02/18).

Penasaran bagaimana cerita selengkapnya tentang Endah N Rhesa? Mengatasi rasa penasaran tentang kelanjutan perjalanan kariernya serta tanggapan terhadap dunia musik zaman now, maka simak wawancara tim Bintang.com dengan Endah selengkapnya di bawah ini, yuk.

Terbentuknya Endah N Rhesa, Serta Tanggapan Mengenai Musik Zaman Dulu dan Zaman Sekarang

Awal mula terbentuknya Endah N Rhesa?

Awal mula terbentuknya Endah N Rhesa yaitu saya pernah tergabung di sebuah band dengan Resha di tahun 2004, kemudian kami membentuk duo dan terjadilah Endah N Rhesa sampai sekarang.

Mengapa memakai nama Endah N Rhesa?

Mengapa dinamai Endah N Rhesa, sebenarnya ini merupakan sebuah statement bahwa ini adalah proyek duo, lagipula terdengar lebih to the point dan simpel.

Konsep album Endah N Rhesa seperti apa?

Konsep album Endah N Rhesa berbeda-beda. Untuk yang pertama ada Nowhere to Go tahun 2009 lebih ke western dan ballet, kedua di tahun 2010 Look What We’ve Found lebih ke jungle, menceritakan hutan pantai, musiknya pun juga lebih eksplore musik Afrika dan Jamaika. Ketiga Escape di tahun 2013 ini lebih bernuansa rock, progresif serta permainan secara akustik, lebih eksploratif, gelap dan liriknya juga lebih sendu. Nah, yang keempat di tahun 2015 yaitu album dokumentasi yang semua liriknya bahasa Indonesia, mengapa, karena ini yang pernah dirilis di berbagai tujuan, pernah juga dibuat iklan dan film. Sangat berbeda dengan tiga album sebelumnya yang bersifat trilogi, jadi memakai bahasa Inggris.

Genre yang dimainkan Endah N Rhesa?

Kami sangat terbuka untuk memainkan genre apapun, mungkin karena cuma berdua, semua jadi fleksibel, tidak ada yang terlalu strong. Saya sangat nyaman dengan itu.

Sosok musisi idola Endah?

Sosok idola, kalau dulu saya belajar gitar dari ibu saya. Kemudian saya suka sekali dengan John Mayer, John Scofield, John Frusciante, John Butler. Ke sini lebih suka dengerin lirik Derek Trucks.

Pandangan Endah mengenai dunia musik zaman sekarang dan zaman dulu?

Perbedaannya di era digital sangat mudah sekali untuk mendistribusikan karya dan juga salah satunya mempromosikannya, karena semua sudah terkoneksi secara world wide, jadi tanpa harus reguleran di kafe, sekarang sudah sangat mudah melakukan hal itu. Tahapannya juga berbeda, zaman digital ini sudah ada portal video yang populer dan berbayar, jadi lebih mudah. Tidak seperti dulu yang harus of air ke sana kemari, dari mulai vinil, kaset, kemudia cetak, yang harus dijual. Pokoknya beda banget era dulu dan sekarang.

Dilihat dari kacamatan seorang musisi, kualitas musik zaman sekarang seperti apa?

Kualitas musik zaman sekarang, era teknologi sudah banyak yang mudah di dapat, jadi mungkin secara eksplorasi, musisi-musisi sekarang cenderung lebih lebar dan beragam. Secara kualitas, musik-musik sekarang durasinya juga lebih pendek, tema lagunya lebih ringan, jadi lebih mudah didengarkan. Ya, pokoknya menarik!

Selain lagu sendiri, Endah suka dengerin lagu siapa sih?

Belakangan ini lagi suka dengerin Derek Trucks - blues-rock guitarist dari Amerika, John Mayer, Dialog Dini Hari, Bonita & the Husband, Bela Fleck, Jason Ranti.

Ada lagu jadul kenangan tersendiri nggak?

Karena ibu saya suka The Everly Brothers, mungkin saya juga suka, dalam artian, kalau suka atau sering dengerin lagu itu sih nggak, tapi kalau hanya sebatas dengerin saja saya suka.

Serba Serbi Endah N Rhesa

Bagaimana sih rasanya bisa menciptakan suatu karya bersama suami?

Rasanya sangat menyenangkan, ini adalah pekerjaan sekaligus profesi yang saya bilang anugerah terbesar karena saya bisa ketemu dan meluangkan waktu dengan suami bersama-sama tiap saat.

Bagaimana manage mood suami-istri kalau lagi berantem tapi harus manggung bareng?

Untuk manage mood, kami terbiasa berkomunikasi, jadi kalau lagi ada masalah apapun itu di atas panggung, biasanya nggak kebawa tuh. Kalau sebelum manggung biasanya sudah luruh lah, berdoa, kita menyadari bahwa ini sebuah pekerjaan, meluruhkan hati satu sama lain. Saya dan Rhesa pun komunikasinya sangat intens, jadi kalau ada hal-hal yang sekecil apapun yang nggak sreg, langsung saja diomongin. Jadi intinya komunikasi, sih.

Apakah outfit yang dipakai manggung selalu sama?

Kalau sama mungkin nggak, ya. Sekarang lebih fleksibel, lihat occasion-nya juga, nyamain warna atau bisa hanya model atau dengan aksesoris agak lebih fleksibel. Biasanya kami memiliki keselarasan. Ya, cuma berdua di panggung, kalau belang-belang kan nggak enak. Paling kacamata, atau mungkin sepatu, pokoknya style-nya disamain.

Kan baru ngeluarin album baru dengan judul Menua Bersama, bisa diceritain nggak sih latar belakang lagunya?

Kami kan sudah lama nggak keluarin album ya, karya juga single lepas. Jadi, liriknya menua bersama itu Rhesa yang bikin. Pertama kalinya dia bikin lirik yang full untuk Endah N Rhesa, jadi dia excited banget. Saya juga menjawab itu dengan menyanyikan liriknya spontan saja kok, ngerasain mood-nya bareng, segala rasa dan eksekusinya enak kalau disegerakan. Ya, sudah di rekam deh, nggak pakai lama cuma tiga hari pengerjaan. Rekam, mixing, mastering dilakukan sendiri di rumah habis itu rilis.

Selain album baru tadi, ada project lain yang sedang dijalankan?

Nggak ada, paling single ini saja, ditambah kami juga punya kafe di Pamulang, Earhouse. Iya, paling kami mengurusi itu, kemudian di lantai dua Earhouse ada Earspace untuk foto video, Earstore, Earmerce untuk mercendise. Selain manggung dan mengurusi itu, sekarang pun kami ingin lebih fokus mengurusi album kelima.

Rencana ke depan untuk Endah N Rhesa Sendiri?

Rencana Endah N Rhesa ke depan, ingin bikin album kelima, ingin lebih produktif, ingin terus berkarya, dan berkreasi.

Kaitan Earhouse dengan Endah N Rhesa?

Oiya, kita menamakan semua yang berkaitan dengan kami itu Ear, adanya Earhouse of  Endah N Rhesa itu seperti datang ke rumah kami. Tahun 2013, tepat kami berdua berusia 30 tahun, Earhouse itu adalah sebuah idealisme yang harus saya wujudkan sebelum mati.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading