Sukses

Lifestyle

A City of Dream and Style, Selamat Ulang Tahun ke-488 Kota Jakarta

Jakarta Perjalanan Jakarta sudah cukup panjang, 488 tahun. Bermula dari sebuah bandar kecil di Sungai Ciliwung, selama berabad-abad kemudian kota ini mengalami perubahan dinamis sebagai pusat perdagangan internasional. Nggak heran, traffic di Jakarta sangat tinggi, bahkan sejak namanya masih Sunda Kelapa di abad ke-16. Waktu di mana orang-orang Eropa banyak datang untuk berdagang.

Berawal dari pemukiman kecil yang berdiri di atas endapan-endapan lumpur sungai, Jakarta berkembang menjadi kota megapolitan dengan gejolak ekonomi, sosial, serta budaya yang unik. Perkembangan di bidang sosial, ekonomi, serta budaya pula yang membuat banyak orang dari lain wilayah di Indonesia untuk mencoba mengadu nasib di kota ini. Jakarta punya banyak hal, yang tak bisa ditemukan di daerah.

Selalu, Ibukota Negara menjadi melting pot dari begitu banyak budaya. Lokal maupun internasional. Jakarta pun demikian. Karena menjadi pertemuan budaya inilah (setidaknya 30 juta jiwa tinggal di kawasan Jabodetabek), gradasi budaya yang beragam menjadi aksen sebuah kota megapolitan. Meski akrab dengan banjir (sesuatu yang kerap terjadi bahkan sejak jaman penjajahan), macet yang dirasa semakin parah, Jakarta tetap menjadi incaran investasi yang potensial di Asia Tenggara.

Perputaran uang yang kencang di Jakarta rasanya jadi faktor dominan mengapa banyak orang yang ingin mengadu nasib di kota ini. Semua jenis pekerjaan ada. Meski terus berjuang untuk menyeimbangkan budaya modern yang progresif dengan kearifan lokal yang pelan-pelan terkikis, dan dianggap kejam oleh banyak orang, tidak menyurutkan niat orang-orang untuk datang.

Mimpi akan kehidupan yang berhasil, dan sebagian orang benar-benar bisa meraihnya, serta gaya orang kota yang menarik ikut memberi sumbangsih yang besar sebagai daya tarik tersebut. Meski tingkat kejahatan juga cukup tinggi, dan lapangan kerja adalah harapan yang bisa pupus setiap saat, nyali para pendatang tetap lebih besar.

Tiap orang punya alasannya masing-masing untuk mencintai Jakarta. Sudah pasti. Makanan tradisional, tempat-tempat seru yang hanya ada di kota ini, pusat belanja yang jumlahnya ratusan (jumlahnya hampir 200 dan beberapa mall di Jakarta termasuk dalam kategori mall terbesar di dunia) dan jadi favorit orang luar Jakarta untuk berbelanja hanya sebagian kecil alasan orang-orang memiliki hubungan cinta dan benci dengan kota ini.

Bersama Hotel Kempinski Jakarta, FIMELA.com mengumpulkan alasan-alasan tersebut dari media sosial. Boleh saja cinta, benci pun tak apa, tapi sebagian dari kita memang tak bisa meninggalkan kota ini. Pekerjaan, keluarga, cita-cita yang begitu tinggi semua ada di sini. Dramatis, puitis, penuh renungan, Jakarta memancing semuanya keluar dari lubuk hati terdalam.

Lewat tagar #SayacintaJakarta Fimelova bisa menemukan beberapa video kreatif yang dibuat oleh pembaca-pembaca kami, yang mencoba menyampaikan alasan mereka mencintai kota yang penuh tantangan ini. Bagaimana denganmu, apa alasanmu bertahan di Jakarta dan terus mencintainya?

Videografer: Randita Indrayarto

Venue: Hotel Kempinski Jakarta