Sukses

Lifestyle

Yang Benar & Salah Seputar Kanker Payudara

1 dari 4 halaman

Next

Benjolan yang terdapat pada payudara menjadi penanda paling umum mengenai gejala kanker payudara.

Mitos. Hanya 1 dari 10 benjolan yang disebabkan kanker. Faktanya, beberapa perempuan memiliki benjolan pada payudaranya yang bisa jadi merupakan kelenjar pada jaringan payudara. Perubahan pada payudara memang bisa terjadi seiring dengan siklus hidup, misalnya, kelenjar payudara perempuan muda lebih banyak dan padat ketimbang yang usianya lebih tua. Saat menyusui dan menjelang menopause pun perubahan pada payudara sangat mungkin terjadi. Jelang dan sesudah menstruasi, tak jarang perempuan juga mengalami pembengkakan, sampai timbulnya satu atau beberapa benjolan, di payudara. Ini disebabkan cairan ekstra akibat perubahan hormon. Jadi benjolan pada payudara bisa muncul kapan pun, yang kebanyakan bukanlah tanda adanya kanker, tapi sebagai tindakan antisipatif sebaiknya tetap lakukan pemeriksaan, mamografi misalnya.

Perempuan yang hamil di atas umur 30 tahun lebih beresiko terkena kanker payudara dibandingkan yang masa kehamilannya terjadi pada usia muda.

Fakta. Perempuan yang mengandung anak pertama di usia 30 tahun ke atas lebih berisiko terkena kanker payudara. Haid pertama dan kehamilan dipercaya sebagai window of initiation perkembangan kanker, sementara pertambahan usia yang menurunkan imun dalam tubuh juga jadi salah satu faktor yang memperbesar risiko pertumbuhan tumor ganas pada payudara.

Penggunaan pil KB dalam jangka panjang juga meningkatkan risiko terkena kanker payudara.

Fakta. Pil KB atau kehamilan dipercaya dapat mengubah kadar hormon yang dapat mempengaruhi risiko perempuan terserang penyakit, salah satunya kanker ovarium. Namun, pil KB yang dikonsumsi dalam jangka panjang justru bisa meningkatkan risiko kanker payudara, dan risiko tersebut bisa kembali normal jika penggunaannya dihentikan juga dalam waktu yang panjang, ujar ahli kanker Dr. Richard Edmondson dari University of Newcastle. Hal ini tak lain karena pengaruh kandungan hormon estrogen yang memperbesar risiko pertumbuhan kanker payudara, terutama pada perempuan di atas usia 45 tahun.

2 dari 4 halaman

Next

Kanker payudara berkaitan erat dengan pengonsumsian alkohol.

Fakta. Minuman beralkohol sangat jelas meningkatkan risiko terkena kanker payudara. Selain itu, kanker mulut, kerongkongan, esophagus, dan liver, juga tak lepas mengancam para peminum. Catherine Berkey, biostatistik dari Harvard Medical School, Boston, mengungkapkan bahwa meningkatnya kadar estrogen total akibat pengonsumsian alkohol di masa remaja yang identik dengan pertumbuhan kelenjar susu menyebabkan penyakit payudara jinak, seperti tumor, yang semakin bertambahnya usia bisa naik tingkat menjadi kanker payudara.

Depresi atau tingkat stres yang tinggi pada perempuan memicu kanker payudara.

Fakta. Menurut hasil penelitian Dr. Marjan van den Akker dari Maastrcht University, depresi sedikit menaikkan risiko kanker payudara. Logikanya, kesehatan emosi, stres, nutrisi, dan olahraga berefek pada sistem imun tubuh. Ketika semua faktor mendesak sistem imun menurun, risiko terkena kanker menjadi lebih besar. Contohnya, perempuan penderita kanker yang aktif dalam sebuah kelompok sosial atau kegiatan positif tertentu, juga tetap aktif bekerja, memiliki usia yang lebih panjang ketimbang yang tak melakukan apa pun. Ini terjadi karena lewat berbagai macam kegiatan dan kesibukan, kadar stres secara otomatis berkurang dan imun meningkat.

Pada masa kehamilan, pengobatan kanker payudara pantang dilakukan.

Mitos. Pengobatan kanker payudara tetap bisa dilakukan dengan syarat menyesuaikan usia kehamilan. Menurut beberapa peneliti di Jerman, kemoterapi yang dijalani perempuan penderita kanker di usia kehamilan 4-9 bulan pun tidak menimbulkan risiko cacat lahir, lain dengan terapi radiasi dan terapi hormon memang dihindari selama kehamilan karena berbahaya untuk kondisi janin dalam kandungan. Sementara kemoterapi untuk triwulan pertama masih dihindari karena belum ada jaminan keamanannya.

Diet makanan tertentu bisa menyembuhkan kanker payudara.

Mitos. Sejumlah penelitian menunjukkan konsumsi buah-buahan dan sayuran bisa menurunkan risiko terkena kanker  payudara, bukan menyembuhkannya. Pasalnya, makanan dari tumbuhan kaya dengan nutrient antioksidan yang mencegah kerusakan sel-sel yang bisa menyebabkan kanker. Usahakan untuk mengonsumsi paling sedikit 5 porsi buah-buahan atau sayuran per hari, seperti jamur, buah delima, brokoli, kacang polong, blueberry, kenari, bayam, telur, dan ikan salmon. Juga terus menerapkan gaya hidup sehat dengan rajin berolahraga dan menghindari minuman beralkohol agar imun tubuh terjaga sehingga risiko terkena kanker semakin kecil. Bagi penderita kanker payudara pun, diet makanan tertentu juga bisa dilakukan untuk menghambat pertumbuhan dan perkembangan kanker, bukan untuk menyembuhkannya.

3 dari 4 halaman

Next

Penderita kanker payudara masih bisa menyusui.

Fakta. Perempuan yang menderita kanker payudara masih bisa terus menyusui dengan payudara yang sehat, tapi tidak dengan payudara yang meradang atau infeksi, atau pernah mengalami operasi pengangkatan kanker payudara, itulah penjelasan dr. Li Yuan Zong dari Rumah Sakit Modern Hospital Cancer, Guangzhou, yang juga membuka pusat konsultasi seputar kanker di Jakarta dan Surabaya. Untuk kasus tumor yang ditemukan ketika masih menyusui, sebaiknya menunda operasi sampai selesai masa menyusui karena produksi ASI pasca-operasi akan berkurang.

Skrining payudara sebaiknya dilakukan sejak usia 30 tahun ke atas, usia yang paling rawan terkena kanker payudara.

Mitos. Perempuan berisiko terkena kanker payudara sejak mengalami menstruasi, walaupun risikonya sendiri kian besar seiring dengan makin bertambahnya usia. Dokter spesialis bedah onkologi Sonar Soni Panigoro dari RS Pondok Indah sendiri mengatakan bahwa melakukan pemeriksaan sejak dini penting karena deteksi pada stadium awal memperbesar peluang penderita untuk sembuh. Apalagi, kanker payudara seringkali tak menampakkan gejala. Kanker yang umumnya diderita perempuan usia 30 tahun ke atas ini pun tak menutup kemungkinan diderita perempuan muda usia 20-an tahun. Untuk itu, di usia muda, perempuan sudah bisa melakukan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), sementara usia 30 hingga 40-an tahun ke atas bisa melakukan USG dan usia di atas 40 tahun melakukan mamografi.

Artikel Selanjutnya
Setengah Abad Petualangan James Bond, Tahun-Tahun Penuh Aksi!
Artikel Selanjutnya
Dinda Nawangwulan & Pink Shimmer: Angkat Semangat Hidup Penderita Kanker Payudara Lewat Beauty Class