Sukses

Lifestyle

Ajukan Keluhan Karena Dapat Pelayanan Buruk, Kapan Pantasnya?

Next

comp

Beberapa waktu lalu, saya pernah mengunjungi sebuah restoran bersama sekelompok teman. Harus saya akui saat itu, saya dan teman-teman mendapatkan layanan yang kurang memuaskan dari restoran mie yang cukup terkenal itu. Saya lihat, seingat saya, saat kami datang restoran itu memang cukup penuh. Pelayannya sendiri terlihat cukup kewalahan dalam melayani setiap tamu yang datang. Bahkan saya yakin sempat melihat sebagian dari wajah para pelayan itu semacam sudah kehilangan konsentrasi.

Salah satu dari kami kemudian memanggil seorang pelayan di restoran itu dan mulai menumpahkan kekesalannya. Ia membeberkan beberapa poin keluhan dan saya ingat sekali wajah si pelayan hanya bisa menerima semua itu dengan lapang dada. Dari kesempatan yang nggak lama itu saya belajar beberapa hal.

Pertama, saya tanya ke teman saya. Apakah cukup wajar, melepaskan emosi ke si pelayan yang barangkali sudah meminta maaf? Teman saya menjawab sah-sah saja, karena itu juga sudah hak dia sebagai konsumen. Kemudian saya perhatikan lagi, dia kesal karena saya bertanya tentang kepantasan perlakuannya terhadap di pelayan.

Kedua, barangkali teman saya nggak sadar bahwa dia sudah memperlakukan si pelayan sebagai sansak untuk melampiaskan ketidakpuasannya. Teman saya memang pantas untuk mengajukan ketidakpuasan. Tapi, dari sudut etika saya pikir nggak cukup pantas bagi teman saya untuk menjadikan seseorang (siapapun) itu sebagai target keluhan sementara orang yang bersangkutan nggak bisa berbuat apapun. Is it fair? Bisa saja sebelum si pelayan, sebenarnya dia nggak menemukan siapapun untuk jadi sansak emosinya.

Ketiga, secara pribadi saya memperhatikan teman saya satu ini. Dia mengalami pergerakan karir cukup lumayan di kantornya. Otomatis dengan dinamika seperti itu penghasilan pun bertambah, bukan? Dan penghasilan yang meningkat biasanya diikuti dengan gaya hidup yang juga berubah. Ini yang saya perhatikan dari teman saya itu. Setelah mendapatkan posisi yang lumayan di pekerjaannya, dia mulai merasa bahwa seleranya juga berubah. Ia merasa sudah punya selera cukup ‘tinggi’ karena menurutnya dia sudah pernah merasakan beberapa bentuk kemewahan yang menjadi standar penilaiannya. Saya kembalikan lagi ke poin kedua. Jadi, setelah menurutnya dia memiliki selera yang bagus, dengan pekerjaan yang bagus pula, dia merasa berhak mengeluh dengan ekstrim seperti itu? Pada seseorang yang secara harafiah memang di bawah kelasnya?

Next

compl

Etiskah, mengajukan keluhan, lalu membuat orang merasa disudutkan, dan lebih parah merasa nggak berguna? Meskipun bagi tempat-tempat seperti restoran mendapatkan keluhan itu adalah hal yang wajar?

Cukup lama setelah itu, saya mengunjungi restoran lain bersama kelompok teman yang lain. Restoran yang terletak di salah satu Mall di kawasan Jakarta Selatan itu dipilih salah satu dari kami. Tempatnya kecil, dan saat kami datang restoran itu sudah lumayan penuh. Untung saja kami masih mendapat meja.

Kali ini saya yang mendapat layanan kurang memuaskan. Makanan yang saya pesan datang hampir satu jam. Setelah semua teman saya mendapatkan pesanan mereka, dan saya dilewati begitu saja oleh pelayan. Semakin nggak sabar, karena mereka mengantar pesanan orang lain – yang sepertinya justru datang belakangan – sementara pesanan saya tidak kunjung datang. Lebih parah, setelah akhirnya datang, makanan yang mereka antar bukan yang saya pesan. Jadi saya masih harus menunggu. Teman-teman melihat dengan jelas bahwa saya sudah kesal.

Setelah membayar tagihan, saya meminta bolpoin ke salah satu pelayan. Lalu saya tulis keluhan saya atas pelayanan super slow malam itu di atas selembar tisu.  Saya juga tidak lupa mencantumkan nomor telepon. Saya titipkan tisu itu ke bagian kasir. Memang malam itu saya putuskan untuk menikmati makanan saya yang datangnya sangat terlambat. Tidak menyerang siapapun.

Esoknya, saat sedang di kantor saya mendapat telepon dari nomor tidak dikenal di ponsel saya. Ternyata itu adalah telepon dari manajer restoran yang saya kunjungi malam sebelumnya. Si manajer meminta maaf secara pribadi dan menawarkan saya sebuah paket makan malam lengkap untuk mengganti layanan buruk yang saya dapatkan sebelumnya. Itu sudah hampir tiga bulan yang lalu, dan hingga kini saya belum sempat mampir lagi ke restoran itu dan ‘menagih’ makan malam gratis saya. Saya tidak melupakan tawaran itu dan trauma, saya memang hanya nggak memiliki waktu saja untuk ke restoran itu lagi. Melihat ke belakang, membandingkan dua contoh kasus tadi, saya cukup bangga tidak menjadikan siapapun sebagai sansak dari  ledakan emosi saya. Speak4peace, saya rasa kita semua setuju bahwa kekesalan pribadi nggak perlu membuat kita menjadikan sebagian pihak sebagai sansak ledakan emosi.

Next


compla

Di lain sudut, tentunya masih ingat dengan kasus seorang Ibu yang sempat dipenjarakan karena menulis surat keluhan atas kasus salah diagnosa yang ia alami dari sebuah rumah sakit swasta di Jakarta. Keluhan yang awalnya hanya berupa surel itu diekspos begitu luas, sehingga perempuan itu dijerat pasal pencemaran nama baik. Kasus itu menjadi sorotan media se-Indonesia, dan Ibu dua anak itu mendapat dukungan massive dari banyak pihak. Sikap rumah sakit yang menjerat mantan pasiennya dengan pasal pencemaran nama baik kemudian dianggap banyak pihak sebagai reaksi berlebihan.

Contoh kasus terakhir, penyanyi Cindy Claudia Harahap yang sempat terkenal di era 1990-an mengalami kasus mirip dengan yang dialami si Ibu yang kami paparkan sebelumnya. Dari yang sudah disampaikan Cindy Claudia kepada beberapa media terlihat bahwa anak dari musisi terkenal era 1980-an Rinto Harahap itu mengalami salah diagnosa dan bahkan salah prosedur perawatan di beberapa rumah sakit di Jakarta. Menurut pengakuan Cindy, ia sempat sakit – bahkan sangat parah, dan sempat dirawat di beberapa rumah sakit. Bukannya tambah baik, kondisinya malah tambah buruk. Ia sempat disuruh pulang ke rumah, karena pihak rumah sakit menganggap kondisinya sudah mendingan. Tapi saat pulang ke rumah, sakitnya malah menjadi-jadi sehingga Cindy langsung dibawa keluarganya ke Singapura.

Pihak rumah sakit di Singapura yang menerima dan merawat Cindy di luar dugaan justru menyampaikan fakta lain. Pihak rumah sakit memberikan diagnosa baru, jauh dari diagnosa yang disampaikan beberapa rumah sakit di Jakarta. Nyawa Cindy bisa diselamatkan, dan infeksi yang ia alami akhirnya mendapatkan perlakuan medis yang tepat. Bisa bayangkan jika Cindy menerima begitu saja perlakuan medis yang ia dapat selama di Jakarta? Kabar terakhir, Cindy dan keluarga berniat mencari kejelasan akan perlakuan medis yang ia terima dari beberapa Rumah Sakit sebelum ia berangkat ke Singapura.

Sebagai konsumen kita memang pantas mengajukan keluhan, apalagi saat mendapat layanan buruk. Tapi nggak berarti juga menyerang orang dengan emosi berlebihan dan menjadikan mereka sansak. Iya, nggak? Selera kita yang mungkin lebih baik dari orang lain nggak bisa jadi alasan untuk ‘menekan’ orang lain yang mungkin kurang paham standar yang kita berlakukan. Mengajukan keluhan dibenarkan, kok.

Untuk dua contoh terakhir, prinsipnya sama, tapi sangat jauh berbeda. Urusan perlakuan medis tentu menyangkut nyawa kita sebagai pasien. Saat kita diam saja setelah mendapat perlakuan medis yang seharusnya nggak kita dapat, justru bisa menjadi ujung buruk yang kita nggak tahu apa. Kita harus mencari tahu dan mengajukan keluhan. Karena bisa saja pihak rumah sakit mengambil keuntungan dari itu. Dirawat di rumah sakit jaman sekarang membutuhkan banyak biaya, makanya banyak yang bilang ‘Sehat itu mahal.’

Dua contoh terakhir, meski menimbulkan efek hukum untuk beberapa pihak adalah usaha untuk menemukan damai. Dua perempuan di dua kasus terakhir menyuarakan pendapat mereka untuk berbagi dan menemukan kejelasan dari kondisi yang mereka alami. Di sinilah momen, di mana diam itu bukan emas. Karena nyawa menjadi elemen penting. Banyak pihak bisa belajar dari kedua kasus itu. Speak4peace, karena dengan berbagi, menyuarakan keluhan kita banyak orang bisa belajar dari keluhan tersebut. Some people have to do it, so other people could learn from that.

Speak4Peace adalah salah satu campaign ulang tahun kedua FIMELA.com. Bersama Speak4Peace kami juga mengadakan seminar sehari Fimela: IWOW Conference,  ikutan yuk! Petunjuk lebih lanjut bisa kamu baca di sini.

Empowered by:

xl

 

 

Loading