Sukses

Lifestyle

Indonesia Bebas HIV AIDS di 2030 Bila Semangat Lakukan Upaya Preventif

Jakarta Dari tahun ke tahun jumlah kasus pasien terserang HIV-AIDS di Indonesia terus bertambah jumlahnya. Data yang diperoleh dari Kementrian Kesehatan RI pada pertengahan tahun 2017, terdapat 23.204  kasus pasien terserang HIV. Data tersebut bahkan menyebutkan bahwa kini, HIV-AIDS tak hanya mampu menyerang golongan pasien kunci yakni pekerja seksual komersil dan pengguna narkotika semata. Semua individu, baik laki-laki maupun perempuan memiliki resiko yang sama terjangkit HIV, bila tak menjaga gaya hidup dengan seksama. 

Kini diketahui bahwa saat ini faktor risiko infeksi HIV-AIDS tertinggi di Indonesia bukan lagi disebabkan oleh penggunaan jarum suntik semata, namun akibat hubungan seksual yang tidak terproteksi (Sebanyak 72,4 persen kejadian HIV di Indonesia disebabkan olehhubungan seksual yang tidak terproteksi dan berganti-ganti pasangan). Rasanya bila mengetahui fakta tersebut, siapapun pasti pesimis, apakah Indonesia mampu terlepas dari bahaya HIV-AIDS. Sebenarnya tak ada yang tak mungkin, bila kita bersama-sama memerangi penyakit ini dengan melakukan berbagai upaya preventif dan pengobatan bagi para ODHA (Orang Dengan HIV-AIDS). 

Peringatan Hari AIDS Sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember, rasanya merupakan moment sempurna bagi semua lapisan masyarakat untuk bekerja sama mewujudkan pencegahan HIV-AIDS. Beberapa waktu lalu, Fimela berkesempatan menyaksikan sebuah panel diskusi yang dihadiri dr. Wiendra Waworuntu, M. Kes Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kementerian Kesehatan RI dan Hages Budiman, seorang ODHA yang mendirikan LSM Kuldesak, yayasan yang bergerak di bidang pencegahan dan merangkul para pasien HIV-AIDS agar tetap memiliki semangat hidup yang tinggi. 

Hages Budiman, merupakan seorang ibu rumah tangga yang divonis HIV Positive sejak tahun 2006.  Memang tak mudah awalnya, namun dengan semangat hidup yang tinggi, Hages ingin buktikan bahwa hidup tak lantas berakhir seketika saat kita divonis HIV Positive. Menurut dr. Wiendra Waworuntu, HIV-AIDS bukan lagi penyakit mematikan yang langsung menyatakan pasien tak dapat ditolong, namun kini HIV-AIDS sudah masuk dalam golongan penyakit kronis. Sama halnya dengan penyakit diabetes atau maag akut, yang dengan pengobatan rutin, penyakit mampu diminimalisir bahkan mampu mematikan virus sementara. 

Siapa bilang, seorang ODHA tak bisa lagi punya masa depan? Hages Budiman, kini tengah dalam kondisi mengandung buah hati ke 4 nya. Dengan rutin mengkonsumsi vaksin dan pengobatan, dan rajin melakukan cek kesehatan teratur, jumlah virus HIV dalam tubuhnya bahkan kini hampir sudah tak terdeteksi. Satu lagi, jangan percaya bahwa berada didekat penderita HIV-AIDS mampu dengan mudah tertular. Sejatinya penderita HIV mampu menularkan virus dengan 3 cairan tubuh, yakni cairan darah yang bersentuhan langsung dengan darah, cairan kelamin dan cairan air susu ibu. See, yang harus dijauhi adalah penyakitnya, bukan para penderitanya. 

Langkah pencegahan HIV-AIDS mampu dilakukan dengan mudah sebenarnya. Semudah dimulai dari kesadaran diri masing-masing guna menerapkan perilaku hidup sehat, dan ingat TTM. TTM merujuk kepada Tahan diri, Tetap Setia dan Main aman. Mudah di ingat bukan ? Tahan diri, memang sejatinya setiap individu harus mampu membentengi diri mereka dengan iman yang kuat untuk menjauhi gaya hidup seks bebas yang berganti-ganti pasangan. Kemudian Tetap Setia, setelah menikah, usahan selalu setia dengan pasangan, Dan Main Aman atau selalu menggunakan alat pengaman hubungan intim kondom pada saat melakukan hubungan seksual. 

Bila upaya preventif dilakukan semua orang mulai dari sekarang, dan pandangan terhadap para penderita HIV-AIDS tak lagi seburuk itu, percayalah kita pasti mampu mewujutkan gerakan Indonesia bebas HIV-AIDS 2030. Selalu ingat, jauhi penyakitnya, bukan orangnya. 

 

(Pic : Photostock)

Loading