Sukses

Lifestyle

Galeri Indonesia Kaya, Salah Satu Art Center Paling Aktif di Jantung Jakarta

Jakarta Sejarah sekaligus ragam etnis membuat Jakarta menjadi salah satu kota yang kental akan seni budaya. Menemukan ruang publik berbasis seni di ibu kota sebenarnya bagai menemukan jamur di musim hujan. Banyak, mulai dari galeri, art space, hingga museum. Jika ditanya pusat seni mana yang jadi salah satu spot paling hip di tengah kota, jawabannya mungkin adalah Galeri Indonesia Kaya.

Berlokasi di West Mall Grand Indonesia (pusat kota Jakarta), Galeri Indonesia Kaya (GIK) merupakan ruang publik yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dalam memadukan konsep edukasi dan digital multimedia untuk memperkenalkan kebudayaan Indonesia dengan cara yang menyenangkan – yang sekaligus menjadi bentuk komitmen Bakti Budaya Djarum Foundation, nama di balik berdirinya GIK, untuk melestarikan kebudayaan Indonesia pada generasi muda.

Selain menampilkan ragam budaya nusantara dalam bentuk aplikasi dan permainan digital, GIK juga menyediakan ruang pertunjukan seni berupa auditorium dimana para pekerja seni dapat melakukan beragam kegiatan seperti tarian, teater, monolog, pertunjukan musik, apresiasi sastra, dan lain sebagainya. Setiap akhir pekan, GIK rutin menyelenggarakan pertunjukan unggulan. Salah satunya adalah yang FIMELA saksikan akhir pekan lalu, pementasan berjudul Romantisme & Kegilaan Agus Noor.

Agus Noor

Sastrawan kelahiran Tegal ini mengajak para penonton yang sekaligus penikmat sastra untuk tertawa menyaksikan drama satir yang diangkat dari kumpulan cerpennya, “Lelucon Para Koruptor”. Penampilnya adalah sederet seniman ternama, antara lain Sujiwo Tejo, Butet Kertaredjasa, Sha Ine Febriyanti, Inayah Wahid, Akbar, Tatok, Vika Aditya, Bagustian Iskandar, dan Andy Sri Wahyudi. 

Tidak sekadar tertawa melihat fragmen-fragmen komedi di dalamnya, penonton juga diajak untuk memahami kritik yang ingin disampaikan Agus Noor terkait carut marut mental masyarakat Indonesia akibat korupsi. Terutama kasus yang paling hangat beberapa waktu lalu, soal politikus yang menabrak tiang listrik (you know who, right?). Gaya satir ini pun dilengkapi dengan keromantisan Agus Noor yang mengambil peran dalam membacakan puisi-puisinya.

Butet Kertaredjasa

Jika tidak ada agenda di akhir pekan nanti, tidak ada salahnya berkunjung ke Galeri Indonesia Kaya untuk sejenak tenggelam dalam abstraksi seni yang menenangkan, sekaligus perkaya diri dengan cara pandang dan pengetahuan baru tentang seni budaya sastra Indonesia. After all, seni adalah salah satu pelarian kita dari hidup yang sekali waktu bisa menyesakkan ini.

Artikel Selanjutnya
Koleksi Kaftan Artistik Ini Membuat Kita Rindu Lebaran Lebih Awal
: