Sukses

Lifestyle

Sampai 2018, Industri Kreatif Sumbangkan Setidaknya 1000 Triliun Rupiah untuk Negara

Jakarta Di Senin pagi yang cerah pekan lalu, FIMELA menghadiri program Bincang Bareng BEKRAF di Museum MACAN, di kawasan Jalan Panjang, Jakarta Barat. Dihadiri oleh sederet pemimpin redaksi dan media lainnya, program seru ini kurang lebih menjadi cara BEKRAF mensosialisasikan perkembangan program-program yang sudah dijalankan sejak pertama kali berdiri 2015 lalu.

Seperti yang disampaikan Kepala BEKRAF, Triawan Munaf, dengan dasar optimisme Presiden Joko Widodo bahwa ekonomi kreatif kelak menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia ketimbang sumber daya alam yang pada waktunya akan habis. Maka, munculnya kegiatan-kegiatan ekonomi kreatif diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang dapat menjaga momentum pertumbuhan dan menciptakan lapangan pekerjaan.

Faktanya 1 dari 100 orang di Indonesia bekerja di industri kreatif dan industri ini menyerap 17,4% tenaga kerja dan bertambah setiap tahunnya (pendataan BEKRAF per-2015). Dari angka ini, ekonomi kreatif diprediksi tumbuh setidaknya 10% tiap tahun. Dimana kontribusi ekonomi kreatif per-2015 untuk produk domestik bruto adalah Rp 922,58 triliun dari Rp 852,56 triliun pada tahun sebelumnya. Hingga tahun 2018, ditargetkan kontribusi mencapai lebih dari Rp 1000 triliun.

Di tahun 2018, BEKRAF masih akan fokus pada 3 subsektor ekonomi kreatif, yaitu fashion, kuliner dan kerajinan tangan. Masih ada 13 subsektor lainnya, tapi melihat potensi dan momen, ketiga subsektor yang disebut tadi mendapat perhatian lebih. “Fashion, secara khusus, adalah subsektor dengan pertumbuhan paling bagus dan kontribusi ekspor paling tinggi. Target ke depan, menjadikan industri fashion di Indonesia terkenal lewat merek-merek dan desainernya, bukan sebagai konveksi,” cerita Ricky Pesik, Wakil Kepala BEKRAF.

Beberapa program unggulan BEKRAF di tahun 2018 antara lain AKATARA, forum pembiayaan film yang mempertemukan pelaku di industri ini dengan investor-investor lokal. Ternyata, pengusaha-pengusaha atau donatur-donatur potensial dalam negeri sudah banyak yang melirik industri film sebagai wadah investasi mereka berikutnya. Salah satu yang cukup unik pula, BEKRAF mulai mengadakan atau membangun bioskop-bioksop terbuka di daerah. Bioskop terbuka yang bukan hanya berusaha membangkitkan minat orang-orang daerah untuk menonton bioskop, sekaligus menjadi pusat kegiatan seni di daerah tersebut. Seperti bioskop terbuka yang sudah dibangun di pulau Weh. Untuk catatan khusus, jumlah penonton bioskop di tanah air melonjak berkali-kali lipat beberapa tahun terakhir. Menjadi perhatian khusus bagi Presiden Joko Widodo agar kualitas film Indonesia terus ditingkatkan.

Berikutnya adalah World Conference on Creative Economy yang akan berlangsung November depan, di Nusa Dua, Bali. World Conference on Creative Economy ini akan mengambil tema besar Inclusively Creative. Sebuah mosi yang menganjurkan bahwa semua orang, tanpa melihat umur, jenis kelamin, latar belakang sosial bahkan demografi atau georgafi, berhak untuk mengaktualisasi diri secara kreatif. Bila diamati, event skala internasional ini akan mampu mempertemukan media-media global dengan semua bentuk industri kreatif tanah air. Sebuah kesempatan besar memperluas pasar yang tak boleh dilewatkan.

Banyak sekali yang FIMELA dapat dalam sesi #BincangBarengBekraf pertama ini, tapi yang pasti menarik melihat masa depan industri kreatif di tanah air dengan semua dukungan yang bisa diberikan oleh pemerintah. Kembali mengutip Ricky Pesik, dibutuhkan ekosistem yang mendukung kreativitas, penghargaan terhadap konsistensi, eksistensi dan persistensi bakat-bakat lokal agar mereka bisa dikenal dunia luar.

Loading
Artikel Selanjutnya
Tur ke dalam Museum MACAN dan Pameran Seni Berubah, Dunia Berubah
Artikel Selanjutnya
Editor Says: Paramore, Antara Penantian dan Keajaiban