Sukses

Lifestyle

Makin Populer, Melancong untuk Pemenuhan Mental dan Spiritual

Fimela.com, Jakarta Berwisata ke tempat baru yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya menjadi pengalaman unik tersendiri, namun trend melancong masa depan akan menyasar lebih dari sekedar pengalaman tadi. Tak sekedar berkunjung atau berwisata ke tempat tempat dengan pemandangan elok, orang-orang sudah mengincar kegiatan melancong yang pada akhirnya mengubah hidup secara emosional dan spiritual. Ini makin populer di lingkup bisnis travel dengan istilah Transformative Travel.

Istilah transformative travel dipopulerkan oleh The Transormative Travel Council yang didirikan oleh Jake Haupert dan Michael Bennett di tahun 2016,  di Seattle, Amerika Serikat. Sebuah organisasi yang memiliki visi membantu orang lain mengubah hidup mereka lewat berwisata. Dan media riset wisata SKIFT yang berbasis di New York, mempublikasikan sebuah laporan trend yang menegaskan meningkatnya kebutuhan akan jenis wisata seperti ini di 2018.

Industri wisata secara global juga meramalkan bahwa "Transformative travel" adalah sebuah evolusi di dunia perjalanan wisata itu sendiri. Bila diamati, sebenarnya memang memiliki elemen yang sama dengan experiential travel, namun transformative travel berada satu langkah lebih dalam dari kegiatan wisata biasa. Dimana motivasi untuk berwisata bukanlah sekedar menghilangkan penat kehidupan sehari-hari, namun lebih kepada pembentukan perspektif pribadi yang lebih luas dan self-reflection, dengan cara membangun komunikasi dan koneksi lebih dalam dengan alam dan budaya asing. Memiliki tujuan untuk lebih mendekatkan diri pada energi yang dimiliki dalam diri, agar mengenal diri sendiri lebih baik.

Mungkin pernah mendengar kutipan yang berbunyi “Go travel alone, and you’ll find yourself there.” Kalimat tadi cukup menggambarkan konsep transformative travel. Daripada hanya sekedar berwisata ke destinasi liburan yang sudah ramai terjamah publik, para pelancong kini mencari sebuah esensi lebih dalam dari kegiatan liburan. Seperti, ikut terjun langsung ke dalam budaya asli dan berinteraksi dengan para penduduk lokal demi mendapatkan pengalaman bukan sebagai turis. Namun, bagai bunglon yang ikut membaur di kehidupan sehari-hari sebuah daerah atau kota kecil yang penuh dengan kekayaan budaya dan kearifan lokal.

 

Contohnya dari kegiatan wisata yang sempat dilakukan oleh model cantik Indonesia,  Dominique Diyose.  Model yang baru menjadi ibu muda itu sempat ikut terjun langsung ke dalam rimba hutan di Kalimantan untuk ambil bagian dalam penyelamatan orangutan yang jumlahnya semakin terancam kepunahan. Ia dan sang suami, sutradara Ivan Handoyo, mengganti bulan madu mereka dengan terlibat dalam kegiatan penyelamatan satwa. Selain membawa perubahan kepada lingkungan dan ekosistem alam, kegiatan travel yang seperti ini mampu membawa siapa pun lebih sadar akan kelestarian lingkungan, juga dapat menjalin sebuah ikatan kuat dengan diri dan alam

Bila yang dilakukan Dominique terasa kelewat berat, transformative travel sebenarnya dapat terwujud pula saat kita mengunjungi tujuan wisata yang membuka wawasan tanpa harus menuju pedalaman Kalimantan. Saat kembali dari sebuah tempat wisata, kita merasakan sebuah perubahan dalam diri, pengembangan pribadi yang positif, pertemuan semangat dan arti hidup, maka kita baru saja mengalami transformative travel.

Artikel Selanjutnya
3 Cara Pulihkan Jet Lag Lebih Cepat Kata Dokter
Artikel Selanjutnya
Ini Dia 6 Travel Hacks Biar Perjalananmu Terasa Lebih Mudah
: