Sukses

Lifestyle

Liku perjalanan Chef Kim Pangestu yang patut dicontoh

Fimela.com, Jakarta Menyukai kue sejak kecil, membuat Kim Pangestu memilih profesinya kini sebagai chef pastry. Kecintaanya terhadap pastry ini berawal ketika dirinya melihat sang ibunda membuat kue.

"Jadi chef sebenernya sering melihat mama bikin kue. Saya suka ketika mama mulai memanggang kue-kuenya. Menurutku, proses manggang tuh magical banget, dari adonan tepung, butter, telur, dan bahan lainnya saat dipanggang begitu harum . Bahkan, saya suka nunggungin depan oven untuk melihat adonan mengembang,"ujarnya saat ditemui di Jakarta Culinary Festival, Senayan, Minggu (4/11).

Perempuan kelahiran November ini mengaku, ketika dewasa dirinya tidak langsung mengambil sekolah chef. Melainkan kuliah di bidang bisnis. Namun ketika usia Kim menginjak 23 tahun, ia merasa bisnis bukanlah passion-nya. Akhirnya ia memutuskan untuk mengikuti passion-nya di bidang pastry dan mulai sekolah di Le Cordon Blue Sydney, Australia.

"Saya nggak langsung sekolah pastry, tapi universitas dulu. Tapi pas umur 23 tahun saya memilih drop out dari kuliah dan memilih sekolah pasrty dan kue pertama yang saya buat itu fruit tart,"tambahnya.

Tantangan menjadi chef perempuan

Setelah sekolah pasrty selama dua tahun, tiga bulan, ia pun mulai bekerja sebagai chef pastry di Australia. Ia bercerita bahwa dirinya pernah bekerja bersama 16 chef laki-laki, dan hanya tiga chef perempuan.

"Menjadi chef perempuan memang menantang, pertama banyak resturant pasrty tidak banyak merekrut chef perempuan karena alasan fisik perempuan lebih lemah dibanding pria. Bayangkan saja saya pernah kerja dengan 16 chef laki-laki yang badannya tinggi-tinggi. Tapi dari situ saya membuktikan bahwa perempuan juga bisa bertahan dan tidak pernah menunjukan saya lemah,"ucapnya.

Jam kerja yang cukup lama pun salah satu tantangan tersediri bagi perempuan yang ingin berprofesi sebagai chef. Contohnya, di Australia Kim pernah bekerja selama 18 jam perhari. Jika dibayangkan tentu begitu lelah.

"Memang jam kerja menjadi alasan kenapa chef pria lebih banyak, karena kalau perempuan kan punya anak harus bisa bagi waktunya. Kebanyakan temenku chef perempuan justru mundur jadi chef. Tapi kalau buat saya, itu adalah tantangan yang harus ditaklukan, karena jika kita niat pasti akan ada jalannya," paparnya.

Tantangan lainnya menurut Kim ialah, tidak bisa selalu mempercantik diri, terkadang tangan pun terluka ketika membuat pastry. "Ngga bisa dandan trus, kaya merawat kuku, merawat kulit, justru tangan malah luka-luka. Tapi itu semua saya jalanin dengan senang karena passion, malah ada ceritanya tangan luka ini kenapa. Dan karir pun berjalan sesuai yang diinginkan," ucap perempuan kelahiran 1988 ini.

Kerja keras membuahkan hasil

Enam tahun berkarier, kini Kim pun salah satu chef perempuan Indonesia yang ahli di bidang pastry. Setelah lama di Australia, di tahun 2013 pun Kim memutuskan untuk pulang ke tanah air. Berbekal pengalaman Kim pun saat ini menjabat sebagai Head Pastry Chef di Nomz Kitchen and pastry.

"Pas pulang ke Indonesia bingung mau ngapain. Awalnya coba-coba online atau bazaar. Eh lama-lama ada yang ngajak gabung di Nomz. Jadi semuanya butuh proses, ngga tiba-tiba sukses. Saya saja masih belajar sampai saat ini, bisa dibilang setiap tahun pasti belajar," paparnya perempuan 30 tahun ini.

Menurutnya, menjadi chef perempuan sangat membanggakan karena menjadi chef perempuan bisa dibilang sangat sedikit. Nah, Kim pun memberikan saran bagi sahabat Fimela yang ingin menjadi chef.

"Harus kuat karena kadang jadi chef itu cukup melelahkan bahkan stres. Tapi jika itu passion kamu rasa cape akan dibayar dengan rasa senang. Seperti saat orang lain makan kue kamu trus enak, itu bisa jadi kebanggan buat diri sendiri," tutup Kim.

Loading