Sukses

Lifestyle

Menyemarakkan Taman Kota Bersama Komunitas Yoga Gembira

Fimela.com, Jakarta Yoga dan alam terbuka adalah kombinasi yang menyenangkan untuk dilakukan. Apalagi jika dilakukan secara rutin seperti komunitas Yoga Gembira yang bersama-sama melakukan Yoga setiap Minggu pagi di Taman Suropati.

Dipelopori oleh guru yoga, Yudhi Widdyantoro, Yoga Gembira terbentuk 17 Januari 2009. "Waktu saya membangun komunitas ini, sebelumnya ada kesan yoga itu eksklusif dan mahal. Sementara saya merasa yoga ada manfaatnya. Untuk yang memiliki keterbatas dan ingin melakukan yoga saya membuat komunitas ini. Kami melakukannya dengan sumbangan sukarela, yang hasil sumbangannya kita alokasikan untuk donasi daerah bencana dan kegiatan amal lain," ujarnya ditemui Minggu, 2 November 2018.

Yudhi sendiri memiliki pengalaman sebagai relawan di daerah bencana. Hal ini juga mendorongnya membuat aktivitas di taman Suropati. Yoga Gembira diharapkan bisa membuka ruang komunikasi untuk mengakrabkan antar warga. Jadi ada interaksi antar warga jika kumpul di taman, maka akan tercipta komnikasi yang baik antar warga.

 

"Semangat kita adalah menghidupi kota dengan mengisi ruang terbuka. Pengalaman di daerah bencana yang saya miliki menunjukkan betapa pentingnya ruang terbuka. Saat bencana terjadi ruang terbuka bisa untuk lari menghindari bencana alam menjadi tempat shelter atau mendirikan tenda-tenda," jelasnya.

Yang lebih seru, Yoga Gembira sudah menginspirasi 21 kelompok untuk melakukan aktivitas di taman. "Saya nggak bilang itu cabang tapi terinspirasi. Makin banyak aktivitas dengan spirit yang sama menghidupkan taman-taman di Jabodetabek akan semakin baik. Moto kami, beryoga, bergembira, berimu, beramal," paparnya.

 

 

Jumlah anggota Yoga Gembira saat ini lebih dari 100 orang dalam sekali latihan sekarang ini. Yudhi dan kawan-kawan ingin memperkenalkan manfaat yoga ke sebanyak mungkin orang dan menginspirasi warga Jakarta agar menghabiskan lebih banyak waktu luang bersama orang-orang terkasih di ruang terbuka hijau, bukan di mall.

Ini yang sangat penting karena masyarakat kita perlu menyatu kembali dengan alam, bumi. Dorongan ini tersa kuat bagi Yudhi karena dia telah merasakan manfaat positif dari yoga.

"Semula saya kenal Yoga karena bapak saya meninggal ada kanker di paru-paru. Betapa repotnya ya sakit itu. Karena itu saya cari olahraga yang berhubungan dengan nafas. Waktu itu saya ikut silat, teryata sangat memerlukan konsentrasi yang tinggi. Lalu saya mencari meditasi di pusat kebudayaan India. Di sana saya kenalan dengan Yoga. Saya diajak ikut kelas yoga, saya ikut saja," kenangnya.

2 dari 2 halaman

Perkenalan dengan Yoga

Yudhi menggambarkan perkenalannya dengan Yoga bebarengan dengan tubuhnya yang banyak menderita penyakit fisik seperti liver, migrain, imsonsia. "Penyakit psikis itu bad tamper. Ambisinya besar sekali, meihat orang kok jelek terus bawaannya. Karena dulu aktif di pusat studi seperti LSM melihatnya pemerinta itu jelek sekali," jelasnya.

Setelah ikut yoga, persoalan-persoalan hidup Yudhi cepat teratasi. "Jadi cepet tidurnya, nyaman. Makanya saya tekuni. Kemudian mengajar," jelasnya.

 

Dia ingin Yoga Gembira konsisten dan semakin banyak berkerjasama dengan komunitas lain. "Karena manifestasi dari berilmu adalah memberi," harapnya.

Pengalaman kolaborasi dengan komunitas lain menjadi pengalaman pemark baginya. "Diundang membuat event. Pengalaman lain pernah didatangi Presiden Jokowi saat itu masih jadi Gubernur. Ada juga selebriti yang ikut. Mungkin temen-teman biasa, tapi seneng juga," kata Yudhi.

Bagi Yudhi, Yoga Gembira adalah caranya berbagi pada sesama. "Yoga ini semoga bisa jadi saluran mengeluarkan suntuk di rumah. Saya berbagi waktu disini. Kita nggak bisa berbagi kalau nggak penuh dulu. Orang yang selesai dengan dirinya baru bisa engisi orang lain. dalam ukuran ekonoi saya nggak banyak tapi cukup, tapi itulah kekayaan. Dengan membagi saya juga bia dapat lebih banyak," jelasnya.

Artikel Selanjutnya
Tools Baru, Berkomunitas Lebih Aman di Facebook Group
Artikel Selanjutnya
Girls In Tech Indonesia, bukti dunia teknologi bukan hanya milik laki-laki