Sukses

Lifestyle

Berkonsep Unik Back To Nature, Batik Flo Dikenal Hingga Luar Negeri

Membicarakan kain khas Indonesia memang tak pernah ada habisnya, karena banyaknya warisan dari nenek moyang di setiap daerah. Apalagi saat ini banyak kalangan muda pecinta fashion yang juga menunjukkan minat yang besar pada kecantikan kain Indonesia, terutama batik.

Hal ini juga memotivasi para pengrajin kain Batik yang seakan terus mengeksplor dan berinovasi, untuk menciptakan kain-kain cantik yang bernilai tinggi dan disukai oleh berbagai kalangan masyarakat.

Salah satu pengrajin yang juga tidak ingin ketinggalan adalah R. Florentini. Wanita pemilik dari merk Flo Natural Dyes ini memilih pewarnaan dari alam untuk seluruh batik yang ia produksi. Ia membuatnya menjadi berbeda dari yang lainnya.

Flo yang merupakan panggilan akrabnya, mendapat inspirasi dari keinginannya untuk terus melestarikan budaya warisan nenek moyang, serta sebagai ungkapan wujud nyata dari rasa peduli untuk menjaga lingkungan. Wanita ini pun memiliki ide untuk membuat selembar kain batik dengan pewarnaan alam.

Beberapa koleksi kain batik Flo Natural Dyes/ copyright by Vemale.com

"Waktu itu lagi booming back to nature, akhirnya kita khusus mewarnai di bale batik. Kita buat dan produksi. Itu delapan tahun yang lalu. Kita bawa ke pameran ternyata animo pelanggan tinggi dan kita jadi pede. Kita coba bikin lebih variatif lagi," kata Flo saat ditemui tim Vemale pada acara pameran Crafina di JCC Senayan Jakarta Pusat Kamis 27 November 2014 lalu.

Ia juga menambahkan, pewarnaan alam dipilih agar tidak menghasilkan limbah yang bisa mencemari lingkungan, seperti pewarna sintetis. Efek yang dihasilkan oleh bahan alami tersebut, membuat Flo merasa jatuh cinta dan puas, yang pada akhirnya usaha berjalan hingga sekarang.

Busana dan kain batik Flo tersebut diproduksi di kota Gudeg Yogyakarta, warna-warna alam yang dipakai seperti biru, hijau, kuning, cokelat, abu-abu hingga krem. Warna-warna ini, dihasilkan dari beragam tanaman.

"Semua tanaman sebenarnya bisa. Tapi kadar warna yang keluar tiap daun atau kayu itu berbeda-beda. Biasanya kita pakai daun mangga atau daun jati juga bisa. Tapi kalau jati agak susah nyari di Jogja. Jadi banyak pake daun mangga," ujarnya.

Setiap jenis tanaman, kata Flo, dipakai untuk menghasilkan jenis warna yang berbeda pula. Seperti warna biru memakai daun tom, hijau memakai daun mangga, abu-abu memakai daun rambutan ataupun kuning yang memakai kayu nangka.

"Prosesnya itu kita rebus dahulu tanaman-tanamannya. Biasanya dari 10kg daun, nanti setelah direbus, jadi untuk pewarnaannya hanya 1kg. Setelah itu baru masuk ke proses pewarnaannya yang bisa 10-15 kali celup. Sedangkan pewarnaan yang biru itu kita pakai proses fermentasi dulu," jelas Flo dengan menjelaskan proses pembuatannya.

Pewarnaan bisa diulang hingga 15 kali/ copyright by Vemale.com

Proses produksi, tambah Flo, biasanya dilakukan saat musim panas tiba. Karena, jika terlalu dingin, tidak ada matahari, warna yang dihasilkan akan berbeda. Begitu juga saat dijemur langsung menghadap sinar matahari. Jika ingin menghasilkan warna yang indah, yang paling tepat adalah hanya di angin-anginkan saja. Untuk menjaga kain atau busana yang memakai pewarna alami, memang berbeda.

"Perawatannya dianjurkan juga alami. Bisa dengan kerak daun dilem kalo di Jogja. Kalau produk kami yang full batik, bisa dicuci dengan deterjen lembut tanpa pemutih, atau pakai shampo," sarannya.

Kalau yang polos, Flo menyarankan jangan terlalu sering dicuci. "Orang kan kalau pakai jarang yang sehari penuh. Kalau cuma dipakai sebentar, diangin-anginkan saja. Atau kalau sudah terlalu kotor, dicelup saja ke pewangi tapi jangan direndam," tambahnya.

Tak hanya masyarakat dalam negeri saja yang menggemari produknya tetapi orang-orang dari sejumlah negara seperti belanda, Suriname, Amerika hingga Jepang juga turut memborong kreasi Flo. Sesuai dengan proses pembuatannya harga dimulai dari Rp 300.000,00

Selain mengikuti acara pameran Craftina, karya Flo Natural Dyes juga bisa didapat di Sarinah Thamrin, Sarinah Pejaten dan Pendopo Living World Alam Sutera, siapa tahu Anda berminat Ladies.

(vem/yun/feb)
Loading
Artikel Selanjutnya
Jam Kerja Terlalu Panjang Bahayakan Kesehatan Perempuan