Sukses

Lifestyle

71 Tahun Indonesiaku: Ada Tawa Dalam Peningnya Panjat Pinang

Di bulan Agustus ini, sudah menjadi agenda acara di mana - mana dalam memperingati kemerdekaan bangsa. Lomba - lomba unik, menarik dan massal diikuti oleh sebagian besar warga dimanapun mereka berada. Mungkin hanya di Indonesia saja, peringatan hari kemerdekaan diisi dengan berbagai macam lomba yang terkesan unik tapi acapkali terlihat aneh, menarik walau terkadang konyol.

Semua orang diharapkan terlibat di dalamnya. Dari orang dewasa, ibu - ibu, terutama anak - anak dimanapun mereka tinggal.  Setelah lomba makan krupuk, lari karung dan tarik tambang yang melegenda, bermunculanlah lomba - lomba kreasi baru yang dirancang agar peringatan semakin meriah. Dengan tak melupakan tujuan lain yang tak kalah penting, yakni agar semua yang terlibat merasa terhibur.

"Anda tak bisa memisahkan KEDAMAIAN dari KEBEBASAN. Siapapun tak akan pernah berada dalam kedamaian, jika tanpa memiliki kebebasan." -- Malcolm X

Setelah terkekang dan tertindas sekian lama dalam penjajahan bangsa asing, lalu merdeka, bangsa ini memang patut dan layak untuk menghibur diri dan berbahagia dengan cara - cara semampu mereka. Dalam keterbatasan, kekurangan bahkan ketidakberadaan, apapun yang bisa mendatangkan senyum dan tawa layak untuk dilakukan. Walau berarti harus menertawakan orang lain, hal itu sudah cukup menghibur. Dan lihatlah, diseluruh pelosok negeri, terutama di kampung - kampung, lorong - lorong, gang - gang, dan di pelosok desa, sorak sorai, gelak tawa dan suasana gembira menyeruak di antara hiasan penjor dan bendera merah putih yang berkibar di mana - mana. Gembira dalam kesederhanaan yang bersahaja.

Salah satu lomba yang populer adalah lomba makan kerupuk. Kenapa makan krupuk? Mungkin karena roti dan keju, dulunya tak setiap hari bisa terbeli oleh sebagian besar rakyat negeri ini. Lomba makan roti atau burger kan hanya baru - baru ini saja, itupun penuh pesan sponsor. Kenapa lomba balap karung? Mungkin karena dulu, jangankan motor, sepeda saja barang mewah dan hanya mantri pasar  yang bisa memiliki. Lomba balap liar kan hanya baru - baru ini saja, itupun dikejar - kejar aparat karena mengganggu ketentraman dan keamanan pengguna jalan lainnya.

Hingga kemudian ada lomba panjat pinang yang konon dahulu diselenggarakan oleh para meneer Belanda saat berpesta. Panjat pinang, adalah jenis lomba memeriahkan Hari Kemerdekaan yang diselenggarakan tidak sembarangan. Karena hadiah - hadiah sebagai umpan yang digantung tinggi di atas batang pinang, diadakan dengan biaya yang jauh lebih banyak dibandingkan ongkos pelaksanaan lomba - lomba lainnya. Untuk bisa mengambil hadiahnyapun, tidak bisa dilakukan oleh satu orang saja, melainkan sekelompok orang dengan bahu - bahu sekuat kuda. Bahu membahu, pundak dipijak untuk memanjat batang pinang yang dilumuri pelicin, yang membuatnya susah untuk digenggam, dipeluk apalagi dipanjat. Tak dipelicin saja susah, apalagi dilumuri oli mesin.

Panjat pinang yang bikin pening | Foto: copyright merdeka.com/imam buhori

Senyum dan tawa terhibur adalah tujuan utama dari lomba - lomba peringatan hari kemerdekaan. Senyum dan tawa terhibur yang lahir dari kekonyolan sekaligus satir yang sebenarnya menggambarkan kondisi sebagian besar rakyat negeri ini. Yang walau telah merdeka dari penjajahan bangsa lain, namun masih terbelenggu oleh kemiskinan dan kebodohan.

71 tahun dari saat pertama mendapatkan kebebasannya, nampaknya rakyat negeri ini justru menghadapi berbagai macam penjajahan terselubung oleh tak hanya bangsa asing, namun juga oleh 'saudara - saudara'nya sendiri. Penjajahan ideologi, perbudakan ekonomi, pemerkosaan budaya, penindasan teknologi dan penyesatan - penyesatan informasi serta bentuk - bentuk eksploitasi manusia atas manusia lainnya.

Sepertinya memang masih akan lama lomba - lomba memperingati hari kemerdekaan akan tetap seperti lomba - lomba sejak dahulu kala. Kerupuk, karung dan tambang. Karena nampaknya kondisi rakyat negeri ini tak begitu banyak berubah. Kita masih harus banyak bersabar dan mengalah dengan memanfaatkan apa adanya yang bisa dan dipunya. Panjat pinang seolah diselenggarakan hanya untuk semakin mengingatkan dan menunjukkan kepada kita semua, bahwa untuk meraih hadiah kesejahteraan, kita masih harus jatuh bangun dalam lumpur, saling bahu membahu, pundak diinjak, berlumur oli dan menjadi bahan lelucon dan tertawaan. Lelucon dan tertawaan bangsa lain yang telah merasakan kesejahteraan terlebih dahulu.

Marilah kita tertawa dan menghibur diri saja dengan hal - hal yang sederhana dan bersahaja, yang ada dan bisa didapatkan dari sekeliling kita. Daripada berpenat - penat memanjat pinang untuk menggapai awan. Merdeka!

Dituliskan oleh Yasin bin Malenggang untuk rubrik #Spinmotion di Vemale Dotcom. Lebih dekat dengan Spinmotion (Single Parents Indonesia in Motion) di http://spinmotion.org/

(vem/wnd)
Loading