Sukses

Lifestyle

Jodoh Terbaik Adalah Pilihan Tuhan, Aku Percaya Kami Akan Bertemu

Saat semua orang sibuk mencarikan jodoh untuk sahabat kami ini, dia memilih percaya bahwa yang terbaik akan datang. Kisah ini adalah salah satu kisah nyata yang diikutsertakan pada Lomba Menulis My Life, My Choice.

***

Beberapa orang mengatakan menikahlah dengan orang yang mencintaimu, karena dia akan membahagiakanmu. Dengan menerima cinta yang tulus dari orang yang mencintaimu, cinta yang hadir dalam hati akan terasa lebih indah. Beberapa orang mungkin bertemu dengan orang yang mencintai mereka. Tapi orang yang mencintai bukan berarti orang itu tidak mereka cintai.

Sebagian orang tua mengatakan mengatakan pada anaknya jika cinta itu bisa datang belakangan. Mereka menikah dengan cara perjodohan. Tanpa didasari rasa saling mencintai, kami bisa menjalankan pernikahan yang langgeng. Tapi mereka lupa, tak sedikit dari pernikahan dengan cara perjodohan yang berakhir perceraian.

Awal usia dua puluh tahunan merupakan usia ideal bagi seorang wanita untuk menikah. Wanita akan sulit untuk melahirkan saat memasuki usia tiga puluh tahunan.

Orang Tua Sudah Mendesak Agar Aku Segera Menikah

Tahun ini usiaku telah menginjak angka dua puluh enam tahun, angka yang sudah mulai mendekati angka tiga puluh. Orang tua mulai menuntutku untuk segera memberi cucu untuk mereka, ditambah aku adalah sulung dari bersaudara. Putra pertamaku akan menjadi cucu pertama bagi mereka. Bisik-bisik tetangga yang mulai mengusik telingaku, maklum di daerahku para wanita menikah di usia belia.

“Kapan menikah?”, “Sudah punya calon belum?” pertanyaan semacam itu meluncur dari mulut mereka. Terkadang kujawab dengan kata doakan saja, atau bahkan hanya dengan senyuman.

Tak jarang simpati datang dari mereka dengan mengenalkanku kepada beberapa pria yang juga sedang mencari pasangan hidup. Entah kenapa dari mereka tak ada satu pun yang menarik perhatianku, apalagi membuatku merasa hal yang disebut cinta. Tak kenal maka tak sayang, itulah yang mereka katakan. Mereka menginginkanku untuk mengenal mereka lebih jauh namun hal itu tak pernah berakhir dengan kata yang terdengar indah bagi sebagian orang, cinta.

Seminggu yang lalu tanteku mengenalkanku pada pria berusia 43 tahun. Sesuai dengan usianya pria tersebut telah mapan, tempat tinggal dan kendaraan pribadi telah ia miliki. Tanteku pun memberi wejangan padaku jika usia bukan tolak ukur penting dalam membina sebuah keluarga, karena tanteku sendiri menikah dengan pria yang berbeda tujuh belas tahun darinya. Nenekku yang tahu kabar tersebut pun membujuk sambil menitikan air mata. Namun apa daya air matanya pun tak bisa meluluhkan karang dalam hatiku. Tak ada perasaan yang kurasakan pada pria tersebut.

Kadang Yang Terbaik Bukan Datang Sebagai Yang Tercepat

Untuk kesekian kalinya dengan yakin kukatakan pada mereka, aku bisa menemukan jodohku sendiri. Lagipula menikah bukan tentang siapa yang paling cepat ia menjadi pemenang. Aku tidak akan menyesal walaupun tidak menikah di usia muda, asalkan aku dapat menikah dengan seseorang yang tepat. Aku yakin saat Tuhan mempertemukanku dengan jodohku yang sesungguhnya, pernikahan itu bukan hanya harapan tapi kenyataan.

Dan untuk ia yang masih menjadi misteri, aku akan menunggu sebanyak apapun waktu berat yang akan kuhadapi. Setidaknya harapan selalu ada dan Tuhan tak pernah tidur. Tak sekalipun Tuhan tak menjawab keinginanku.

(vem/yel)
;
Loading