Sukses

Lifestyle

Tepat Sebelum Wali Nikah Datang, Ayah Mengembuskan Napas Terakhirnya

Kisah sahabat Vemale dalam tulisan yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Here Comes the Bridezilla ini benar-benar menguras air mata. Ada kebahagiaan saat janji suci itu diucapkan tapi juga ada kesedihan yang begitu mendalam di dalamnya.

***

Bagi semua orang pernikahan merupakan suatu momen kebahagiaan dalam hidup yang sulit dilupakan. Terutama bagi para wanita. Di mana mereka bisa menjadi seorang ‘ratu’ yang mengenakan gaun paling mahal dengan perhiasan paling mewah dan dandanan paling cantik. Sehingga semua wanita yang melihat ‘ratu’ akan terpesona dengan segala keistimewaan yang ditunjukkannya hari itu. Namun semua itu tak berlaku bagiku. Aku tak pernah menjadi ratu yang dipandang takjub di hari pernikahannya. Aku tak mengenakan gaun mewah ataupun perhiasan mahal, bahkan tak ada pesta pernikahan yang istimewa. Semua dilakukan dengan sangat tertutup. Tak ada perayaan yang berarti. Mengapa demikian?

Semua berawal dari hubunganku dengan calon suamiku yang tak kunjung mendapat restu. Sebut saja namaku Ririn ya, waktu itu aku hanya seorang mahasiswa di perguruan tinggi swasta yang tidak terlalu dikenal, aku orang biasa saja tak ada yang istimewa dari keluaragaku. Ayahku hanya seorang guru honorer. Ibuku seorang ibu rumah tangga.

Berbeda dengan calon suamiku, sebut saja namanya Sugih. Dia berasal dari keluarga yang berada, ayahnya bekerja di luar negeri dan ibunya bekerja sebagai PNS. Saat mengenalku, Sugih adalah seorang mahasiswa di universitas negeri ternama di Bandung. Aku mengenalnya melalui temanku. Kami menjadi dekat dan lalu mengikat hubungan yang cukup lama. Bersamanya aku merasakan sebuah kenyamanan. Ia memberiku banyak cinta dan kasih sayang. Dia sangat pengertian dan mau menerimaku apa adanya. Sampai dua tahun hubungan kami berlanjut.

Sampai suatu ketika Ayahku sakit, ia terkena gagal ginjal. Dokter memvonis umurnya tidak lama lagi. Ayahku pun mempunyai suatu keinginan untuk melihatku menikah. Ia meminta Sugih segera meminangku. Namun dengan kondisi Sugih yang saat itu belum menyelesaikan kuliahnya, itu adalah sebuah pilihan yang berat. Apalagi saat ia menyatakan hal itu pada orang tuanya, mereka terang menolaknya. Mereka tak memberikan ijin dan restu. Apalagi mereka tahu aku adalah calonnya. Mereka mengenalku dan mereka tidak menyukaiku karena aku hanya orang biasa dan fisikku punya kekurangan. Ya, sebenarnya secara fisik aku terlihat kurang normal saat berjalan. Aku pernah mengalami kecelakaan fatal waktu kecil, sehingga tulang lututku harus diambil. Hal itu menyebabkan cara berjalanku agak pincang.

Aku memang tidak sempurna./Copyright pixabay.com

Pilihan yang berat membuat kami sempat berpisah, aku tak pernah menyalahkan Sugih karena perpisahan ini. Namun berat bagiku menjelaskan perpisahan kami pada ayah. Apalagi kondisi ayah waktu itu dalam masa kritis. Sampai pada hari terakhirnya ayah terus memintaku untuk menikah dengan Sugih, aku pun dengan sangat terpaksa menghubungi Sugih kembali setelah perpisahan kami. Aku memintanya berpura-pura menikahiku.

Tapi justru Sugih tak menerima permintaanku, sebaliknya ia berniat serius menikahiku. Ia tak mempedulikan peringatan keluarganya yang tidak akan mengakuinya lagi, jika ia berani melanjutkan hubungannya denganku.

Hari itu aku masih ingat betapa menyedihkannya perasaan kami menyambut hari pernikahan kami. Hari di mana penuh linangan air mata. Namun semuanya demi cinta yang kuat dan niatan yang tulus untuk sama-sama menempuh ridho Illahi kami pun berniat melangsungkan pernikahan. Sugih pergi meninggalkan rumah mewahnya dengan hanya membawa tas ransel dan satu pasang baju. Ia datang ke rumahku dan langsung melamarku untuk menikah dengannya hari itu.

Tak ada pakaian istimewa yang kami kenakan, bahkan tak ada mahar yang mahal yang ia bawa untuk melamarku. Ia hanya membawa sebuah mukena, itupun mukena yang ia beli kredit dari teman kami. Hari itu tak ada pihak keluarganya yang datang satupun, hanya seorang teman baiknya. Bahkan teman itu juga yang meminjamkan Sugih sepasang pakaian hitam putih dengan jas hitam untuk dikenakannya di hari pernikahan kami. Aku bermake up seadanya. Tak mengenakan pakaian mahal ataupun mewah, hanya sebuah kebaya sederhana yang biasa dipakai untuk pergi ke undangan. Tak ada janur kuning terpasang, karena tak ada pesta istimewa. Tak ada catering ataupun makanan hajatan yang disajikan untuk para tamu, hanya hidangan seala kadarnya. Semua hanya akan berjalan dengan sangat sederhana, demi memenuhi impian ayah.

Namun tepat sebelum wali nikah datang, Ayah mengembuskan napas terakhirnya. Ia tidak sempat menjadi  wali saat ijab qabul dilangsungkan. Tragis memang, tapi inilah kenyataan yang harus kujalani di hari pernikahanku. Sebuah kondisi yang dilematis, antara air mata kesedihan dan kebahagiaan. Aku mengikrarkan sebuah janji suci pernikahan di antara rasa sedih dan sakit karena kehilangan ayah. Di lain sisi, suamiku Sugih mengikrarkan janji pernikahannya di antara rasa sedih karena keputusan besar yang sudah dia buat. Dia meninggalkan keluarganya dan memilih aku.

Ayah lebih dulu berpulang./Copyright pixabay.com

Pernikahan yang berlangsung dengan penuh air mata. Hari itu kami menangis dan tersenyum. Inilah perjalanan akhir cinta kami. Di sebuah pelaminan suci, kami mengikat janji melabuhkan cinta kami dalam sebuah pernikahan yang diridhoi Illahi. Meski tanpa pesta, tanpa kemewahan dan tanpa sanak keluarga yang datang, tapi niatan kami tulus. Tuhan tahu kami saling mencintai, kami hanya sepasang insan yang ingin berlabuh bersama dalam mengarungi mahligai rumah tangga.  

Aku sangat bersyukur dengan hari pernikahan "tragis" yang kulalui  di hari itu, karena dengan begitu aku bisa tahu besarnya pengorbanan yang diberikan oleh suamiku. Dia rela melepaskan ‘takhta kerajaanya’ demi berjalan menuju ‘gubuk’ milikku.  Dari suka dukanya hari pernikahan yang kami jalani, memberi aku satu pelajaran yang berharga bahwa Tuhan memberiku jalan ini adalah agar tahu bahwa suami yang Tuhan beri adalah jodoh yang terbaik. Karena ia adalah seseorang yang tak memberiku mahar mewah ataupun pesta meriah di hari pernikahan kami, namun ia memberiku banyak cinta yang lebih dari sekedar harta. Ia mengorbankan banyak hal untuk memilihku. Ia menerimaku dengan tulus dan menyayangiku dengan sangat besar. Ia mau merintis semua dari awal denganku dia memulai semua dari titik terendah demi meraih sakinahnya bersamaku.

Terima kasih suamiku./Copyright pixabay.com

Banyak kita saksikan pesta pernikahan mewah dengan pemberian mahar yang mahal tapi suaminya kemudian menyakitinya. Bukankah semua kemewahan di acara pernikahan itu takkan bermakna apapun, ketika sebuah ikrar suci sudah dinodai?

Semoga menginsipirasi para wanita Indonesia bahwa untuk menikah dengan seseorang tak perlu mengharapkan ia memberikan banyak kemewahan dan harta. Cukup ia memiliki cinta yang banyak untukmu dan mau berjuang keras untukmu, maka semuanya pun dapat diraih bersama. Memulai dari titik awal dengan perjuangan yang penuh dilematis, akan menciptakan sebuah kebersamaan yang akan lebih dihargai dan disyukuri. Karena dengan kebersamaan yang tidak mudah akan membuat perpisahan pun tidak mudah diputuskan.

*Berdasarkan kisah nyata dengan nama disamarkan.

Thanks for my husband, love you forever.

 

(vem/nda)
Loading