Sukses

Lifestyle

Salah Satu Temanku Hamil di Luar Nikah dan Nyaris Bunuh Diri

Tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kocok-Kocok Ceria ini mengungkapkan makna persahabatan yang sejati. Juga soal perjuangan menghadapi setiap masalah dengan saling menguatkan satu sama lain.

***

Hai Girls, kenalin namaku Rain. Cukup singkat ya namaku. Lahir di Garut tahun 1995 bergolongan darah O. Ya sekadar anekdot saja aku dapatkan nama itu karena ibuku suka hujan, dan hujan diambil dalam bahasa Inggris itu rain. Wow walaupun ibuku orang Sunda tapi keren juga namaku dan berbeda dengan nama-nama Sunda yang lain sebut saja Minah, Eneng, Lilis, dan lainnya.

Sekarang aku akan menceritakan kisah pertemanan kami yang bisa dikatakan lebih dari pertemanan biasa bahkan bisa dikatakan melebihi sahabat. Awalnya aku hanya anak desa yang tinggal di kampung yang teramat jauh dari jangkauan kendaraan umum di kota Garut, dan seringkali aku harus berjalan kaki sepanjang 4 km setiap harinya untuk menemukan kendaraan umum menuju SMA. Kadang suka mengeluh juga sih, tapi dibawa happy aja. Tiba-tiba selepas SMA aku tersesat di kota, oh kok bisa? Nih aku ceritakan awalnya bisa membentuk squad yang luar biasa.

Pada bulan Juli 2013 lalu aku yang mencoba peruntungan kuliah di luar kota, berhasil mewujudkannya. Aku berhasil lolos di salah satu perguruan tinggi negeri yang cukup terkenal di Bandung. Walaupun dengan keadaan ekonomi yang serba pas-pasan, karena kegigihan dan kerja keras, akhirnya aku bisa menikmati indahnya kota Bandung yang dikatakan sebagai salah satu kota Pendidikan itu. Sebelum efektif kuliah di bulan Agustus, aku disibukkan mencari kos-kosan. Setelah aku berputar-putar kesana-kemari mencari kos-kosan, maklum cari-cari kosan yang murah meriah, akhirnya aku menemukan kos-kosan yang lumayan murah hanya Rp350 ribu yang sudah dilengkapi lemari dan kasur. Walaupun kamar mandinya masih berada diluar dan letaknya masih lumayan jauh dari kampus, kurang lebih sekitar 1/2 jam, tapi lumayan lah. Lokasinya sendiri cukup menyeramkan karena dekat dengan pemakaman umum, tapi aku tidak terlalu memikirkan hal-hal seperti itu karena aku percaya Tuhan akan melindungiku dari hal-hal yang gaib.

Setelah 3 hari berlalu, kosan masih tetap kosong dan baru dihuni sekitar 4  kamar dari jumlah 15 kamar. Dan penghuni salah satu kamar itu adalah aku dan 3 kamar lainnya diisi oleh kakak tingkatku yang ternyata 1 tahun lagi akan segera lulus. Wow berarti secara otomatis hanya aku sendiri dong kalau kakak-kakak itu sudah selesai kuliah. Akhirnya 1 minggu berlalu dan aku telah mengikuti orientasi siswa di hari pertama, aku masih belum punya teman baru yang sebaya denganku di kosan. Aku pulang dengan wajah letih dan muka kisut menuju kosan. Setibanya disana betapa terkejutnya aku karena di kosan tiba-tiba sudah terisi semua. Aku pun bahagia sekaligus terkejut dengan kedatangan teman-teman baru di kos-kosanku.

Menemukan teman-teman baru./Copyright pixabay.com

Bahagianya aku karena mendapatkan teman-teman baru dan terkejutnya aku merasa berada di tengah-tengah kelas nasional karena ada orang Jawa, Bugis, Batak, dan Betawi yang menjadi teman kosku. Malam itu kami berkumpul di tengah ruangan besar di rumah pemilik kosan dan memperkenalkan diri masing-masing. Setelah memperkenalkan diri aku langsung SKSD (Sok Kenal Sok Dekat) dengan mereka, namun nampaknya tidak direspon dengan baik. Aku merasa sedih dan berpikir, “Apakah mereka akan jadi temanku? Atau tidak ada yang mau jadi temanku?" Aku mendapatkan penjelasan dari Bu Jamilah pemilik kosan bahwa mereka sebenarnya sudah menyewa kamar dari 1 hari setelah aku datang. Sebenarnya Bu Jamilah sudah mau bilang tapi aku yang suka kelayapan dan nggak betah ada di kosan (karena gak punya temen), sehingga dia jarang bertemu denganku. Kalaupun bertemu, kondisinya ketika aku terburu-buru, maklum anak baru yang ingin terlihat sibuk hehe. Tidak terasa masa orientasiku sudah selesai, dan aku masih belum mendapatkan teman dekat di kosanku.

Setelah seminggu mereka menempati kamar masing-masing terdengar “krik-krik” aku menggerutu dalam hatiku, “Tuhan apakah salah dan dosaku disini, kenapa mereka mencuekkan aku?” Sekali lagi aku berpikir, “Apakah aku akan punya teman? Dan akan betah bertahan di sini?” Sore hari pun tiba, tiba-tiba ada pemuda yang gagah, tinggi, putih, dan super ganteng datang ke kos-kosan kami. “Assalamu’alaikum,” sontak semua penghuni kosan keluar dan semua mata tertuju pada pemuda itu. Kebetulan pada waktu itu hanya ada 5 orang termasuk di dalamnya aku.

Mencoba untuk dekat./Copyright pixabay.com

Semuanya  mendadak ramah dan tersenyum lebar dan kebetulan yang keluar itu adalah teman-teman yang berbeda suku. Suasana pun tiba-tiba menjadi hangat. Nita orang Padang berpenampilan menarik bermata sayu berkulit kuning selayaknya bangsawan Bugis. Ayu terlihat dari namanya orang Jawa berasal dari Surabaya, orangnya imut, dan nada bicaranya masih medok. Sophie orang Jakarta keturunan Batawi yang dingin dan cuek tapi lumayan cantik. Dan satu orang lagi yang keluar waktu itu Stela Nasution orangnya tinggi berahang besar dan terlihat sangat tegas berasal dari Medan. Kami menjawab salamnya bersama-sama, “Wa’alaikumsalam." Semuanya tertegun dan melihat ke arah pemuda itu hampir tidak berkedip karena saking gantengnya.

Stela tiba-tiba bicara dengan nada kerasnya, “Bang mau cari siapa ada keperluan apa kemari?”

“Iya perkenalkan nama aku Lukman, anak dari ibu Jamilah.”

Semuanya berbahagia karena anak dari pemilik kosan adalah pemuda yang tampan, namun tiba-tiba Sophie menyela, “Kakak sudah punya pacar?"

Kami semua mendadak malu dengan pertanyaan yang dilontarkan Sophie, namun kami berharap jawabanya seperti yang kami harapkan, yaitu single.

Sontak Lukman pun tersenyum dan kaget, “Aku single,” dijawabnya dengan sumringah.

Semua gadis termasuk aku langsung berbinar-binar, ”Aku single kalau 1 bulan yang lalu, tapi minggu kemarin aku baru menikah," lanjut Lukman.

Jeng jeng jeng suara petir langsung menyelimuti otak kami, terlihat wajah-wajah malu dan tidak menyangka bahwa dia sudah menikah. Bukannya kami bersedih, sontak kami semua tertawa keras bersama-sama. Dan Lukman memilih untuk pergi karena merasa kos-kosan yang ditempati ibunya tersebut dikelilingi wanita-wanita aneh dari berbagai suku. Dia pun tidak sempat menjelaskan maksud kedatangannya ke kos-kosan, namun siapa sangka disitulah persahabatanku dengan teman-teman kosku tercipta.

Dengan jurus SKSD, aku mulai bertanya hal-hal kecil kepada mereka. Seperti kalian berasal dari mana? sekolah dimana? kenapa memilih sekolah di Bandung? sudah punya pacar? Pertanyaan-pertanyaan yang ringan dan sederhana nampaknya benar-benar keahlianku dan dapat mempererat hubungan kami.

Suasana hangat pun tercipta di antara kami berlima, tiba-tiba pada saat asyik-asyiknya kami sedang mengobrol datanglah Bu Jamilah, “Permisi.”

“Yo Bu, masuk wae,” sahut Ayu.

“Ini anak ibu tadi kemari ya?”

“Enggeh bu. Mas Lukman?”

“Iya, Cah Ayu."

“Ngomong-ngomong ada apa ya, Bu?” sahut Sophie.

“Ini lho tadi Lukman disuruh ke sini disuruh meriksa listrik kamar mandi yang kemarin mati itu, lho.”

“O iya bu, tadi sih Mas Lukmannya kabur.”

“Iya Neng Sophie, anakku yang ganteng itu suka grogian kalau ada orang-orang baru, nanti akan ada tukang ke sini betulin listriknya.”

“Lho kenapa, Bu? Mas Lukman-nya nggak bakalan dimakan kok,” sahut Stela dengan nada kencang khas Medanya.

Ibu Jamilah hanya tersenyum, “Ya sudah ibu pulang dulu ya, jangan lupa nanti kalau mau tidur jaga keamanannya, gerbang dan pintunya dikunci.”

“Siap Ndoro, Cah Ayu siap jadi satpammu, siapkan saja pemuda yang seperti mas Lukman untukku,” jawaban humor yang menggelitik datang dari Ayu. Kami pun kembali tertawa terbahak-bahak, Bu Jamilah pun pergi dengan senyum lebar di wajahnya. Akhirnya melalui kejadian hari ini aku menyadari bahwa di antara kami memiliki banyak persamaan, dimulai dari tipe idaman sampai selera humor yang sama.

Di sini aku menyadari hal terbesar yaitu jangan menilai orang dengan instan, dan belajar menerima apa adanya meskipun dengan latar belakang yang berbeda.

Ikatan persahabatan itu terjalin./Copyright pixabay.com

Tak terasa kami telah bersama selama 1 tahun, persahabatan kami tercipta dengan erat dan kami menghadapi suka duka bersama. Kami sudah beberapa kali jatuh miskin karena telat menerima uang bulanan dari orang tua kami. Namun kami percaya pasti ada kemudahan di balik kesusahan, setiap hari kami berjualan di kampus entah itu gorengan, atau minuman dan memaksa kepada mahasiswa lain untuk membeli barang dagangan kami, dan buktinya sampai sekarang aku dan teman-temanku dapat bertahan.

Masalah sedikit atau sebesar apapun selalu kami ceritakan kepada satu yang lainnya. Namun pada tahun ke-3 tepatnya waktu kami menginjak semester 6, kami tidak mengetahui salah satu diantara kami ternyata mempunyai masalah yang berat, yaitu hamil diluar nikah. Salah satu member kami Nita ternyata sudah hamil selama 3 bulan. Dia tidak memberi tahu kami kalau dia sedang hamil dan aku menyadari ketika ada perubahan fisik yang dialaminya, seperti tiba-tiba payudaranya kencang, sering mual, dan bokongnya terlihat lebih lebar.

Waktu itu ketika aku dan Nita sedang di kamarku, aku langsung bertanya kepada Nita, “Nit kamu hamil?” Dia terdiam sejenak dan menjawab dengan terbata-bata, “Iya Rain, tapi aku takut kalau mengecewakan kalian dan keluargaku di Padang sana."

Aku terdiam seribu bahasa dengan muka pucat dan mata yang penuh dengan air mata dan bingung apa yang harus kulakukan. Tiba-tiba Stela datang dan dia tidak sengaja mendengarkan percakapan kami. Tak kusangka dia sangat marah, “Kamu nyadar kelakuan kamu itu sangat memalukan, dan kamu telah melanggar komitmen kita untuk nggak pacaran selama kita kuliah. Jawab siapa yang ngehamilin loe?”

“Tenang Stel, ini musibah, dia juga udah ngaku juga,” jawabku dengan nada gemetar.

“Heh kau jangan kau bela temanmu yang salah itu. Pulangkan saja dia ke Mamaknya di Padang sana, nggak guna, percuma hidup dia udah hancur, jangan bawa dampak negatif ke ke kita,” sahut Stela, dia langsung keluar dan membanting pintu.

Aku hanya terdiam dan menenangkan Nita, “Udah Nit kita pikirkan nanti gimana jalan keluarnya, sekarang coba kamu ceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya.”

Nita mulai menjelaskan bagaimana dia bisa hamil, awalnya dia tergila-gila pada kakak tingkatnya Randi namanya, karena anaknya pintar dan kaya. Dia tidak berani menceritakan apa yang sebenarnya karena komitmen kita yang tidak dulu berpacaran setelah kami lulus kuliah, dia tidak tahu kalau laki-laki yang dia taksir ternyata seorang playboy kelas kakap yang belakangan  ini dikenal telah mempermainkan banyak wanita. Dia sudah beberapa kali minta tanggung  jawab namun tidak juga ditanggapi. Sementara untuk Ayu dan Sophie mereka berdua masih tidak tahu dengan apa yang terjadi. Aku berpikir cobaan apa yang terjadi ya Tuhan? Mungkinkah ini ujian persahabatan kami?

Tengah malam pun tiba, namun aku masih belum bisa tidur karena merasa masih ada yang menganjal dalam pikiranku, “Bagaimana kalau keluarganya tahu?" "Bagaimana sikapku sebagai seorang teman?" "Bagaimana kalau dia dikeluarkan di kampus?" Begitulah pikiranku sepanjang malam, namun entah mengapa  di tengah-tengah pikiranku yang dalam, aku ingin mengunjungi Nita di kamarnya.

“Nit, Nit, buka pintu,” setelah berselang 15 menit nampaknya kamarnya sangat sepi. Aku coba untuk meneleponnya namun tidak diangkat. Akhirnya aku berinisiatif untuk mencongkel jendela belakang kamarnya dengan sebuah pisau walaupun tidak mungkin, namun ternyata jendelanya tidak dikunci, sehingga dengan mudah aku bisa langsung masuk.

Setelah berada di kamar, betapa terkejutnya aku karena Nita tidak ada di tempat tidurnya dan hanya ditemukan sepucuk surat di kamarnya.

“Teruntuk teman-teman seperjuanganku, aku minta maaf karena telah mengecewakan kalian, sekarang aku akan pergi jauh, terima kasih atas semuanya dan sekali lagi maagkan aku.”  

Saling menguatkan./Copyright pixabay.com

Seketika aku mulai terkurai lemas, dan bergegas menelepon Stela, Shophie dan Ayu. Dengan muka pucat dan napas tersengal-sengal mereka datang ke kamar Nita, “Kenapa  ada apa ini ?” tanya Shophie. Aku pun menjelaskan dengan terbata-bata dan menangis kepada Sophie dan Ayu. Sementara Stela terlihat sangat muram karena perkataannya terhadap Nita terlalu kasar dan dia menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi sekarang, “Sekarang aku mengerti. Daripada kita menyalahkan diri sendiri, sebaiknya kita mulai mencari Nita,” sahut Shopie.

“Biasanya kalau dia sedang galau suka ada di taman kampus yang dekat gazebo,” sahut Ayu.

Akhirnya kami semua bergegas untuk mencari Nita, dan benar saja Nita  sedang berada di taman itu dengan pisau cutter di tangannya.

“Ngapain loe, Nit? Jauhin pisau di tangan lo. Gua dan  teman-teman lainnya nerima lho apa adanya kok,” Sophie menggeretak.

"Tapi aku malu kalau seperti ini, apa gunanya aku hidup,"  dengan sigapnya Stela mengambil pisau yang berada di tangan Sophie dan berhasil mengamankan pisau tersebut.

Stela langsung memeluknya dan meminta maaf, namun tiba-tiba darah keluar dari celana yang digunakan Nita. Dengan panik kami memanggil ambulans, dan langsung menuju ke rumah sakit. Setibanya di sana Nita langsung dibawa ke UGD. Selang satu jam, kami mendapat informasi bahwa Nita mengalami keguguran.

“Kalau ibunya bagaimana, Suster?” aku bertanya.

“Ibunya baik-baik saja, di sini siapa walinya? Ada beberapa masalah administrasi yang harus dibayar.”

Kami akhirnya sepakat untuk memberikan semua tabungan kami dari hasil berjualan di kampus untuk biaya perawatannya. Ini merupakan malam yang panjang bagi kami dan sekaligus peristiwa yang membuat kami semakin dewasa.

Setelah 3 hari Nita dirawat di Rumah Sakit, akhirnya kami pulang kekos-kosan kami. Semua orang termasuk Bu Jamilah bertanya dengan kondisi Nita, namun kami semua sepakat untuk tidak memberitahukan kejadian yang sebenarnya kepada yang lainnya.

Awalnya aku kebingungan mau jawab apa, tapi tiba-tiba Ayu berucap, “Kena tifus, Bu. Jadi kami semua nginep di RS. Kan keluarganya semua jauh di Padang.”

“Wah syukur kalau sudah bisa pulang, istirahat yang cukup ya, Neng Nita.”

“Nggeh, Bu,” Ayu menjawab dengan spontan.

“Bukan kamu Ayu, hah," suasana pun kembali mencair dan Nita dibawa segera ke kamarnya.

Setibanya di kamar Nita langsung meminta maaf dengan cucuran air mata, “Geng, maag ya atas apa yang selama ini aku lakukan.”

“Ah elu kayak ke siapa aja, kalau lu ada masalah apa-apa jangan dipendem sendiri, kita sama-sama orang rantau dan menimba ilmu di sini, terlebih kita sudah seperti saudara yang saling menjaga,” sahut Sophie.

“Iya betul,” kami menjawab dengan kompak.

Persahabatan yang tak akan terlupakan./Copyright pixabay.com

Hari demi hari berlalu keadaan Nita akhirnya berangsur pulih dan akhirnya kami bisa tersenyum kembali bersama-sama. Satu bulan berselang kami mendapatkan informasi bahwa lelaki yang telah menghamili Nita sudah ditangkap polisi karena kasus pelecehan seksual pada salah satu anak konglomerat, dan divonis 5 tahun penjara. Entah kenapa aku merasa lega mendengar hal itu, terlebih Nita yang telah menjadi salah satu korbannya. Kejadian ini sungguh membuat persahabatan kami semakin erat dan tahu apa arti persahabatan sesungguhnya  dengan lebih mengerti satu sama lain, lebih terbuka dan tidak saling egois adalah kunci utama persahabatan  kami.

Semester 8 telah tiba, dan kami disibukkan dengan tugas skripsi masing-masing. Di sela-sela kami menyusun skripsi kami membuka kios buah-buahan kecil sebagai usaha kami. Kami sangat bersyukur atas nikmat Tuhan yang diberikan pada kami karena dagangan kami cukup laris dan bisa dikatakan sangat membantu untuk semester terakhir kami yang mengeluarkan banyak uang. Ya, kami rasa kami sudah dikategorikan sebagai wanita yang mandiri dan cukup sukses.

Hingga akhirnya pada tahun  2017 di bulan September kami berhasil lulus bersama-sama dengan nilai yang cukup memuaskan, dan disaksikan dengan sorak sorai dan tangis haru keluarga kami. Aku tidak percaya mendapatkan sahabat yang luar biasa yang bisa menemaniku di suka maupun duka, tangis dan tawa bersama walaupun kami berasal dari suku yang berbeda-beda. Setelah melalui perundingan panjang akhirnya selepas kami wisuda, masih di kos-kosan yang sama dan pemilik kosan yang sama, kami sama-sama  merintis karier di Bandung dan memutuskan untuk tidak pulang ke kampung halaman masing-masing. Kami berharap suatu hari nanti dengan kekuatan persahabatan kami, kami bisa jadi orang sukses dan menjadi kebanggaan bagi keluarga kami.

(vem/nda)
Loading
Artikel Selanjutnya
4 Alasan Sentimental Sahabatmu Perlahan Jaga Jarak Saat Kamu Sudah Menikah
Artikel Selanjutnya
Suka Duka Tinggal di Asrama, Rasa Senasib Ciptakan Persahabatan yang Kuat