Sukses

Lifestyle

Di Dalam Persahabatan Antar Perempuan, Selalu Ada Persaingan?

Kisah sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Kocok-Kocok Ceria ini mungkin juga dialami oleh banyak perempuan lain. Soal persahabatan dan memaknainya sebagai ikatan untuk memberi lebih banyak bermanfaat.

***

Berbicara soal girls squad, sejujurnya dulu saya sempat berpikir, apakah persahabatan yang tulus antar sesama perempuan itu benar-benar ada?Tidakkah konon di dalam persahabatan antar perempuan akan selalu ada persaingan? Dan bukankah, karena otak perempuan lebih dominan pada otak emosi, maka konflik-konflik semacam baper, sensitif, dan bahkan yang paling menyakitkan... bermuka dua, cenderung lebih sering terjadi?Dalam tes kepribadian online yang pernah saya ikuti, saya termasuk ENFP-T personality, namun pernah juga hasilnya adalah INFP. Ya, kadang introvert, kadang juga ekstrovert. Akibatnya, tidak selalu saya bisa benar-benar menikmati momen ramai-ramai, ngobrol-ngobrol dengan banyak orang. Kadang saya juga lebih menikmati momen-momen sendirian, tenggelam dalam buku-buku, musik, menulis, atau menonton film.Namun saya memiliki girls squad, sekelompok teman dekat perempuan yang saya temui sepanjang masa sekolah saya sejak SMP hingga saat ini. Beberapa saya temui secara nyata, beberapa juga saya kenal melalui media virtual. Ketika fenomena kawan jadi lawan semakin banyak, khususnya antar perempuan, maka saya semakin terusik. Sebuah pertanyaan muncul di dalam benak saya, apakah tatanan dunia ini yang membuat perempuan terus menerus merasa perempuan lain adalah pesaingnya sehingga harus dimusnahkan? Dan apa yang membuat perempuan merasa kurang memiliki ruang untuk mengekspresikan emosinya? Sehingga sindir menyindir, bermuka dua, hingga tikung-menikung lebih jamak terjadi antar perempuan dibanding antar laki-laki?Wah, ini ngeri!

Persahabatan makin positif dengan membuat karya bersama./Copyright shutterstock.comDari sana kemudian saya berpikir untuk mengajak kawan-kawan perempuan saya melakukan suatu hal, untuk menjawab pertanyaan ini bersama-sama, yaitu dengan menulis buku tentang proses kehidupan perempuan sebagai manusia.Kami berdua belas berproses melalui virtual group, karena jarak tempat tinggal yang tidak memungkinkan untuk selalu bisa bertatap muka. Kami mendiskusikan aneka topik, saling berbagi kisah, hingga saling memberi masukan dalam karya-karya kami. Bertengkar? Salah paham? Pasti ada, apalagi proses berkarya akan selalu melibatkan ego, pikiran dan perasaan yang tidak main-main, dan ditambah kami jarang bertatap muka. Sejauh proses berkarya yang pernah saya jalani, proses yang satu inilah yang buat saya paling menantang.Hingga kini tidak terasa dua tahun sudah kami berproses, dan buku pertama kami diterima dengan baik oleh para pembaca yang mayoritas juga perempuan. Dan, di tahun yang kedua ini, kami melebarkan lingkaran dengan menggandeng lebih banyak lagi kawan perempuan untuk bergabung dalam "Labirin Perempuan" (demikian nama komunitas kami).Kecintaan kami pada dunia sastra dan menulis, meskipun berangkat dari latar belakang yang berbeda-beda, mulai dari dokter hewan, guru, ibu rumah tangga, pengusaha, seniman, dan lain sebagainya, nyatanya mampu menyatukan kami dalam visi yang sama. Lagipula, kami juga berharap di luar sana perempuan-perempuan akan lebih memfokuskan diri pada karya dan apa yang bisa diperbuat bersama untuk mengubah keadaan menjadi lebih baik, bukan terus menerus bersaing dan saling menghancurkan. Mengajak perempuan-perempuan untuk lebih positif menyikapi hidup, setidaknya pada radius terkecil dimulai dari diri sendiri. Dan lagi, kami pun percaya bahwa menulis adalah terapi yang baik untuk jiwa, agar lebih lembut dalam merasakan, lebih luas dalam berpikir, dan lebih intens berkomunikasi dengan diri sendiri."Female friendship that works are relationship in which women help each other belong to themselves" - Louise BernikowItulah kisah menarik saya dengan girls squad saya, sahabat-sahabat perempuan yang saya temui di sepanjang proses kehidupan saya. Kisah manis yang terjalin meskipun kami terbilang jarang melakukan hal-hal yang asyik seperti arisan dan nongkrong bareng dikarenakan oleh jarak. Kisah manis persahabatan yang disatukan lewat pertanyaan yang sama, ke dalam sebuah karya untuk lebih banyak lagi perempuan di luar sana.Kalau kamu?

(vem/nda)

Loading
Artikel Selanjutnya
Salah Satu Temanku Hamil di Luar Nikah dan Nyaris Bunuh Diri
Artikel Selanjutnya
4 Alasan Sentimental Sahabatmu Perlahan Jaga Jarak Saat Kamu Sudah Menikah